Vin duduk di balkon kamar vila, menatap langit senja yang perlahan gelap. Angin malam menyusup, membawa sejuk yang menembus kulitnya, tapi tidak mampu menenangkan badai yang bergemuruh di dadanya. “Suamiku…” Suara itu membuat Vin menoleh. Hana duduk tak jauh darinya, tubuhnya tegak, tangan terkepal di pangkuan. Ia tidak melihat apa pun, tapi Vin bisa merasakan ketegangan yang memancar dari getaran tubuhnya, dari cara napasnya tersengal. Vin menundukkan kepala lagi, menelan rasa miris yang menyesakkan. “Ya…” jawabnya pelan, hampir tak terdengar. Tanpa bisa ia kendalikan, kata itu keluar lagi: “Maaf.” “Untuk apa kau meminta maaf? Apa yang kau lakukan?” suara Hana lembut, tapi ada ketegangan yang jelas terasa. Dia menajamkan telinganya, mencoba merasakan maksud di balik nada Vin. “Maaf

