Yumna begitu bahagia. Pasalnya hari ini, calon suami beserta keluarganya akan datang melamar gadis itu. Ia sudah berdandan dengan sangat cantik. Senyum merekah, tidak pernah luput dari bibir Yumna. Berbeda dengan Yumna, Rania malah semakin berdebar dan semakin dihantui rasa bersalah. Ia melihat putrinya dari balik pintu kamar Yumna yang tetap terbuka. Rania tidak mengerti apa yang harus ia lakukan kini. Rasa bersalah itu selalu saja menggerogoti jiwanya. “Ra, kenapa kamu malah berdiri di sini? Apa semua makanan untuk menyambut calon besan kita sudah siap?” Adam tiba-tiba mengejutkan lamunan Rania. “He—eh, abang ... aku hanya terharu melihat putri kita. Ternyata ia sudah dewasa. Sebentar lagi ia akan pergi bersama laki-laki pilihannya.” Rania berbohong. Adam mendekap Rania dan membelai

