JANGAN BAWA ANAK KECIL MENDAKI GUNUNG

955 Kata
part 2 Mengetahui hal itu, aku pun seketika meraih tubuh anakku dan seketika memeluknya dari belakang. "Kamu, ngomong sama siapa "tanyaku. "Sama anak ni yah, "ucap anakku sambil menunjuk tepat ke arah depan tendaku yang saat itu memang tidak ada apa apa selain sepatu dan sendalku. "Anak mana sih, gak ada siapa siapa, ayo masuk tenda saja, ini sudah magrib lho, "ucapku sambil kembali menutup resleting pintu tendaku. Dan anehnya, belum selesai aku berbicara dengan anakku, waktu itu tiba tiba istriku bangun dari tidurnya dengan keadaan yang terlihat sangat terkejut tidak karuan. "Astaghfirullah" teriak istriku sambil bangun dari tidurnya "Kamu kenapa ma" tanyaku "Lisa mana lisa" jawabnya bingung. "La ini lisa, kamu kenapa sih" tanyaku heran. "Aku barusan mimpi aneh mas, didalam mimpiku, aku seperti lihat lisa dibawa wanita tua pergi meninggalkan kita" rintih istriku. "Wanita tua?,,siapa,, kamu kenal? sahut ku. "Enggak kenal sih mas,, pokoknya tua banget, mirip sama mbah ely yang tinggal di sebelah rumah kita" jawab istriku jelas. "Tadi lisa juga main sama nenek nenek jelek disini, waktu ayah sama mama lagi tidur, nenek jelek tadi masuk ke tenda ini,,, mainan sama lisa" imbuh anakku polos. Mendengar hal itu, aku pun seketika terkejut bukan main dengan seketika duduk memegang tangan istriku yang saat itu masih gemetar kebingungan. "Tenang ya ma, malam ini aku gak tidur, aku jagain anak kita," ucapku menenangkan istriku. Dan akhirnya, setelah obrolan malam itu selesai, akupun memutuskan untuk tidak tidur demi memastikan keadaan anak dan istriku tetap baik baik saja. Waktu demi waktu, malam itu kuhabiskan dengan duduk dan berjaga di depan tenda ku sendiri dengan sesekali aku mengintip ke arah dalam tendaku, yang saat itu terlihat anak dan istriku yang sedang tertidur lelap. Dan singkat cerita, akhirnya waktu pun berlalu begitu saja. Malam itu waktu sudah menunjukkan pukul 23:00 malam. Keadaan puncak yang sebelumnya sepi pun, waktu itu terlihat ramai dengan adanya beberapa tenda pendaki lain yang juga sudah terlihat berdiri saling berjauhan. Dan disela sela aku masih duduk sendirian di depan tendaku, malam itu tiba tiba aku di hampiri oleh pendaki lain yang terlihat sedang membutuhkan bantuan. "Permisi mas, mas boleh pinjam korek apinya? "tanya pendaki lain tersebut. "Oh iya mas.. boleh boleh, saya bawa korek api banyak kok hehehe. sebentar ya, saya ambilkan di dalam tenda "ucapku sambil membuka resleting pintu utama tendaku. Namun anehnya, ketika aku baru saja membuka tendaku separuh, malam itu aku tiba tiba mendengar suara pendaki lain tersebut terlihat terkejut karena sepertinya dia melihat sesuatu yang ada di dalam tendaku. "Astaghfirullah "teriak pendaki tersebut sambil melihat kearah dalam tendaku yang saat itu memang terlihat anakku dan istriku tertidur lelap. Mendengar hal itu, aku pun kembali menoleh ke arah pendaki tersebut dengan tatapan yang sangat keheranan. Bagaimana tidak, malam itu aku melihat expresi pendaki tersebut sangat terkejut dengan expresi matanya yaang terlihat melotot seolah tidak percaya dengan apa yang ia lihat. "Mas,, mas kenapa?"tanyaku heran. Tapi sayangnya, bukannya menjawab pertanyaan ku, malam itu pendaki tersebut tiba tiba berdiri dan pergi meninggalkanku dengan tidak sedikit pun menghiraukan aku yang sedang mengambilkan korek api untuk nya. "Loh kok malah pergi, "fikirku dalam hati sambil melihat pendaki tersebut berjalan pergi dengan langkah yang terlihat terburu buru. Dan karena aku tidak mau terlalu memikirkan hal itu, akhirnya akupun tidak memperdulikan pendaki tersebut dan kembali duduk di depan tendaku. Dan seiring berjalannya waktu, kini suasana puncak semakin lama semakin sepi. Lampu tenda pendaki lain yang satu persatu mulai mati ditambah dengan suara obrolan pendaki lain yang juga terdengar sudah mulai berhenti, seolah olah sudah menandakan jika waktu di malam itu, sudah semakin larut dan sudah semakin mendekati pagi. Dan disaat itulah, akhirnya semuanya benar benar terjadi. Malam itu, waktu sudah menunjukkan pukul 02:30 pagi, perutku yang sudah mulai keroncongan membuat aku saat itu seketika menyalakan kompor gasku agar aku bisa membuat makanan. Namun sayangnya, ketika aku sedang asyik membuat makan malamku, tiba tiba aku mencium aroma bunga sedap malam yang tercium kuat seperti berasal tidak jauh dari tempat duduk ku malam itu. Dan tidak berhenti di situ saja, disela sela aku yang masih mencium aroma bunga sedap malam tersebut, malam itu aku tiba tiba juga mendengar suara gemerincing lonceng yang terdengar jelas entah dari mana asalnya. suara tersebut terdengar jelas didekatku dan seolah sedang memutar disekitar tempat tendaku berdiri malam itu. Mengetahui hal itu, jantungku pun seketika berdetak kencang dengan diiringi tubuh yang juga tidak bergetar karuan. Rasa lapar yang sebelumnya terasa menyiksapun, malam itu seketika hilang karena rasa takut yang saat itu sudah sangat kurasakan. Dan puncaknya, ditengah tengah aku masih melihat keadaan, tiba tiba pandanganku teralihkan ke salah satu pohon yang tidak jauh dari tempat ku duduk saat itu. Di pohon tersebut, dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat ada sesosok wanita dengan wajah yang terlihat sangatlah menakutkan. Wajahnya keriput dengan rambutnya yang terlihat juga memanjang sudah cukup membuat jantungku malam itu berdetak dengan sangat kencang. "Ya Allah, ya Allah, ya Allah, "ucapku tegang. Dan tidak hanya itu, bersamaan dengan aku melihat sosok wanita tersebut, malam itu aku juga mendengar suara anakku menangis menjerit tidak karuan. "Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa" Mendengar hal itu, aku pun seketika masuk ke dalam tendaku, dan seketika menggendong anakku yang saat itu sudah terlihat menangis tersedu sedu. Istriku yang sebelumnya tertidur lelap pun, malam itu juga seketika bangun sambil terlihat ikut kebingungan melihat anak ku yang tiba tiba menangis tidak karuan. "Bahkan, tubuh anakku malam itu juga tiba tiba panas dengan diiringi keribgat yang tidak henti hentinya keluar bercucuran. Mengetahui hal itu, aku pun terus menangkan anakku sembari mengelus elus rambut nya dengan perasaan yang juga sudah kebingungan. Dan anehnya, ditengah tengah anakku yang masih menangis tersedu sedu, dari dalam tenda, malam itu aku kembali mencium aroma bunga sedap malam yang diiringi dengan suara gemerincing lonceng yang saat itu juga terdengar dengan sangat jelas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN