Lee berbaring di atas sofa ruang tengah rumah Joon, mata pria itu menerawang tanpa tujuan, kerinduan seakan menyiksa dirinya, ia tidak mendapatan ciuman, pelukan dan pukulan dari Anna, dunia Lee seakan hampa tak berwarna. Joon memperhatikan sahabat sekaligus bosnya yang tidak bersemangat menjalani hari-hari. “Lee, kenapa kamu seperti ini?” Joon duduk di depan Lee. “Gadis itu tidak bisa aku lupakan, ia terus menyiksa diriku.” Lee memejamkan matanya. “Kamu sangat mencintai Anna.” Joon memperhatikan sahabatnya. “Aku berusaha melupakan dirinya tetapi tidak bisa.” Lee duduk, ia melihat layar ponsel berharap ada pesan dan panggilan dari istrinya. “Sudah berapa lama kalian tidak bertemu?” tanya Joon. “Aku tidak tahu, besok aku harus pergi ke Singapura.” Lee menatap Joon.

