Boram merutuki kebodohannya. Andai saja dia tadi pulang lebih cepat tanpa menunggu Samudra maka dia tidak akan terjebak hujan seperti ini dalam perjalanan pulang ke rumah dan harus berakhir berteduh di emperan toko yang tutup, di samping cowok yang sedang menggosokkan kedua telapak tangannya di tangan Boram yang wajahnya sudah bersemu merah sejak mereka berdiri bersisian ditambah jantungnya yang kembali diskoan. Kenapa efeknya harus selalu seperti ini. Perutnya bergejolak seakan ada yang menggelitik dan dia malu sekedar untuk mengobrol dan menolehkan kepalanya ke samping sedangkan cowok itu terlihat bersikap santai dan yang pasti bahagia. "Hujannya sampai sore aja nggak apa-apa," kekeh Sam. "Biar kita bisa berdua dulu seperti ini sementara." "Jangan dong!!" Boram menoleh. "Kenapa?"

