Episode 8

925 Kata
"Kau sudah pulang? Aku sudah siapkan makan malam untuk kita," seru Arin saat Ethan baru saja memasuki penthouse nya. Arin sengaja menunggu kedatangan Ethan, walau malam semakin larut. Ethan masih berdiri di depan Arin dengan tatapan yang tak terbaca. Arin berusaha menampilkan senyumannya tetapi Ethan menatapnya dengan tajam seakan membencinya. Ethan juga menyisir tubuh Arin seakan sedang meneliti tubuh Arin. Setelah cukup meneliti tubuh Arin, dengan tanpa seucap kata, Ethan berjalan melewati Arin begitu saja. "Ethan, ah!" Arin tersentak kaget saat ia memegang lengan Ethan, Ethan langsung menepisnya dan berlalu pergi meninggalkan Arin begitu saja. 'Kenapa? Apa cinta itu kini sudah tak ada lagi?' Batin Arin. Arin memilih pergi keluar rumah untuk menenangkan dirinya. Dan disinilah dia sekarang, duduk termenung di depan meja bar dengan segelas wine di depannya. Di sisi lain Ethan kembali turun dari kamarnya dan sedikit bingung saat suasana penthouse nya sepi. Ia berjalan ke arah tempat makan dan ternyata kosong hanya makanan utuh di atas meja. Makanan yang di masak Arin dan merupakan makanan kesukaannya. "Arin!" panggil Ethan kembali berjalan menyusuri setiap ruangan termasuk kamar Rachel untuk mencari keberadaan Arin, tetapi hasilnya nihil. "Kemana dia.” Ethan mencoba menghubungi nomor Arin tetapi tak di angkatnya. Berkali-kali Ethan mencoba menghubunginya tetapi hasilnya tetap saja nihil. "Sial!" umpatnya merasa kesal bercampur khawatir. "Kemana wanita itu? Dia pikir dia bisa seenaknya pergi dari rumah ini!" Ethan beranjak mengambil kunci mobilnya juga jaketnya dan pergi keluar rumah mencari Arin menggunakan gps dari handphone wanita itu. Di dalam club, Arin menangis memandangi foto dirinya dan Ethan di layar handphonenya. Sesekali ia meneguk minumannya dan berusaha menelannya bulat-bulat karena rasa pahit dan panas yang menyerang kerongkongannya. Arin bukanlah seorang wanita pecandu alkohol. Dia bahkan tak pernah meminum alkohol, tetapi entah pikiran dari mana. Dia memaksakan diri untuk meneguk minuman pahit itu hanya untuk mengurangi rasa sesak dan sakit di dalam hati. "Kenapa pria mudah sekali melupakan," ucapnya seraya menangkup kepalanya dengan sebelah tangannya. "Arin!" Seruan itu tak menggubris Arin yang fokus meneguk minuman dari gelasnya. "Arinka cukup!" Arin merengut kesal saat gelas miliknya di rebut paksa oleh Ethan yang baru saja datang. "Kau?" seru Arin dengan matanya yang sudah terlihat seperti yang mengantuk. "Benarkah ini kau? Kau datang untuk menjemputku?" tanya Arin diiringi senyumannya. Ethan tau kalau Arin sudah sangat mabuk. Ia langsung memangku tubuh Arin dan membawanya pergi meninggalkan tempat itu. Ethan mendudukkan Arin di kursi penumpang, tetapi ia tak bisa menarik tubuhnya kembali karena Arin mencengkram kerah mantel yang ia gunakan. "Kenapa kau harus berubah Ethan? Kau tau aku sangat mencintai kamu. Aku tidak ingin kamu berubah menjadi membenciku." Ethan mampu melihat air mata berlinang dari pelupuk mata Arin. "Jangan membenciku, aku tak sanggup melihat kebencian di matamu, Ethan. Aku tidak sanggup lagi melihatnya. Sebaiknya aku mati saja." "Lepaskan aku, Arin!" seru Ethan penuh penekanan dan berusaha melepaskan diri tetapi Arin semakin menarik kerah mantel Ethan hingga wajah mereka berdekatan bahkan hidung mereka hampir bersentuhan. "Aku mohon jangan berubah." Ethan mematung kaku menatap mata merah Arin yang tampak terluka hingga air matanya menetes. "Aku mencintaimu, Ethan." Ethan masih mematung di tempatnya hingga dahi Arin menyentuh bibirnya dan cengkraman Arin mengendur. Ethan menjauhkan dirinya dan memasangkan seatbelt ke tubuh Arin yang kini sudah tertidur pulas. Ia bergegas memasuki kursi pengemudi dan membawa mobilnya meninggalkan tempat itu. Sesampainya di penthouse, Ethan memangku tubuh Arin ala bridal style ke kamar mereka dan merebahkan tubuh Arin di atas ranjang. Ethan membantu melepaskan sepatu boots Arin lalu melepaskan mantel yang di gunakan Arin. "Berapa banyak kau minum?" keluh Ethan saat bau alkohol begitu menyengat. Ethan juga membantu melepaskan kaos lengan panjang yang di gunakan Arin hingga menyisakan bra, lalu melepaskan celana jeans Arin hingga menyisakan cd dengan warna senada. Ethan membeku di tempatnya melihat kondisi Arin di depannya. Seketika celananya mendadak sesak. "Oh sial!" umpatnya. Dia tak mungkin melakukan persatuan dalam kondisi Arin yang tak sadarkan diri. Ethan akhirnya hanya memilih menyelimuti tubuh Arin dan berlalu pergi. ΩΩΩ Arin mengerjapkan matanya berkali-kali saat sinar matahari menerobos masuk ke celah kamarnya. Ia merasa pinggangnya tertimpa sesuatu yang berat. Dengan susah payah dan kepala yang pening, ia membuka matanya dan ia melihat sebuah tangan kekar melingkar indah di perutnya. Dengan perasaan tak menentu dan beribu harapan, ia segera menoleh ke sampingnya dan ternyata ia berhadapan dengan wajah tampan Ethan. Ia tersenyum bahagia dan berusaha merubah posisinya tanpa mengganggu Ethan dan melepaskan pelukannya. Arin masih diam memperhatikan wajah Ethan di depannya. Tangannya terangkat dan telunjuknya menyentuh dahi Ethan dan perlahan menggerakkannya menelusuri wajah Ethan. Dari dahi turun ke alisnya yang hitam dan tebal lalu turun ke hidung mancungnya. Tangannya semakin turun hingga bibir merah Ethan dan berdiam di sana cukup lama. Arin kembali menggerakan telunjuknya untuk menelusuri bibir Ethan tetapi pergelangan tangannya di cekal tangan kekar. Mata Ethan terbuka lebar hingga tatapan mereka beradu satu sama lain. "Ssshh!" Arin meringis karena cengkraman Ethan di tangannya semakin kencang dan menyakitinya. "Et-" belum sempat menyelesaikan ucapannya, Ethan menghentakkan tangan Arin dan bangun dari rebahannya  begitu saja, lalu meninggalkan Arin yang terdiam kaku sendirian di atas ranjang. Arin menatap memar kemerahan di pergelangan tangannya, ia mengusapnya pelan seraya mengusap air mata yang begitu saja luruh dari sudut matanya. Kenapa kau selalu menyakitiku Ethan? ΩΩΩ Seperti biasa Arin sudah selesai menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Ia menengadahkan kepalanya saat mendengar langkah kaki berat dan tegas milik suaminya. Segera ia berjalan menghampiri Ethan yang hendak berlalu menuju pintu keluar. "Sarapannya sudah siap," serunya diiringi senyuman lebar saat Ethan berdiri di depannya. "Aku tidak lapar. Siang nanti Rachel akan kembali ke rumah ini, dan aku ingin kita berpura-pura rukun dan tak ada masalah di depannya. Jangan sampai dia mengetahui siapa kamu sebenarnya." Setelah mengatakan itu Ethan berlalu pergi tanpa ingin mendengarkan jawaban Arin. "Padahal aku sudah membuatkan pancake kesukaan kamu," gumamnya. Sampai kapan Ethan akan seperti ini, tak menganggapnya sama sekali. ΩΩΩ  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN