UGD

1950 Kata
      Hari masih sangat pagi dan matahari masih tampak malu malu untuk terbit diufuk timur. Baskoro tampak merenung dimeja makan dengan segelas s**u dan roti tawar yag sudah dia olesi serikaya. Dia menatap hambar roti yang sudah tersaji dihadapannya dan sedikit susah untuk bernapas. Berkali kali dia menarik napas dengan kasar dan membuangnya dengan berat. Dia sering memikirkan bagaimana caranya untuk bisa berdamai dengan hatinya sendiri tapi tak kunjung menemukan solusi apapun. Dia berusaha untuk menunjukkan betapa dia sangat mencintai putri semata wayangnya itu. Tapi entah mengapa begitu sulit baginya bahkan sekedar menatap wajah Bella yang terlihat seperti Poto copy mantan istrinya itu.    "Pagi pak" Baskoro sedikit dikagetkan dengan bik Inah yang sudah berdiri tak jauh darinya. Dia menghela napasnya dan menatap Inah sebagai sahutannya.    "Maaf pak, saya ngagetin bapak" ucap bik Inah sedikit tidak enak hati mengganggunya.    "Ada apa bik?" Tanyanya melihat wajah Inah yang tampak kawatir seakan telah terjadi sesuatu.    "Non Bella belum juga keluar dari kamar pak, saya juga sudah coba ketok pintu kamarnya berkali kali" jawab Inah dengan wajah semakin kawatir. Baskoro mengalihkan pandangannya dan melirik kearah tangga yang rumah itu tak jauh dari meja makan.    "Coba ambil kunci cadangan kamar Bella bik" ucapnya disertai rasa kawatir diwajahnya.    "Baik pak" jawab Inah dan langsung meninggalkannya.    "Pagi sayang" Sara kemudian muncul bersamaan dengan perginya Inah. Seperti biasa dia selalu tampil sexy dengan model pakaian kurang bahan yang seakan sengaja dia pakai untuk memamerkan lekuk tubuhnya.    "Berapa kali saya harus bilang ubah cara berpakaian kamu" ucap Baskoro sambil menggeleng.    "Iiiihhh, kamu harusnya seneng dong liat aku begini" ucapnya dengan nada manjanya.    "Saya lebih suka lalu kamu memakai pakaian yang lebih sopan dan tertutup" ucap Baskoro masih berusaha santai.    "Ngga mau ah, yang ada aku kelihatan tua dan ketinggalan jaman" ucapnya menarik sebuah kursi dan duduk disebelah Baskoro.    "Semua orang ngeliatin kamu tau ga" ucap Baskoro menatap sedikit tajam kearah Sara.    "Kamu ni ya pagi pagi udah ngajak berantem. Lagian kenapa sih kalau orang liat" jawabnya ketus dan jelas sekali kalau dia kesal terhadap penilaian Baskoro. Dia memanyunkan bibirnya dan menuang s**u digelasnya kemudian mengeluarkan satu lembar roti dan membuka selai kacang didepannya.    "Kalau kamu ngga berubah saya ngga tau masih bisa sama kamu atau ngga" jawab Baskoro dan langsung bediri dari duduknya.    "Kamu tau kan akibatnya apa?" Ucap Sara santai sambil mengoles roti tawar ditangannya dengan selai kacang. Baskoro yang sudah berdiri melangkah mendekatinya dan memutar kursinya dengan kasar untuk berhadapan dengannya.    "Ancaman kamu tidak akan berlaku lagi buat saya" jawab Baskoro dengan tatapan tajam.    "Yaudah, kita lihat aja nanti" jawab Sara enteng dan melipat rotinya yang sudah dipenuhi selai. Dengan santai dia memasukkan makanan itu kemulutnya dan mengunyahnya seakan itu terasa sangat lezat.    "Ini pak," Inah memberikan sebuah kunci kepada Baskoro dan memperhatikan Sara yang makan dengan sangat santai.    "Biar saya cek dulu bik" ucap Baskoro dan mengambil kunci dari tangan bik Inah.    "Buatkan saya salad buah" Ucap Sara tanpa melirik bik Inah sedikitpun. Bik Inah hanya menggeleng dan menurut. Tok tok tok    "Bella, ini papa. Kamu sudah bangun belum?" Ucap Baskoro dari depan pintu kamar Bella. Tidak ada respon dan sahutan dari Bella. Baskoro kembali mengetuknya dan melirik jam tangannya.    "Bella ini sudah hampir setengah tujuh. Apa kamu ngga sekolah?" Ucap Baskoro dengan sedikit menaikkan nada suaranya. Barangkali Bella masih tidur, itulah pikiran positif yang bisa dia pikirkan. Baskoro akhirnya membuka pintunya dengan kunci cadangan karna Bella tidak kunjung merespon. Baskoro segera menghampiri anak sematawayangnya itu saat melihatnya masih terbaring ditempat tidur. Baskoro sempat melirik makanan yang kemarin diantarkan oleh Inah belum juga disentuh oleh Bella. Baskoro kembali menghela napas yang terasa sangat berat itu dan mengambil posisi duduk ditepi ranjang Bella.     "Kalau kamu ngambek itu wajar. Tapi mogok makan itu hanya akan menyiksa diri kamu sendiri" ucapnya berharap Bella mendengarnya. Dia melirik Bella masih terbaring dengan mata terpejam dan tidak ada respon disana. Baskoro hanya bisa menatap lirih pada putrinya itu.    "Apa kamu semarah itu sampai mengabaikan papa?" Tanya Baskoro masih berharap Bella akan merespon.    "Baiklah, papa tidak akan mengganggumu. Tidak masalah kalau kamu bolos sekolah hari ini. Tapi kamu harus makan" ucap Baskoro masih menatapnya. Tapi Baskoro seakan berbicara dengan batu karna Bella tak kunjung memberi respon.     Baskoro mengelus lembut dipucuk kepala Bella sebagai perwakilan rasa ingin berdamai darinya. Sungguh terkejutnya Baskoro saat tangannya tiba dikening Bella. Dia merasakan suhu panas yang sangat tinggi dan disaat yang sama dia menyadari kalau Bella bukan mogok makan melainkan demam. Tidak ada lagi kata yang bisa dia ucapkan selain memindahkan tangannya menuju wajah Bella dan mendapati suhu yang sama panas. Buru buru dia menarik selimut penutup tubuh Bella dan menggendongnya dengan langkah berlari. Inah yang sedang membuat salad untuk Sara mendengar suara langkah kaki berlari dari kamar Bella segera menyusulnya.    "Ada apa pak?" Tanya Inah melihat Baskoro berlari menggendong Bella.    "Ambilkan kunci mobil saya dimeja makan, badan Bella panas saya akan membawanya kerumah sakit" ucap Baskoro seraya berjalan.    "Baik pak" ucap Inah langsung berlari menuruti perintah Baskoro.    "Eh eh eh, mau kemana kamu? Salad saya mana?" Ucap Sara melihat Inah buru buru. Inah tidak menjawab dia mengambil kunci dengan ekspresi kesal terhadap Sara.    "Apa? Kok kamu ngeliatin saya begitu. Disuruh bikin salad aja lama banget"  Ucap Sara kesal.    "Maaf ya, saya dibayar sama pak Baskoro dan Bella bukan kamu. Jadi jangan bertingkah sebelum kamu jadi nyonya disini" jadi istri sahnya bapak, dan kalo itu terjadipun saya lebih baik berhenti jadi asisten dirumah ini" ucap Inah yang memang sudah gerah dengan Sara.    "Kamu mau dipecat?" Ucap Sara masih dengan gaya bicara sombongnya.    "Bik, mana kuncinya" terdengar teriakan Baskoro yang menunggu kunci dari Inah. Inah hanya mendengus kesal dan tidak menanggapi Sara. Dia berjalan dengan langkah cepat meninggalkan Sara.    "Paling juga cari perhatian, lebay banget pake acara kedokter segala" ucap Sara sedikit bergumam. Dia kemudian melirik kearah pintu saat mendengar suara mobil dinyalakan.    "Mati aja sekalian, ngerepotin banget" gerutunya saat mobil Baskoro sudah keluar dari pekarangan rumah.    "Cepat sedikit pak" ucap Baskoro begitu kawatir dengan Bella. Pak Robin pun mempercepat laju mobilnya. Bik Inah yang ikut bersama mereka tak kalah khawatirnya dan bahkan sampai menitikkan airmatanya. Untungnya perjalanan menuju rumah sakit berjalan lancar tanpa macet. Kota Jakarta yang biasanya dipadati oleh kendaraan dijam sepagi ini tampaknya bersahabat. Begitu tiba didepan UGD rumah sakit Baskoro kembali menggendong putrinya itu sambil berlari. Beberapa perawat yang melihatnya segera berlari menghampiri mereka dengan bed dorong.    "Tolong sus, anak saya sakit" ucap Baskoro begitu bertemu dengan para perawat itu.    "Taro disini pak, kita bawa kedalam" jawab salah seorang dari mereka. Segera Baskoro menaruhnya dan mengikuti perawat yang berlari membawa Bella menuju ruang UGD.    "Kalian bawa kedalam saya panggilkan dokter Calvin." Ucap seorang perawat pria yang ada diantara mereka. Yang lain hanya mengangguk masih sambil berlari mendorong Bella.    "Bapak dan ibu tunggu disini" ucap salah satu perawat yang lain setelah mereka tiba didepan UGD. Tak lama kemudian perawat yang tadi memanggil dokter kembali bersama dokter yang dia maksudkan.    "Dokter tolong anak saya" ucap Baskoro yang kini sudah menangis.    "Baik pak, kami akan melakukan yang terbaik, tenanglah" ucap dokter itu sambil menyentuh dilengan Baskoro kemudian memasuki UGD dengan langkah cepat.    "Ya Tuhan. Lindungilah anakku" ucap Baskoro disela tangisnya.    "Pak, duduk dulu" ucap Inah sambil menarik Baskoro kearah bangku kosong diruang tunggu.    "Badannya panas sekali bik, dia bahkan ga sadar" ucap Baskoro membiarkan airmatanya berjatuhan.    "Kita berdoa aja pak, semoga mba Bella baik baik aja" jawab Inah berusaha menenangkan Baskoro. ******    "Dewi berangkat ya ma" ucap Dewi sambil mencium tangan mamanya yang saat itu sudah berdiri didepan pintu keluar. Mamanya hanya mengangguk dan mengecup lembut dikening Dewi.    "Bu, temannya mba Dewi ada di depan" ucap pak satpam membuat Dewi dan Dania melirik bersamaan.    "Mama pikir Bella" ucap Dania begitu melihat Dimas yang ada disana.    "Kak Dimas ma" ucap Dewi.    "Yauda kamu samperin dulu sana" ucap Dania dan Dewi pun meninggalkannya. Dania memperhatikan mereka dengan seksama.    "Kak Dimas? Ada apa pagi pagi kesini?" Ucap Dewi.    "Sesuai perjanjian" jawab Dimas santai.    "Perjanjian apa?" Tanya Dewi mengerutkan kening.    "Masak kamu lupa, kan baru kemarin" ucap Dimas tersenyum. Dewi kemudian mengingat perlakuan Dimas dan semua yang diucapkan Dimas. Sontak saja dia kikuk dan malu sendiri. Dewi bahkan tidak berpikir kalau Dimas akan benar benar menjemputnya seperti itu.    "Jadi kakak serius?" Tanya Dewi dengan nada rendah.    "Masak becanda?" Jawab Dimas santai.    "Ini, saya juga bawa helm untuk kamu" ucap Dimas sambil menyerahkan helm berwarna senada dengannya.    "Dewi ijin kemama dulu ya kak" ucapnya sambil menunjuk mamanya yang masih berdiri didepan pintu.    "Ayok." Ucap Dimas ikut turun dari motornya.    "Ha? Ng nga, nga usah. Biar Dewi aja" ucap Dewi langsung pergi. Tapi seperti yang kita tau bahwa Dimas itu bukan pengecut apalagi pecundang. Sikap gentle nya itu selalu menemaninya setiap saat. Dia menyusul Dewi dan menemui Dania.    "Ma, Dewi bisa pergi dengan kak Dimas ngga?" Tanya Dewi. Dania justru melihat kearah Dimas yang sudah berdiri dibelakang Dewi.    "Pagi Tante, Dimas minta ijin Tante untuk jemput Dewi berangkat bareng boleh ngga Tante?"  Tanyanya dengan wajah begitu sopan dan seketika mendapat kepercayaan penuh dari Dania. Dania hanya mengangguk dan tersenyum.     "Makasih Tante" ucap Dimas     "Sama sama. Tapi ingat hati hati dan jangan aneh aneh!"  ucap Dania tegas.    "Siap Tante" jawab Dimas diikuti senyum bahagia. Dewi juga ikut tersenyum melihat mereka.    "Yauda, kita berangkat ya Tante. Takut telat" ucap Dimas dan Dania hanya mengangguk.    "Da mama" ucap Dewi pelan dengan ekspresi kegirangan. Dania hanya melambaikan tangannya dan tertawa kecil melihat ekspresi putrinya itu.    "Dewi kenal sama Dimas ma?" Tanya suaminya yang sudah berdiri dibelakangnya sambil memperhatikan Dewi menaiki motor Dimas.    "Papa kenal sama Dimas?" Tanyanya Dania balik dengan sedikit kaget.    "Mama gimana sih, dia itu kan adiknya Dino. Anaknya pak Danu. Jawab suaminya.    "Pak Danu Herlambang?" Tanya Dania dengan mata terbelalak.    "Ia ma, pemilik hotel Lion Star" jawab suaminya.    "Papa serius?" Ucap Dania sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.    "Mama gimana sih, padahal uda belasan tahun restoran kita bekerja sama dengan mereka" jawabnya heran melihat istrinya itu.    "Mama bahkan ga tau kalau Dimas itu anaknya pak Danu dan Dewi satu sekolah lo pa dengan Dimas pa" ucap Dania masih kaget dan belum percaya.    "Makanya kalau keacara itu jangan cuman nyariin ibu ibu buat arisan terus" ucap suaminya lalu pergi.     "Iiihh, papa" ucapnya memanyunkan bibir dan menyusul suaminya masuk kedalam rumah. ******    "Bagaimana keadaan anak saya dokter?" Tanya Baskoro begitu melihat dokter keluar dari ruang UGD.    "Anak bapak baik baik saja. Tidak ada yang perlu dikawatirkan" jawab dokter sambil mengelus lengan Baskoro.    "Syukurlah, tapi kenapa bisa dia tidak sadarkan diri?" Tanya Baskoro     "Suhu badannya terlalu panas dan itu membuatnya lemas, dan itu sering terjadi dengan suhu badan yang terlalu tinggi. Bahkan ada yang step" ucap dokter membuat Baskoro dan Inah mengangguk meski tidak begitu paham.    "Setelah ini anak bapak akan dipindahkan keruang rawat. Bapak bisa urus administrasinya" ucap dokter lalu pergi.    "Dok, terimakasih atas bantuannya" ucap Baskoro menghentikan langkah Dokter tersebut.    "Kalau ada apa apa bapak bisa panggil saya. Saya dr Calvin" ucapnya.    "Baik dok, sekali lagi terimakasih" ucap Baskoro sambil menyalami dr Calvin. Dr Calvin kemudian menatap lama Baskoro dengan sedikit berpikir.    "Sepertinya wajah bapak ini tidak asing bagi saya" ucap dr Calvin masih memperhatikan Baskoro.    "Saya?" Ucap Baskoro sambil menunjuk dirinya.    "Apa mungkin seseorang yang saya kenal mirip dengan bapak... Maaf nama bapak siapa?" Tanyanya.    "Saya Baskoro" jawabnya.    "Baskoro? Alumni SMA Harapan bangsa kan?" Ucapnya.    "Ia betul, kok dokter bisa tau" jawab Baskoro dengan wajah kaget.     "Saya Calvin Suhendar" jawab dr. Calvin dengan ekspresi senang.    "Apa? Kamu?" Baskoro memperhatikan tubuh pria didepannya dengan seksama.    "Ia saya, saya dulu gendut dan doyan makan. Saya sering di-bully dan kamu selalu membela saya" jawabnya.    "Wah, kamu berubah derastis" jawab Baskoro. Mereka kemudian berpelukan seketika dan saling tertawa menatap satu sama lain.    "Kita ngobrol diruangan saya aja. Ayo" ajak dr, Calvin dan Baskoro menurut. Inah kemudian duduk didepan UGD dan menunggu sendirian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN