Sarapan pagi di meja makan keluarga Albert terlihat hening. Hanya suara pertemuan sendok dengan piring yang terbuat dari keramik yang terkadang terdengar saling bersahutan. Setelah kedatangan polisi satu minggu yang lalu, kemarin polisi kembali datang mencari tau keberadaan Sesel yang tak lagi terlihat di manapun. Selain kawatir dengan kasus yang menimpanya, tentu saja mereka juga kawatir dengan keberadaan Sesel. Apalagi semua anggota kelurga tau kalau dia tidak punya tempat kembali selain mereka. "Papa berangkat duluan ya, kalian selesaikan sarapannya." Albert mengangkat wajah menatap ayahnya. Dia melihat potongan sandwich yang merupakan sarapan ayahnya belum habis. Bahkan yang tersisa di piring masih lebih banyak daripada yang memasuki perutnya. "Kok sarapannya ngga dihabisin, pa?" ta

