bagian 9 - ketahuan.

1096 Kata
Sentuhan Anitta, kini bagai candu untukku. Sesuatu yang tidak bisa aku dapetkan dari Fiona. Anitta tau apa yang aku butuhkan, mengerti apa yang aku inginkan. Hubungan kami bahkan semakin lengket, hampir setiap hari bertemu. Memadu kasih. Tidak terasa hubungan terlarang ini memasuki bulan ke empat, dengan senyum genit Anitta menyodorkan alat tes kehamilan dengan garis dua. "Selamat sayang, kamu akan jadi Ayah," ucapnya dengan suara mende--sah. "Ini ... beneran anak aku?" tanyaku memastikan. Anitta memajukan bibir sensualnya. Mendekap da--da dengan kedua tangan, lalu memunggungiku "Fikirmu ini anak se-tan!" ucapnya dengan suara ketus. Kurengkuh tubuh indah yang mampu membuatku berpaling. Lalu mencium tengkuk lehernya, membuat dia mendelik seketika. "Jangan marah dong, aku kan cuma nanya?" bisikku ditelinganya. "Ck, pertanyaanmu, membuatku marah." Anitta masih merajuk, tidak mau melihat kearahku. "Kita cek, ke Dokter sama-sama yuk," rayuku sambil membalikkan tubuhnya. Anitta melengkungkan bibirnya, lalu memelukku. ***ofd. Tiba di rumah sakit, Dokter memastikan usia kandungan Anitta memasuki minggu ke tujuh. Dan semua dalam keadaan baik-baik saja. "Kapan mau menikahiku. Aku ga mau anak ini lahir tanpa pernikahan." ucapnya saat kami berada didalam mobil. Aku menarik nafas panjang, lalu tersenyum kecut setelahnya. Jujur saja semua ini diluar kehendakku. Namun hatiku kecilku, menginginkan kehadiran bayi dari benih sendiri. "Apa kau sedang memikirkan Fiona?" desaknya membuyarkan lamunanku. "Yah ... aku pasti menikahimu," sahutku kemudian. "Kapan? Aku tidak mau menunggu lama, atau kuberi tahu saja Fiona tentang hubungan kita?" balasnya bernada ancaman. "Kamu tanggung sendiri resikonya, kalau semua ini sampai bocor!" ucapku mengingatkan. Aku pernah mengatakan, kalau sampai Fiona tau hubungan ini, aku akan meninggalkannya. "Ahh kamu ..." ucapnya manja sambil meringsek memajukan badan. "Aku hanya kasihan pada anak kita, apa kamu tega membiarkannya hidup tanpa sosok seorang, Ayah?" Tangan Anitta mulai menjelajahi tubuhku. "Baiklah, sebelum bayi itu lahir. Aku akan menikahimu." bisikku, memandangi wajahnya. Senyum merekah langsung tercipta di bibirnya. Perlahan wajah Anitta mendekatiku, hingga tak ada jarak yang tersisa. Hembusan nafasnya terasa hangat membelai wajah. Perlahan bibir kami mulai menyatu. Tangan nakalnya terus meraba bagian sensitifku. Kubalas setiap sentuhannya, dengan pelan tanganku pun mulai menyelinap kedalam bajunya. Disini kesalahan bukan ada padaku saja, Fiona juga ikut andil didalamnya. Kalau saja dia tidak terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Mungkin aku tidak akan senyaman ini pada Anitta. Bersikap biasa saja, bahkan mungkin lebih manis dari biasanya. Sebenarnya kafe dan rumah makan keluargaku, masih bisa di bilang dalam keadaan normal. Hanya akhir-akhir ini permintaan Anitta cukup menguras isi ATM. Tidak mungkin memakai gaji karyawan untuk memenuhi keinginannya. Akhirnya dengan sangat terpaksa aku selalu meminjam uang pada Fiona, beralasan kafe perlu tambahan modal. Betapa jahatnya aku. Pagi hari kudapati Fiona dengan wajah lelah. Membelai lembut rambut dan pipinya, rasa bersalah tiba-tiba menghujam jantung, saat memandangin wajah cantiknya. "Morning, say." Mata Fiona terbuka pelan. "Maaf, mengganggu tidurmu. Semalam aku pulang larut, tak tega membangunkanmu," ucapku sambil terus mengelus rambut hitamnya. Fiona tersenyum manja, membuat kecantikannya semakin bertambah. Dengan gemas kuciumi pipi dan menggelitik perut rampingnya. Membuat dia meronta dan memeluk erat tubuhku. Ahh ... betapa rasa cintaku tidak pernah memudar untuknya. Bulan ini, tanpa tahu malu, aku kembali meminta uang padanya. Dengan alasan kekurangan modal tentunya. Pesona Anitta mulai merasuki jiwaku, terbayang setiap se--ntuhan li--arnya. Membuatku berani membohongi istri sendiri. Kalian para wanita, selalu menyalahkan kami laki-laki lemah iman. Kalian tidak mengerti, hasrat yang menggelora ini, harus segera tersalurkan. Tangan Fiona dengan lincah transfer uang yang kuinginkan. 75 juta, kurasa cukup untuk membuat Anitta tersenyum manja padaku. Pamit berangkat kerja, setelah membisikan kata cinta ditelinga Fiona. Kulihat pipinya langsung bersemu merah, menatap kepergianku. Melajukan mobil menuju kafe, melihat keadaan dan keuangan. Tidak lama notip gawaiku berbunyi. {Datanglah ... aku merindukanmu,} Anitta mengirim tempat lokasi dan gambar dirinya memakai lingre yang baru saja kubeli kemarin. Bagai kerbau yang dicucuk hidungnya, aku langsung meninggalkan kafe menuju tempat dimana Anitta berada. "Kau tidak kerja?" tanyaku saat tiba dihotel yang biasa kami datangi. "Demi rindu yang membuncah, aku rela meninggalkannya." ucapnya manja sambil mengedipkan sebelah mata. "Ikatlah kedua tanganku, kau akan mendapat sensasi yang berbeda." ucapnya sambil menyodorkan dasi dari belakang tangannya. Sambil menciumi pipi dan me--lumat bibirku, Anitta membuka dasi dan kemeja yang aku kenakan. Mengikat tangan kanan nya dengan dasi yang kupakai, lalu mengikat tangan kiri dengan dasi yang dia berikan. Tanpa menunggu lama, kami sudah menyatu dalam buaian cinta yang menggelora. Selalu ... Anitta begitu memanjakanku, membuatku mampu melakukan apa saja. "Dasar bina--tang!!" Desis suara mengagetkan. Mataku hampir saja keluar dari tempatnya. Fiona? Bagaimana dia bisa tahu? Lututku terasa lemas seketika, terlebih ada Paman Jef dibelakangnya, yang menatapku dengan mata merah penuh kemarahan. Dengan langkah tertatih aku mencoba mendekati Fiona, meminta pengampunan. Hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang. Mata Fiona penuh dengan embun, menatapku dengan pandangan jijik. Plakk .... Tamparan Fiona, membuat hatiku terasa sesak. Perempuan manja dan lemah lembut seperti dia, mampu melayangkan tangannya. Air mata mulai membasahi pipinya, badannya terguncang seiring isakan yang keluar dari bibirnya. "Maafin aku ... aku khilaf," ucapku sambil berlutut di kakinya. Takku perdulikan harga diriku, yang penting Fiona mau memaafkan kesalahanku. Bugh!! Tendangan Paman Jef mendarat diwajahku. Membuat aku kehilangan keseimbangan, aku jatuh terjelembab. Rasa perih dan sakit langsung menjalar diwajah. Kepalaku berdenyut hebat. Entah apa yang di bicarakan Fiona dan Anitta aku tidak begitu mendengar. "Argh, sakit sekali," rintihku dalam hati. "Ayo sayang kita pulang," aku mencoba, meraih tangan istriku. Fiona menatapku dari ujung kaki sampai kepala, sorot matanya benar-benar memancarkan kekecewaan yang mendalam. Hah ... sekarang aku merasa diri ini terlalu hina. "Jangan jadi pengecut kamu Mas! Kau bilang akan menikahiku sebelum bayi ini lahir," sembur Anitta. Menatapku garang. "Bayi?" Fiona menatapku meminta penjelasan, aku hanya mampu menundukkan kepala. Tak mampu membalas tatapannya, ragaku terasa membeku. "Iya aku sedang mengandung anak suamimu, sesuatu yang tidak bisa kamu berikan." lagi. Anitta membuka suara, membuat emosiku menyulut. "Tutup mulutmu!" teriakku berusaha membungkamnya. "Ya ... memang ini kenyataannya, aku hanya mengingatkan janjimu!" balas Anitta sengit. Aku meraih tangan Fiona, berusaha pergi dari sini. "Dasar mandul!" teriak Anitta membuatku menelan saliva yang terasa perih. Kulihat mata Fiona memerah, kemarahan juga benci terlihat jelas di matanya. "Paman?" Anitta melirik Paman Jef sekilas. "Paman ingin mencicipi daging men--tah ini?" ucap santai Fiona, membuatku tersentak. "Sayang sekali jika harus dibuang begitu saja, bukan begitu suamiku?" kali ini matanya mengarah padaku. Lagi-lagi, aku hanya menundukan kepala. "Lakukan sesuka hatimu Paman, kamu punya waktu sepuluh menit." ucapnya sambil berjalan menuju balkon. Paman menyerigai, tanpa membuang waktu laki-laki itu langsung menghampiri, Anitta. Dengan kasar dia menarik kuat rambut Anitta. Anitta langsung menjerit kesakitan, menatap nanar kearahku meminta pertolongan. Maafkan aku Nitt, aku tidak bisa menolongmu. Bagiku, Fiona jauh lebih berarti. ***ofd. Ada yang mau bantuin, Paman Jef. Eh, gimana??
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN