bagian 89 - Rumit

1751 Kata

"Semakin kesini, rasanya gue semakin sayang sama Ibu," ucap Nadia dengan bibir melengkung haru. "Benar kata pepatah. Sebesar apapun jasa seorang anak pada orang tua, tidak akan bisa membayar jasa orang tuanya. Yang bisa gue lakuin sekarang hanya berusah tidak bikin Ibu sakit dan kecewa," terang Nadia panjang lebar. Aku menundukkan wajah, menghapus air bening yang sudah berjatuhan membasahi pipi. Entahlah, apa yang aku tangisi. Air mata ini terjun begitu saja, tanpa di minta. "Eh, Fi. Di minum dulu." titah, Nadia sambil menunjuk minuman dingin diatas meja. "Mm ... iya, Nad." lirihku. "Lo kenapa?" Nadia menelisik wajahku. "Tadi ada rambut masuk kemata, perih banget," ujarku sambil mengucak mata. Nadia menautkan alis, matanya menyipit semakin mengamatiku. "Lo nangis?" tebaknya. Aku me

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN