Pov Fiona Menghela nafas lelah dengan panjang, mata menatap sendu sosok yang terbaring lemah diatas bangkar. Perlahan tangan menyentuh jemarinya lalu menggenggamnya penuh cinta. Pesan misterius kembali teringat, hati menebak satu nama, siapa yang sudah mengirim pesan itu. Aku menundukan pandangan, dengan air mata yang mengalir dipipi. "Maaf ..." lirihku sambil terisak, rasa bersalah menyelusup jiwa. Mengingat aku yang menyebabkan dia menjadi korban. Aku tergugu perih, hati ingin menjerit, mengumpat dan mencekik orang yang sudah melukai kekasih hatiku ini. Daniel ... apa ini ulahmu? "Fi ..." suara lirih terdengar ditelinga, dengan cepat aku menghapus air mata lalu mendongkakkan wajah. "Ibu ..." ucapku sambil menatapnya yang berjalan mendekati. Ibu menghela nafas, lalu tersenyum tipi

