•• To be continue •• Cinta yang lain juga sedang memperjuangkan haknya. "Rania…." Rania menolehkan kepalanya ke arah sumber suara, mengabaikan sosok laki-laki yang tengah berdiri di sampingnya. Seketika, bola matanya melebar saat tahu siapa pemuda yang memanggilnya barusan. "Renan!" ucapnya dengan raut wajah yang kaget bukan main. "Kamu kenapa bisa disini?" Rania pun sedikit berlari mendekati laki-laki yang tengah menggendong tas ranselnya di punggung. "Nemui kamulah. Ngapain coba aku repot-repot kesini? Kalo bukan kamu, aku sih ogah," celetuk Renan sambil menatap tidak enak pada laki-laki yang tadi berdiri di dekat pujaan hatinya. Rania terlihat panik karena kedatangan Renan yang tiba-tiba tanpa kabar terlebih dahulu. Berakhir, wanita itu menyuruh rekan kerjanya untuk pulang lebih

