Selepas sholat tarawih, Faya memutuskan untuk pulang lebih awal. Dia menghindari Gema? Iya. Kenapa? Entahlah. Hati gadis itu masih tidak tenang jika harus bertemu Gema.
Dan kini Faya pun berjalan menuju parkir motor. Untung saja, dia membawa motor sendiri. Jadi dia bisa pulang sendiri. Dan di perjalanan pulang nanti dia bisa memikirkan apa yang terjadi dengan dirinya. Apa yang terjadi dengan hatinya. Apa yang terjadi dengan...
"Fay!!"
Ah, hanya angan. Kini sosok Gema tengah berlari menuju ke arahnya. Faya pun panik, gadis itu pura-pura tidak mendengar. Tetap berjalan bahkan berlari menuju parkir motor. Gema yang menyadari hal itu pun, berlari kencang mengejar Faya. Untung Gema punya kaki panjang, yang bisa ia gunakan berlari kencang. Dan kini mereka sudah sejajar.
Faya tak berani menatap Gema. Dia sudah malu dengan sikapnya yang tidak jelas. Apalagi jika mengingat dia marah-marah pada Gema tadi, ah rasanya Faya ingin menutupi wajahnya dengan tong sampah. Gema pasti akan menggodanya. Sialan, membayangkan wajah songong Gema saja sudah membuat Faya naik darah.
"Fay, kita harus bicara" ucap Gema setelah nafasnya sudah stabil. Kasihan lari-lari, pasti capek ya Gema. Sini-sini sama author, ulululu.
Faya hanya terdiam. Jangan tanya kenapa, dia masih malu. Bahkan untuk membuka suara di depan Gema saja dia masih malu.
"Abi minta lo main ke rumah," ucap Gema
Telinga Faya berfungsi dengan baik, tapi dia belum juga bereaksi dengan apa yang diucapkan Gema. Gadis itu masih terdiam.
"Faya,"
"Fay,"
"Kapan?" Tanya Faya.
"Besok juga boleh, kita buka bersama."
"Tapi gue belum memutuskan," ucap Faya yang membuat Gema bingung.
"Memutuskan?" Tanya Gema, dahi cowok itu berkerut menunjukan tengah berfikir "gue kira lo setuju."
"Ha?"
"Habisnya lima hari nggak ada kabar," kata Gema dengan nada sebal "kata Rasulullah diam seorang wanita artinya setuju."
"Jangan ngaco, gue kan udah bilang tujuh hari bakal ngasih jawaban."
"Iya gue tau."
"Lah itu pinter."
"Pokoknya besok lo ke rumah."
"Lo kenapa setuju dengan perjodohan ini?"
"Apa?"
"Lo kenapa setuju dengan perjodohan ini, Gema?"
"Eng.."
"Lo suka ya sama gue?"
"Ha? Suka sama lo? HAHAHHA" ucap Gema yang diselingi tawa keras, "nggak lah."
"Terus kenapa lo nerima perjodohan ini?"
"Karena..."
"Karena?"
"Gue sayang Abi."
"Ha?"
"Gue sayang Abi dan gue nggak mau ngecewain beliau."
"Sekalipun dengan peejodohan ini menghancurkan cita-cita lo?"
"Kok bisa?"
"Bisa lah, lo nggak tau apa peraturan sekolah pasal satu? Tentang larangan menikah atau hamil?"
"Emang ada peraturan begitu?"
"Helo, gue rasa lo itu pinter banget deh. Tapi kok begini aja nggak tau."
"Tapi kan kita nggak tinggal serumah, dan lo juga nggak hamil,"
"Tetep aja Gema, ahh.. kalau gue pikir-pikir lagi ya, nikah muda itu nggak seindah bayangan gue.
Entar kalau gue nikah sama elo, berarti setiap ucapan lo adalah perintah yang harus gue laksanakan. Trus kalau elo nggak ngebolehin gue kuliah, entar gue beneran nggak kuliah. Terus ada banyak sekali hal-hal yang mau gue lakukan sebelum nikah. Pokoknya banyak ruginya deh. Dan yang terpenting, hati gue Gema. Gue nggak yakin jika nama lo yang tertulis di lauh mahfudz."
"Lo kira gue yakin jika lo itu jodoh gue?"
"Kalau lo ga yakin, kenapa lo terima?"
"Harus ya gue ngomong dua kali," ucap Gema dengan tatapan sebal.
"Abi lo? Emang harus segitunya yah?"
"Maksud lo?"
"Kan lo bisa nolak, brontak atau gimanapun. Ini tentang masa depan lo Gema!"
"Gue masih inget hadist yang gue pelajari waktu di kelas pasca. Tentang bab adab kepada orang tua, kita dilarang berkata ah, atau uh, saat diperintah mereka."
"Gue juga tau hadis itu. Tapi konteksnya saat diperintah dalam hal kebaikan, lah ini?"
"Emang menikah bukan hal baik? Menikah menyempurnakan separuh agama Faya."
"Tapi kan-"
"Kenapa lagi? Mau ngeles lagi? Seharusnya lo paham apa yang gue rasain. Lo juga punya orang tua, sama seperti gue."
Mendengar hal itu air muka Faya yang awalnya sebal kini menjadi muram.
"Gue emang punya orang tua, tapi gue nggak pernah tau mereka dimana dan siapa." Ucap Faya yang tersenyum miris "jadi maafin gue yang nggak bisa ngertiin perasaan lo."
"Maaf" ucap Gema cepat. Cowok itu pun gelisah. Jangan-jangan yang dikatakan Miska itu benar adanya, jika Faya itu..? Asfaghfirullah, Gema.
"Gue cabut," pamit Faya saat mereka terdiam lama.
"Kok cabut? Eh maksud gue, ati-ati," ucap Gema canggung.
Faya pun melangkah pergi dengan hati yang tentunya tidak utuh lagi. Gadis itu sepertinya sudah mantap dengan keputusannya. Terlihat senyum manis tercetak di wajahnya.
Sementara itu, Gema masih tak enak hati dengan apa yang ia ucapkan pada Faya.
~kekasih halal~
Seperti perintah Gema, Faya tidak telat. Gadis itu bahkan datang terlalu awal. Karena jam masih menunjukkan pukul tifa sore, dan Faya sudah berada di depan rumah Gema. Kemarin malam, Gema mengirimimya denah rumahnya. Dan tadi Faya tinggal menunjuukan denag itu pada tukang gojek pesanannya. Ah, hidup jaman sekarang mudah sekali. Tinggal klik udah datang sendiri, bahkan urusan ojek seperti ini.
Lupakan tentang gojek, kita beralih ke Faya yang tengah berdiri di depan pagar rumah Gema. Gadis itu tengah menatap kagum rumah dihadapannya. Menjulang tinggi spwerti rumah konglomerat di tv. Rumahnya yang kecil itu tidak ada apa-apanya. Dan Faya tentu saja sangat minder. Apalagi penampilannya yang....ah mendekati dekil ini. Huft, sepertinya yang tadi tenang-tenang saja sekarang tampak tegang. Yaiyalah, siapa lagi kalau bukan Faya. Lihatlah...lihatlah...keringat dingin menetes dari dahinya. Rasanya seperti akan bertemu calon mertua. Eh, bukannya memang akan bertemu calon mertua? Ralat! Calon mertua yang tidak jadi. Haha
Satpam yang sedari tadi memperhatikan faya pun menghampirinya, "mbak cari siapa?"
Faya hanya terdiam, terkejut dengan kedatangan pak satpam yang tiba-tiba.
"Mbak mbak Faya ya?"
Faya pun mengangguk. Satpam itu pun dengan sigap membuka gerbang yang terbuat dari apa entahh. Pokoknya gerbang itu menjulang tinggi. Hampir menutupi sebagian rumah. Dan saat terbuka nampaklah sebuah bagunan rumah dengan gaya ke eropaan. Gila. Sepertinya Faya salah masuk rumah presiden. Nggh...nggak deh. Karena di samping kiri rumah itu tertulis dengan jelas "umar house." Dan Bukankah ayah GEMA bernama UMAR? YEP. berarati ini memang benar rumah Gema.
Di taman rumah itu, Faya mendapati Gema tengah berbicara dengan seorang perempuan. Perempuan itu tidak berkerudung, rambut cokelatnya menjuntai indah. Hal itu memperindah penampilannya apalagi dipadukan dengan jins panjang hitam dan kemeja kotak bewarna pink. Uuuh, cantik sekali, bisik Faya dalam hati. Tapi siapa perempuan itu? Engh...nampaknya tidak asing dipenglihatan Faya. Pernah liat dimana gitu, em... ah iya!! Dia Seira. Anak kelas sebelah yang ikut pertukaaran pelajar ke Landon. Dan kenapa sekarang ada di sini? Apakah pertukaran sudah selesai? Bukankah pertukaran berlaku selama dua tahun? Tapi kenapa dia sudah pulang?
Faya pun tanpa ambil pusing mengabaikan Gema dan Seira. Dan ketika melangkahkan kakinya, dia teringat. Jika Seira dulu adalah pacar Gema. Apakah mereka masih pacaran sampai sekarang? Ngh.. kenapa dia melupakan hal ini. Kenapa dia tidak sadar siapa yang akan dijodohkan dengannya. Tentu saja Gema sudah punya pacar. Dia bukan jomblo ngenes yang nggak taken karena nggak ada cewek yang mau. Dia Gema coy, Gema. Cowok most wanted sekolah yang tampangnya jangan diragukan lagi, entah kenapa hati Faya menjadi tak karuan. Yang jelas dia tidak mengerti kenapa bisa begini.
Kegundahannya itu terabaikan, ketika seorang wanita menegurnya. Wanita itu sangat cantik, apalagi jilbab ungu yang menjuntai indah menutupi rambutnya. "Dik Faya?"
"Eh, iy-a,"
"Kenalin saya Ulan Kakak Gema."
"Kak Ulan cantik sekali,"
"Gombal, ayo masuk."
Faya melirik ke arah Gema sebentar, ternyata Gema masih tak sadar akan keberadaannya. Melihat hal itu, Ulan pun mengerti.
"Kamu mau Kakak panggilkan Gema?"
"Eh, enggak kak."
"Jangan cemburu, Seira cuma teman masa kecil Gema."
Apa kata Kak ulan? Cuma teman masa kecil? Ha? Kata siapa cuma, bagi orang yang sulit melupakan kenangan, masa kecil akan selalu menjadi kisah tersendiri. Bukan cuma, tapi sesuatu. Dan hal itu lah yang dirasakan Faya. Dia mempunyai sesuatu kenangan dengan Ari, karena Ari adalah teman masa kecilnya. Dan mungkin itulah yang dirasakan Gema dan Seira. Apalagi mereka pacaran? Pasti senang sekali bisa pacaran dengan sesuatu itu. Faya paham sekali, dan sebab itulah sakit. Hatinya, sakit. Sekalipun sedikit. Tapi, baru saja dia ingin memulai. Tapi sudah terluka.
TBC