Bab 18

1088 Kata
Cinta datang terlambat. *** Gedung olahraga itu ramai. Bagaimana tidak ramai, seluruh siswa Aksara berada di sana. Untung saja Sport center memiliki luas yang sangat besar. Jadi sekalipun satu sekolah berada di sana, tidak menjadi masalah. Terlihat Faya sudah duduk tenang di tribun barat. Tribun dimana semua kelas tiga berada. Di sampingnya ada Gendis, Haru, dan Dafina. Gendis masih sibuk dengan alqurannya, katanya dia belum sempat menuntaskan odoj nya. Sedangkan Haru dan Dafina, sibuk menoleh ke kanan ke kiri. Melihat cogan Aksara yang sepertinya ada dimana-mana. Oh ya, Haru dan Dafina adalah teman satu kelas Faya. Mereka berdua orangnya baik, konyol namun sedikit gesrek. Setidaknya dengan kehadiran mereka berdua, hidup Faya lebih bewarna. Dan Faya selalu bersyujur tentang itu. Semenjak naik ke kelas dua belas, dan semenjak Ari ada didekatnya, harus Faya akui dia memiliki teman yang banyak. Tidak hanya itu, bahkan Miska sekarang sudah tidak lagi menganggu nya. Sekalipun gadis itu masih suka melihatnya dengan tatapan penuh kebencian dan amarah. Tapi Faya sudah bersyukur dengan apa yang ia miliki sekarang, terlepas dari sikap Gema padanya. Drrt...drrt... Ponsel Faya bergetar, tanda ada line masuk. Faya pun mengeceknya. Dan ternyata dari Ari. Padahal dia berharap itu dari Gema, sekalipun mustahil sekali. Ariando: habis ini gua tanding, ngga dikasih semangat apa? *emot melas* Faya tersenyum kecil melihat isi pesan itu. Dia pun mengirimi sticker semangat untuk Ari. Setelah ini kelas mereka memang akan main melawan kelas IPA 3. Dan Ari tentu saja turut adil dalam permainan. Menginggat tahun lalu, Ari adalah sang pecetak top score. Tapi Ari tidak yakin jika kelas mereka akan menang. Mengingat siapa lawan mereka nanti. Kelas Gema, dan di kelas itu ada Vano dan Fiqri. Mereka dua orang yang juga tak kalah hebat dalam bermain futsal. "Kak Faya ya?" Ucap cewek bermata belo itu. Faya pun menaikkan alis heran, "iya, ada apa? Kamu siapa?" "Kakak ditunggu seseorang di ruang ganti," "Ha? Siapa?" "Gatau." Cewek itu pun pergi begitu saja. Meninggalkan Faya yang masih heran, siapa yang mencarinya? "Kenapa Fay?" Tanya Haru "dia siapa?" "Gatau," Faya pun berdiri, bergegas menuju ruang ganti. "Lo mau kemana?" "Gue mau ke ruang penyimpanan, temenin yuk.." "Yauda, ayuk deh..." Faya dan Haru pun menuju ruang ganti yang letaknya memang sedikit jauh. Apalagi suasana sprt center itu memang sangat ramai. Jadi cukup memakan waktu yang lama. "Kenapa sih ke ruang ganti?" "Kata cewek tadi, ada yang nunggu gue di sana," "Siapa?" "Gue juga nggak tau, palingan Ari." "Ari? Wahh, kayaknya Ari suka lo deh FAY," Mendengar ucapan Haru, Faya mendelik "nggak lah." "Ari jadi pribadi yang hangat saat sama lo," "Masa sih? Perasaan sama aja deh," "Nggak, dia itu ya kalau sama cewek lain kayak es. Nggak ada ekspresi. Gue aja kaget waktu liat dia sama lo yang bahkan bisa ketawa." "Kok lo tau banget sih tentang Ari?" "Eh?" "Jangan-jangan lo..." "Fans?" "Lo fans nya Ari? Ya Allah..nggak nyangka "Dulu, waktu kelas satu sama dua." "Sekarang udah nggak?" "Gue nggak jago nikung, nanti gue malah luka lagi. Jadi gue putusin buat nggak." "Maksudnya nikung apa sih?" "Elah, udah lupakan sana ke ruang penyimpanan. Gue disini aja ya, takut nganggu." Faya mengangguk dan meninggalkan Haru. Faya pun menuju ruang penyimpanan. Belum juga sampai ia sudah mendengar teriakan seseorang yang sedang marah. Faya pun menghentikan langkahnya. "GUAA MUAKK ARIIII" "Beri waktu tiga bulan dan gue akan ceritakan ke Faya sendiri," Itu suara Miska dan Ari. Faya pun semakin penasaran, apa yang tengah bicarakan. Apalagi namanya pakai disebut. Pasti ini persoalan gawat. "NGGAAAAKKKKK GUE UDAH MUAK AMA JANJI MANIS LO! KATANYA KEMARIN, TAPI MANA? FAYA MASIH NGGAK TAU KALAU IBUNYA ITU SIAPA. DIA HARUS SEGERA TAU." "Tapi Mis, gue--" "Apa yang harus gue katahui?" Ucap Faya membuat Ari sangat terkejut. Wajah Ari pun pucat paasih. "Fay..yaa.." "Apa yang harus gue ketahui Ar?" Ari hanya terdiam. "Apa yang harus gue ketahui Miskaaaa?" "Yakin lo mau tau?" Ucap Miska seraya tersenyum licik. "Cepat katakan Miskaaa!!" "Nggak akan, Miska nggak akan mengatakan apapun," Ari kini berjalan menuju Faya "ayo kita keluar," tangan Ari mengandeng tangan Faya. Faya menghembaskan gandengan itu. "Nggak Ar, cepet katakan apa rahasia yang kalian rahasiakan??" "GUE BILANG PERGI YA PERGI FAYA!" teriak Ari. Tangan Ari sudah menyeret Faya keluar. Faya menangis. "IBU LO ITU p*****r. DAN LO TAU SIAPA AYAH LO? PA-" "CUKUP MISKA!" "Siapa Bapak gue?" "Papanya Ari-" "MISKA!!" "Maaf tapi Faya harus tau, Ar." Tubuh Faya menegang. Matanya memanas. Seketika dia tidak mendengar apapun. Rasanya dia tidak percaya apa yang dikatakan Miska. "Fay, lo nggak papa kan?" Ucap Ari seraya mengguncang tubuh Faya. "Apa yang dikatakan Miska benar?" Ari terdiam. "Apa kita berdua adalah saudara? Jawab gue Arrrr!" "Iya," jawab Ari lirih. "Bagaimana bisaaa?" "Sudah gue bilang sejak dulu kan Fay, lo tu siapa? Ibu lo itu p*****r dan lo itu anak haram. Ibu lo udah hancurin keluarga gue dan keluarga A--" "CUKUP! APA LO BELUM PUAS MIS? KELUAR LO!" Miska tertawa, "selamat menikmati kenyataan yang sangat pahit, Faya." Gadis itu pun keluar dari gedung penyimpanan. Faya mengepalkan tangannya. Gadis itu menangis keras. Kenapa hidupnya menjijikkan seperti ini? "Fay-" "Gue mau pulang," "Gue anterin," "Lo akan tanding Ar, gue bisa sendiri." "Jangan!!!! Bentar," Ari mengambil hape nya di saku. Menelpon seseorang. "lo dimana?" ".." "Cepat ke ruang penyimpanan, gue minta bantuan." ".." "Bacot lu. Cepet sini!" ".." Ari memasukkan hape nya ke sakunya. Cowok itu pun memjamkan mata. Cepat lambat Faya akan tau kenyataan ini. "Fay gue mau minta maaf," "Seharusnya gue yang minta maaf Ar, lo pasti benci banget sama gue." "Nggak Fay, lo salah." "Jangan boong, gada anak yang baikbaik saja saat tau Ayah nya selingkuh. Begitu pun juga lo Ar." "Ngga-" "Gue sadar diri sekarang, gue siapa. Yang bahkan ngomong sama lo aja nggak pantes. Lo pasti jijik sama gue, gue anak haram." Faya menangis. "Gema dateng, hapus air mata lo. Nggak malu nangis di depan gebetan?" Bisik Ari. Sontak Faya pun menghapus air matanya cepat. Gadis itu menoleh, dan menemukan Gema. "Apa bro?" "Gue minta tolong anterin Faya pulang," "Kenapa emang? Dia nggak bisa pulang sendiri apa?" Ucap Gema seraya melirik Faya. Gadis itu tengah menunduk. "Gue pulang sendiri aja Ar," "Nggak, lo harus dianter orang. Bahaya lo pulang sendiri dengan keadaan sperti ini." Gema menaikkan alisnya, "Faya sakit?" "Gue pulang sendiri aja Ar," "Yaudah pulang sendiri aja, lagian siapa yang mau nganter lo!" Faya pun meninggalkan tempatnya, mulai berjalan keluar ruangan. "Elah, gitu aja ngambek. Gue anterr, gue anter." Ucap Gema seraya mengacak rambutnya. Ari menggeleng dan tersenyum geli, melihat kelakuan dua orang didepannya itu. Mungkin dengan Gema Faya akan baik-baik saja, batin Ari. Tbc, Xoxo muffnr
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN