Bryan duduk di kursi yang tersedia, memandangi istri mungilnya dari jauh dengan banyak bayang-bayang. Sudah tercium aroma wangi masakan, ia memejamkan mata kemudian menghirup seisi oksigen di sekitarnya dalam-dalam .... Tak sabar rasanya. Kali pertama dimasakkan Soraya, kemudian mereka hanya berdua di sini. Rasanya seperti kencan yang tak pernah mereka dapatkan ... kencan private. Telepon rumah berdering, membuyarkan khayalan Bryan tentang mereka yang bermesraan saat makan, sementara Soraya menoleh. Perempuan itu siap melangkah tetapi Bryan menghentikannya. “Eh, biar aku aja, jangan ditinggal masakannya entar gosong.” “Ah, iya, Om.” Soraya tersenyum kemudian fokus memasak lag

