12.. Rumah sakit 1

1555 Kata
Setelah pergumulan pertama melepas hasrat surgawi, Deniar berapa saat terus mengucapkan maaf tak henti- henti. Aku tak bergeming. Dia bangkit memasangkan selimut, lalu masuk kamar mandi kemudian dia keluar sudah pake celana boxer. Dia mendekat berujar,”kita makan dulu ya, aku akan menghangatkan dulu, dia beringsut dr duduknya menuju ke luar kamar. Aku tak bereaksi apapun karena aku memang tidak tahu harus apa, sedih ? hatiku malah membatu. Setelah setengah jam berlalu, Deniar muncul sambil membawa piring dan gelas minum, ”kamu makan dulu yaa, aku suapin ya.” Aku menggeleng. “kalo kamu ga mau makan aku tidak akan mengijinkan kamu pulang sampai keluarga ku datang, aku akan minta nikah siri saat mereka datang, biar menikahkan kita langsung.” sambil mengelus kedua pipiku dia bergumam. Akhirnya dengan susah payah aku habiskan makan. Aku tetap perlu tenaga untuk berfikir apa yang harus aku lakukan. Rasanya aku ingin meraung-raung, ingin bertemu Zein, ingin menumpahkan segala yang menghimpit dadaku. Hanya Zein yang akan mengerti. Kalau ngadu pada orangtua, aku yakin malah mempercepat pernikahan. Aku makin ga mau nikah, masa suamiku seorang pemerkosa, sepanjang hidup disisiku aku akan teringat perbuatannya saat ini. “Aa, aku ingin pulang,” rintihku. “ Iya nanti, kita nikmati kebersamaan kita, anggap saja ini malam pertama kita.” Sambil merebahkan badan disisiku, lalu merengkuh badanku dan mulai menciumiku melumat bibirku. Deniar kembali b*******h, badan nya menekanku terasa ada sesuatu yg keras di bawah sana, akhirnya berulang lagi pelepasan hasrat nya, tanpa mengindahkan perasaanku. Berulang, berulang, entah sampai berapa kali. Aku tidak mau menghitungnya. Aku merasa diperlakukan seperti binatang. Aaakkhhh… binatang juga kayaknya ga gini-gini amat. Aku mendengar Deniar menelpon seseorang, yang mengabari bahwa aku akan pulang besok sore. Aku diam tidak melawan karena aku merasa akan sia-sia semua perlawanannya. Deniar mendekat, duduk sebelah ranjang dekatku. Sambil menggenggam tanganku lalu menciumnya. "Barusan aku nelpon Amih, yang mengangkat handphone kakakmu, aku katakan kita wisata ke Jakarta sama keluargaku, nanti aku nyuruh anak buahmu membeli kaos untuk ganti kamu.” Aku tidak ingin merespon apapun. Saat ini apa bedanya aku sebuah boneka mainan. Menjelang tengah malam Deniar tidur, tangannya melingkar di perutku. Aku turun dari kasur hanya untuk ke toilet saja. Makan dan minum Deniar yang membawanya ke kamar. Badanku sangat lengket, akhirnya saya mandi walau sudah tengah malam, siapa tahu badan segar jadi bisa tidur. Setelah mandi aku buka lemari baju deniar, aku ambil kaosnya walau kedodoran itu lebih baik daripada tidak pake baju. Aku rebahan di sebelahnya, aku liat wajahnya yang kelelahan rasanya ingin mencincang badan nya memutilasinya. Tak terasa akhirnya akupun tidur menjelang pagi. = = = = = Aku menggeliat ketika terbangun aku bingung masih setengah sadar, aku mengingat-ngingat apa yang terjadi. Aku melihat Deniar menyender di kepala ranjang. Tangannya mengelus-elus rambutku, ”Kamu lapar sayang ? kamu mandi dulu ya, tadi aku sudah buat sarapan, kita makan yaa.” Aku beraanjak ke kamar mandi, ketika akan masuk, deniar berujar, “heyy, kamu pake kaosku, hahaha longgar sekali di badanmu, hihihi lucu sekali.” Aku cuma mendelik. Kami sarapan berdua, dalam diam. Akhirnya Deniar tidak tahan, ”Eng maafkan yaa. Aku akan bertanggung jawab. Gimana dua hari ke depan kita nikah sirih?” Aku hanya menggeleng. “Kamu kemarin memohon untuk nikah siri, sekarang kamu ga mau nikah siri. Aa jadi bingung mau kamu apa ?” Aku tak bergeming, ”aku mau nikah siri dengan konpensasi kamu tidak memperkosaku, tapi ternyata negosiasiku tidak digubris. Berarti saat ini sudah tidak ada negosiasi.” “Apa ?” tanyanya. “Aku ingin pulang,” gumamku. “ tidak, kita pulang malam nanti,” balasnya. “Ya puas-puaskanlah hasrat iblismu hari ini !” hardikku. "Ini juga salahmu karena nolak nikah siri! Aku tau pada akhirnya selalu salahku ! Aku pindah duduk di sofa menyalakan TV, Deniar menyusul duduk di sebelahku. Setelah sore aku terus merengek minta pulang, akhirnya Deniar mengiyakan dengan syarat mau melepas hasratnya sekali lagi. Sampai dirumah sekitar jam 7 malam, Deniar minta maaf ga bisa bawa oleh-oleh, “Amih, maaf nih ga bisa bawa oleh-oleh, karena disana Eng nya malah sakit jadi ga bisa kemana.” “Ga apa-apalah Aa, kan sudah sering bawakan Amih oleh-oleh juga,” “Aa anter Eng dulu ke Kamar yaa, kelihatannya belum sembuh benar,” “Emang sakit apa Eng, pucat sekali,” tanya tetehku. “Meriang, kayaknya mau flu atau masuk angin, sudah minum obat tadi,” jawab Deniar. Pinter banget kan memanipulasi keadaan. Sampai di kamar Deniar ngancem, “Kalo kamu ninggalin aku, nama mu rusak di kota ini. Aku akan menyebarkan kalo kamu sudah ga perawan, kamu hamil dan menggugurkan, tidak mau dinikahin. Pokoknya namamu akan tercemar. Kalo kamu melaporkan ke Amih atau orang lain akan tanggung akibatnya. Amih nyuruh makan bareng, ”Ayo makan, Amih sudah masak nih,” Deniar narikku ke ruang makan untuk makan bareng, ”Kamu bersikaplah yang wajar jangan tegang gitu, biar orang rumah ga curiga” Aku sudah ga mau merespon apapun, diam seperti robot, yang disetel hanya mengangguk dan menggeleng. Selesai makan Deniar pamit, aku langsung masuk kamar dan menguncinya, Amih kayaknya gak curiga karena aku terbiasa setelah makan masuk kamar untuk belajar. Sehari-hari jarang sekali nonton TV. Sangat ingin curhat ke Zein, aku timbang-timbang baik buruknya. Tapi aku ga tahan. Aku kirim pesan. Aku : Aku diperkosa. Beberapa saat ga ada respon. Zein langsung nelpon. “Eng apa yang kau tulis benar, si setan itu yang melakukan ?” Zein bicara dengan nada tinggi “Iya… huuhuhu, a aku ga bisa ngomong ke keluargaku, nanti malah disu…. disuruh kawin.” “ya sudah sok nangis saja dulu… ,” “Zein aku mau minta tolong,” “Apa yang harus aku lakukan.” “Tolong belikan nomor handphone yang baru, aku akan pura-pura mematikan handphoneku.” “Iya besok aku belikan, diam-diam aku simpan di tasmu ya di sekolah.” “Tidak, beberapa hari ini ga mungkin aku sekolah. Aku nggak akan bisa mikir untuk apa aku ke sekolah !” “Trus gimana dengan nomor barumu ?” “Ya nanti difikirkan, gimana caranya, makasih ya Zein, saat ini aku butuh kamu melebihi apapun.” “Iya Eng, iya… aku akan selalu ada untuk kamu, kamu pasti kuat, kamu pasti bisa keluar dari masalah ini. Kuatkan yaa.” Suara Zein tergetar, aku merasakan banget. “sudah dulu ya Zein takut si dajal nelpon !” Klik aku matikan handphone. Beberapa menit kemudian ada telpon masuk. Deniar. Aku sampai lemes banget, kalo tadi ngobrol dengan Zein agak lama, handphoneku nada sibuk akan jadi masalah lagi. Aku berusaha untuk tidak frontal, karena menghadapi seorang psychopath tidak bisa dengan emosi harus dengan strategi, karena diomongin apapun ga akan mengerti. ”Ada apa ?” ”Maafkan aku Eng, aku sungguh-sungguh melakukan itu karena mencintaimu ga mau kehilanganmu.” "Kalau maafmu dikumpulkan mungkin kawah gunung tangkuban perahu sudah bisa ditutupi oleh permintaan maafmu. Sudah, aku lg malas bicara !” Klik aku tutup handphone. Aku berbaring badanku ditutupi selimut sampai kepala. Aku terus mikir bagaimana aku untuk bisa dapat nomor baru. Aku ingin mematikan handphoneku dan memakai nomor baru hanya butuh komunikasi dengan Zein. Aku inget ada obat alergi dan obat anti sakit kalo haid bisa mengantuk. Aku selalu menyimpannya karena aku memang alergi seafood dan kalo haid mesti minum obat anti sakit. Aku tau aku gak akan bisa tidur, jadi aku telan empat buah obat alergi agar bisa tidur. Sebelumnya aku kirim pesan, “Zein aku sudah minum obat tidur. Aku butuh tidur. Aku akan matikan handphone.” Aku yakin aku akan membutuhkan obat ini lebih dari hari biasanya. Aku berharap ketika bangun sudah tidak ada di dunia ini, dunia yang begitu kejam padaku. Dunia yang tidak berpihak pada hidupku. “kenapa aku yang dicinta Dia, diluar sana banyak cewek tukang dugem, tukang nongkrong, tukang mainin cowok, yang free s*x. Kenapa aku yang hidup lurus yang penuh dengan cita yang harus bertemu dengan seorang laki-laki seperti Deniar,” aku tak berhenti menggugat Tuhan. Tidak terperi rasanya mendapatkan cobaan ini, sulit rasanya untuk bisa menerima dengan lapang. Setengah jam kemudian aku sudah tidak ingat apapun. ==== Menjelang subuh aku terbangun, badanku lumayan cukup segar. Aku mandi tapi tetep hari ini aku memang berniat tidak sekolah. Aku merasa hatiku masih hancur masih belum bisa mikir normal. Aku bercermin, rasanya melihat wajahku dan badanku yang penuh memar aku merasa jijik sekali, waktu mandi tadi sampai lama sekali karena aku gosok-gosok terus saking ingin menghilangkan jejak cumbuan si Deniar. Kembali aku ingin marah, rasa sedih sakit kecewa dan dendam menyatu membuat badanku bergetar. Aku cepat-cepat ke kasur kembali karena merasa pusing sekali kepala berat sekali. Selimut di tarik, badan menggigil, entah karena terlalu menahan amarah atau merasa jijik pada badan sendiri. Aku tidak tau. Atau mungkin dua-duanya. Makin ke sini makin nyata bayanganku ketika sedang digagahi Deniar. Semakin mual ingin muntah, semakin menggigil keringat sampe basah seperti mandi. “Eng, sudah bangun ? ayo sarapan. Apa kamu masih sakit ?” ibuku mengetuk pintu. “Iya Mih… nanti sarapan sendiri, aku masih sakit ga sekolah hari ini,” balasku teriak supaya kedengaran. Sengaja aku kunci pintu aku lagi malas ketemu orang. Hari menjelang siang,walau perut lapar aku ga beranjak dari kasur, aku berharap tidak bangun lagi. “Eng buka pintunya, ini ada mamih Zein datang, katanya tadi lewat rumah kangen kamu.” Amih ketuk-ketuk pintu. Aku bangun dari tempat tidur sambil terhuyung membuka pintu. Ketika pintu terbuka mataku rasanya berkunang-kunang kemudian gelap. Sebelum kesadaran hilang aku mendengar suara teriak memanggilku. ***TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN