Hari sudah berganti. Seusai shalat subuh, Tari pamit pulang. Ia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan Hafiza. Dalam hati kecilnya, Tari masih ingin bersama Hafiza lebih lama. Ia tidak tega meninggalkan adiknya sendirian dengan keadaan sakit begini. Tapi, tuntutan pekerjaan membuatnya mau tak mau harus pamit.
“Dek, Mbak pulang dulu ya? Maaf, kalau Mbak nggak bisa jagain kamu, sekarang. Mbak harus balik kerja.” Tari menatap Hafiza dengan rasa bersalahnya.
Hafiza membalas tatapan Tari dengan sorot matanya yang teduh. Bola mata bulatnya, menatap Tari penuh kelembutan. “Iya, Mbak. Santai aja. Mbak Tari nggak usah pikirin Hafiza. Hafiza udah gede, nggak bakal ada yang niat nyulik,” gurau Hafiza mendapat pelototan dari Tari.
“Kamu itu ya?!” geram Tari.
Hafiza terkekeh. “Udah! Mbak Tari pulang, sekarang! Entar ngantornya telat, dapet sangsi, potong gaji. ‘kan sayang.”
Tari menaik sudut bibirnya. “Ya sudah, Mbak pulang dulu. Nanti sore, Mbak ke sini lagi. Kamu jaga diri baik-baik, kalau ada apa-apa, Langsung kabarin Mbak.”
Tari merentangkan tangannya lebar-lebar, membawa Hafiza masuk ke dalam dekapannya. Setelah puas, ia beralih pada kening Hafiza. Di sana, Tari mendaratkan kecupan sayang. Hafiza menikmati kehangatan yang bersumber dari bibir Tari, hingga ia memejamkan mata.
Hafiza kembali membuka mata setelah Tari menarik bibirnya dari kening Hafiza.
“Love you, Cantik. Jaga diri baik-baik.” Tari mengacak pelan rambut Hafiza.
Hafiza mencium singkat pipi Tari. “Love you to my love. Hati-hati di jalan.”
Setelahnya, Tari menggerakkan kakinya melangkah ke luar, meninggalkan Hafiza di ruang inapnya sendirian.
Hafiza sendiri hanya bisa menatap hampa pungggung Tari yang semakin menjauh lalu hilang di balik pintu.
Tari berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Tanpa sengaja, ia berpapasan dengan Allan.
“Assalamualaikum,” sapa Allan pada Tari. Ingatan Allan masih cukup tajam untuk mengenali wajah kakak dari pasiennya.
“Waalaikumussalam. Eh, Dokter Allan.” Wajah Tari tampak sumringah.
“Mau ke mana?” tanya Allan setelah melihat tas yang Tari kenakan.
Tari menarik ujung bibirnya. “Saya harus pulang, Dok. Saya harus kembali bekerja. Titip Hafiza, ya? Kalau ada apa-apa, tolong kabari saya.”
Sudut bibir Allan tertarik ke atas. Ia menaruh rasa salut pada Tari. “Hafiza beruntung punya kakak seperti kamu. Saya bisa melihat rasa sayang kamu yang begitu besar padanya. Kamu rela bekerja dari pagi sampai sore. Malamnya pun, kamu masih sempat jaga Hafiza di rumah sakit. Kamu hebat!”
Tari menyangkal. Ia merasa kecil jika dibandingkan dengan kehebatan Hafiza. “Ah! Saya tidak sehebat itu. Justru, saya yang lebih beruntung mempunyai adik sehebat Hafiza. Kalau dibandingkan dengan Hafiza, saya mungkin tidak ada apa-apanya. Hafiza itu gadis yang kuat, perempuan hebat dan wanita tangguh. Banyak sekali sebutan yang pantas ia dapatkan. Hafiza tidak pernah mengeluh atas segala sesuatu yang menimpa dirinya. Ia juga tidak ingin merepotkan orang lain, meski ia sadar akan kekurangannya.”
Untuk kali ini, Allan mengangguk setuju. Ia tidak bisa menyangkal, karena dirinya tahu sendiri di mana letak keistimewaan Hafiza. “Iya ... Hafiza memang hebat. Saya sendiri merasa kagum dengannya. Jika berkenan, saya mohon izin untuk mengenal Hafiza lebih dekat. Saya berharap, bisa menjaga dan membahagiakan Hafiza. Jujur, saya menaruh hati padanya. Entah kapan rasa ini mulai tumbuh, tapi dari awal pertemuan kita, ada rasa nyaman yang terselip di hati saya. Mungkin, terdengar cukup aneh. Namun, semua itu di luar kuasa saya. Saya ingin Hafiza menjadi milik saya.” Allan memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan pada Hafiza. Sebagai kakak dari Hafiza, Allan ingin Tari tahu akan niat baiknya ini. Soal Hafiza mau dengannya atau tidak, itu urusan belakangan. Yang penting, restu dari keluarga Hafiza sudah ia kantongi.
Entah mengapa, hati Tari seperti teriris mendengarnya. Ada rasa perih yang menghunus bak tusukan pedang. Rasa kagumnya pada Allan, harus ia pupus dalam-dalam. Semua ini demi kebahagiaan Hafiza. Tari akan berusaha untuk ikhlas, meski hatinya menginginkan sosok Allan.
Tari memegangi bagian depannya. Mengelusnya beberapa kali, agar bisa lapang menerima kenyataan pahit ini. Tari tidak ingin egois, karena Hafiza lebih membutuhkan kebahagiaan itu dibanding dirinya.
Dengan memaksakan diri, Tari melontarkan senyum culasnya. “Masya Allah, tentu saya izinkan, Pak Dokter. Saya sama sekali tidak ada hak untuk melarang. Tapi, saya punya satu permintaan untuk Pak Dokter.”
“Katakan,” ujar Allan menyanggupi.
Tari menggigit bibirnya dalam-dalam. Ia pun memberanikan diri untuk menatap Allan lekat-lekat. “Jika memang Dokter Allan benar-benar serius dengan adik saya, tolong buat dia bahagia. Dia gadis yang lugu dan polos. Ya, meski kelakuannya kadang suka menyebalkan, tapi saya begitu mengenalnya. Bagi saya, Hafiza adalah malaikat tanpa sayap. Tanpa pamrih, Hafiza selalu menjadi super hero untuk orang-orang yang membutuhkan pertolongannya. Meski Hafiza tahu, jika kebaikannya selalu di manfaatkan, tapi Hafiza selalu bodo amat akan hal itu. Saya sangat tahu bagaimana sifat Hafiza. Maka dari itu, saya ingin Hafiza mendapat laki-laki yang tepat.”
Allan mengangguk paham. “Terima kasih banyak, Tari, karena kamu sudah mau mendukung saya. Saya janji sama kamu, akan jadi yang terbaik untuk Hafiza.”
“Biar lebih nyaman, manggilnya aku kamu saja. Jangan terlalu formal,” usul Tari. Jujur saja, ia merasa kurang nyaman dengan panggilan seformal itu.
Allan terkekeh, “Baiklah Tari. Terserah kamu saja.”
Tari menyunggingkan senyumnya. Ada rasa senang yang menjalar di hatinya, tapi ia harus membunuh rasa itu dalam-dalam. Jika tidak, hatinya akan semakin sakit.
“Sepertinya, kamu harus berjuang lebih ekstra untuk mendapatkan cintanya Hafiza,” papar Tari.
Allan mengerutkan alis. “Maksudnya?”
Tari menatap tepat di manik Allan. “Hafiza itu paling susah jatuh cinta. Rasa trauma yang dia alami waktu kecil, membuatnya enggan membuka hati. Ya, aku nggak bisa nyalahin juga. Karena memang, dari kecil Hafiza nggak pernah ngerasain kasih sayang seorang ayah. Hafiza beranggapan, jika semua laki-laki itu sama seperti Ayah. Seorang pengkhianat dan sosok yang tidak bertanggung jawab. Menelantarkan anak-anaknya dan berkelana entah ke mana.” Mengingat itu,perasaan Tari menjadi sesak.
Allan mengusap pelan pundak Tari. “Yang sabar, ya?”
Tari hanya mengangguk. Ia tidak boleh terbawa perasaan. Allan milik Hafiza. Tari tidak boleh merebutnya. “Santai.”
Allan menarik tangannya dari pundak Tari. “Sampai sekarang, Ayah masih suka berkelana?” tanya Allan penuh minat. Ia juga ingin tahu bagaimana asal-usul keluarga dari gadis yang dicintainya.
Tari mengangguk lemah. “Masih. Bahkan semakin menggila. Makanya, kalau memang kamu punya niat baik pada Hafiza, berjuanglah sekeras mungkin. Buatlah Hafiza jatuh cinta. Kamu sudah mendapat dukungan dariku. Sekarang, tinggal bagaimana cara kamu membuat Hafiza yakin. Good luck, ya?!”
“Sekali lagi, terima kasih, Tari.”
Tari mengangguk, “Sama-sama. Ya sudah, kalau gitu, aku duluan ya? Takut telat.”
Allan membungkuk hormat. “Siap, Kakak ipar!”
Tari menarik sudut bibirnya. “Selamat berjuang! Moga sukses. Aku titip Hafiza dulu.”
Anggukan kecil Allan berikan. “Laksanakan!”
“Assalamualaikum,” salam Tari.
“Wa’alaikumussalam, balas Allan.”
Tari pun berlalu dari hadapan Allan. Allan sendiri, hanya bisa menatap punggung Tari yang terlihat semakin jauh, hingga menghilang di balik tikungan.
Setelah kepergian Tari, Allan melanjutkan langkahnya. Ia harus segera mengunnjungi pasiennya satu per satu.
Sudah hampir satu jam, Allan berkutat dengan aktifitasnya. Sekarang, hanya tersisa dua pasien yang belum ia kunjungi. Salah satunya adalah Hafiza. Allan sengaja melakukan kunjungan paling akhir pada gadis itu. Ia pun bergegas mengunjungi pasiennya yang masih tersisa, agar bisa meluangkan waktu lebih lama untuk gadis pujaannya.
Allan memasuki ruangan ditemani para suster.
“Selamat pagi,” sapa Allan ramah.
Dilihatnya, seorang perempuan paruh baya tengah asik menikmati makanan ransum. Di atas ranjang rumah sakit, sang ibu mulai menyuap satu persatu makanan dengan ditemani seorang perempuan yang diketahui sebbagai putrinya.
“Pagi, Pak Dokter,” balas perempuan muda itu dengan tangan yang kerepotan memeganng mangkok ransum dan segelas air mineral di tangannya.
Allan memperhatikan pasiennya dengan seksama. Ia tersenyum melihat pasiennya sudah bisa makan dengan lahap.
“Namanya Bu Marni, Dok. Gula darah acak per jam 6 pagi 200. Tensi darah 127/88, suhu badan 36,7 derajat celcius.” Laporan dari suster.
Allan mengangguk, “Terima kasih, Suster.”
Allan mengalihkan fokusnya pada perempuan yang menjaga Bu Marni.. “Gimana, Mbak, Kondisi ibunya? Sudah tidak muntah-muntah lagi?” tanya Allan ramah.
Perempuan cantik itu tersenyum, “Alhamdulillah, sudah mau makan, Dok. Mualnya masih ada, tapi sudah mendingan, tidak separah kemarin.”
Allan mengangguk paham. “Iya ... mualnya memang efek dari anti biotik yang dimasukkan ke dalam tubuh. Rasa mual akan terus berlanjut sampai pengobatan anti biotiknya dihentikan.”
Anak dari Ibu Marni mengangguk, “Kira-kira, kapan ya, Dok, cairan anti biotiknya bisa dihentikan? Kadang, saya merasa tidak tega melihat Ibu tersiksa.” Mataya menatap sendu pada Allan.
Allan tersenyum dengan mengusap pelan pundak perempuan itu. “ Sabar ya, Mbak? Mengingat luka operasi yang cukup parah, maka pemberian anti biotik harus diberikan rutin setiap hari. Jika tidak, luka ibu Anda bisa infeksi. Dengan pemberian anti biotik, tujuannya agar luka pasien bisa cepat mengering. Jangan sampai, luka ibu Anda dibiarkan terlalu lama. Riwayat diabetes yang diderita pasien juga membuat pengeringan luka menjadi sedikit lebih lama. Mbaknya harus kuat. Jika tidak, siapa yang akan menguatkan ibu?”
Adryan berusaha menyemangati keluarga dari pasiennya itu.
“Terima kasih. Saya janji, akan selalu kuat demi ibu.”
Bu Marnni tersenyum, membuat senyum Allan ikut mengembang. “Sama-sama. Kalau gitu, saya permisi dulu , ya? Masih ada pasien lain yang harus saya kujungi,” pamit Allan.
Perempuan itu mengangguk, “Silakan, Pak Dokter.”
“Mari,”
Saat Allan mulai beranjak, wanita paruh baya yang berada di atas ranjang langsung memanggilnya.
“Nak Dokter.” Suara lemah itu, sontak memuat langkah Adryan terhenti.
Adryan melangkah kemali mendekat pada pasiennya. “Iya, Bu? Ada yang bisa saya bantu?”
Bu Marni mengagguk pelan, “Nak Dokter mau jadi menantu ibu, tidak? Nak Dokter menikah dengan anak saya ini. Namanya Uci, dia cantik dan mandiri. Anak saya terlihat sangat serasi dengan Nak Dokter. Biar saya juga ada yang merawat kalau sakit.”
Di sana, Uci terlihat sedikit tersipu. Entah karena rasa senang atau karea rasa malu atas kejujuran ibunya yang meminta Pak Dokter menjadi suaminya.
Adryan sendiri juga terlihat kebingungan. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena tidak tahu harus menjawab apa.
“Ibu jangan bilang sembarangan, ah! Mana mau Pak Dokter sama Uci, Bu? Pak Dokter berpendidikan tinggi, wajahnya rupawan. Beda jauh dengan Uci yang hanya lulusan SMA dan wajah pas-pasan ini,” kata Uci merendah.
Allan jadi semakin bingung mau menjawab apa. Ia takut melukai hati pasiennya ini. “Emmm ... Mbak Uci cantik, kok. Saya harap, Mbak Uci bisa mendapat laki-laki yang jauh lebih baik dari saya. Maaf, kalau saya tidak bisa mengabulkan permintaan ibu, karena saya sudah ada tunangan.”
Allan bisa melihat binar kekecewaan di wajah Bu Marni. Tapi, Allan terpaksa berbohong karena dirinya ingin memperjuangkan cintanya pada gadis ingusan itu. Ya, hanya Hafiza satu-satunya nama perempuan yang melekat di pikiran Allan. Ia tidak akan berkhianat. Apalagi, dirinya sudah berjanji pada Tari untuk selalu membahagiakan Hafiza.
“Sudah punya calon ya, Nak?” ulang Bu Marni memastikan jika pendengarannya tidak bermasalah.
Allan hanya mampu memberikan anggukan. “Iya, Bu.”
Wanita paruh baya itu tersenyum tulus. “Semoga langgeng ya, Nak. Kamu orang baik. Semoga dimudahkan jalannya menuju halal.”
Doa tulus dari Bu Marni membuat Allan tersenyum. Rasa haru menjalar ke tubuh, mendekap erat pada hatinya. “Aamiin. Kalau begitu, saya permisi dulu, Bu. Mari.”
“Silakan.”
Dengan berat hati, Allan meninggalkan ibu dan anak itu dengan rasa bersalahnya.
Hai, hai, hai ...
Gimana? Ada yang rindu sama Pak Dokter?
Update selow dulu ya, Sayang.
Sampai bertemu di lain kesempatan.
Da dah ...
Muah!