Setelah melakukan visit pada Hafiza, Allan pun melanjutkan visit pada pasien-pasiennya yang lain. Berbeda dengan Hafiza, pasien-pasien Allan yang dikunjunginya terlihat begitu manja dan tebar pesona. Banyak keluhan yang mereka utarakan. Padahal, kata suster yang bertugas merawat dan memantau kondisi para pasien, kondisi pasian sudah berangsur membaik. Bahkan, ada yang sudah bisa pulang hari ini. Namun, setelah Allan sendiri yang memeriksa, hampir semuanya mengeluh kesakitan. Banyak yang rela dirawat di rumah sakit lebih lama, hanya untuk melihat ketampampanan sang dokter. Allan terkekeh mendengar keluhan-keluhan pasiennya. Bahkan, ada ibu-ibu yang sengaja menawarkan putrinya untuk dijodohkan dengan Allan. Konyol sekali bukan?
Allan sampai menggelengkan kepala setelah mendengar pengakuan dari salah satu pasiennya, yang ingin dirawat lebih lama lagi di rumah sakit. Pasien itu ingin Allan menikahinya. Dirinya tidak akan mau pulang sebelum Pak Dokter melamar. Kalau sudah seperti ini, bagaimana jadinya? Pak Dokter memang meresahkan.
Pesona Allan memang tidak bisa diragukan lagi. Rupa menawan bak Dewa Yunani itu, membuat siapa saja yang melihatnya, pasti berkeinginan untuk bisa memilikinya. Meski begitu, masih ada yang tidak terpincut ketampanannya. Ya, hanya Hafiza yang sama sekali tidak tertarik dengan pesona sang dokter tampan.
Gadis itu memang sedikit unik. Ya, keunikannya ini mampu membuat Allan semakin penasaran dengan si Nona Diabetes. Allan pun berniat untuk mengenalnya lebih dekat lagi. Berharap, jika gadis itu bisa dimilikinya suatu saat nanti.
Setelah melakukan visit dengan semua paiennya, Allan kembali menemui Hafiza di ruang inapnya. Dirinya benar-benar ingin tahu semua tentang Hafiza, termasuk kehiupan gadis itu.
Sepertinya, Allan sangat tertarik dengan riwayat penyakit Hafiza. Gadis remaja berusia 18 tahun yang mengidap penyakit diabetes. Sungguh, itu sangat menarik. Hatinya tergelitik, rasa penasaannya pun semankin menjadi. Ia terkagum, melihat semangat dan ketangguhannya untuk berjuang melawan penyakit yang bisa dikatakan cukup berbahaya. Banyak sekali pantangan-pantangan yang memberinya batasan dalam menikmati hidup. Terutama, dalam hal merasakan nikmatnya sebuah makanan berbahan gula.
Meski memiliki banyak kekurangan dalam hidupnya, tapi, ada satu hal yang ada dalam diri Hafiza, yang membuat Allan semakin empati. Yaitu semangatnya. Semangat Hafiza yang tinggi, mampu melukis senyum dan keceriaan yang selalu mewarnai hidupnya.
Hafiza tak pernah mengeluh dengan penyakit yang dideritanya saat ini. Mungkin, di dalam sisinya yang lain, Hafiza adalah sosok yang rapuh, tapi gadis itu tak pernah ingin menujukkan kerapuhannya pada siapa pun. Allan bisa melihat kerapuhan itu di balik mata indah yang menyimpan berjuta misteri. Tapi Allan tidak ingin mengungkit hal itu. Allan takut jika ia pertanyakan soal itu, akan membuat Hafiza menjadi tersinggung. Allan memilih untuk bungkam. Barangkali, suatu saat nanti, Hafiza sendiri yang sudi bercerita padanya, tanpa paksaan darinya,
Allan akui, gadis itu benar-benar hebat. Dirinya berhasil mengecoh semua orang dengan menampakkan ekspresi wajah seceria mungkin, agar terlihat kuat dan tangguh. Keceriaan yang ia pamerkan, hanya sebuah kedok untuk menyamarkan kerapuhannya.
Tok ... tok ... tok ....
Bunyi suara pintu ruang inap Hafiza diketuk. Allan memegang gagang pintu, lalu menariknya ke bawah.
Ceklek.
“Assalamu’alaikum. Selamat siang, Hafiza.” Tepat di depan pintu, ia mengucap salam. Langkah kakinya mulai berjalan mendekati gadis yang tengah asyik dengan aktivitasnya.
Hafiza menarik simpul sudut bibirnya. Terpaksa ia menghentikan aktivitasnya dan mengalihkan perhatiannya dari halaman novel yang tengah ia baca. “Wa’alaikumussalam. Siang juga Mas Dokter.”
Allan memperhatikan Hafiza yang sedang duduk santai di atas ranjang dengan sebuah novel yang berada di pangkuannya.. Hafiza memang suka membaca novel. Tidak hanya itu, dirinya juga sangat suka menulis. Ia rangkum cerita-cerita menariknya menjadi rangkaian kata yang tertuang dalam novel yang indah.
Allan mendekat ke arah Hafiza, lalu menarik kursi kosong yang tersedia di samping gadis itu. Dilihatnya, Hafiza kembali beralih pada novelnya.
“Hei, lagi ngapain?” tanya Allan sembari mengamati Hafiza yang begitu fokus membaca novel di tangannya.
Hafiza melirik Allan sekilas. Setelahnya, ia kembali terfokus pada novel. Tidak ada yang bisa mengalihkan perhatiannya ketika novel sudah digenggaman.
“Hemmm ... lain kali kalau diajak bicara, lihat lawan bicaranya, jangan fokus ke arah lain. Kayak bicara sama tembok jadinya,” tegur Allan. Allan yang merasa diabaikan, tampak sedikit kesal.
“Eh, maaf-maaf,” ujar Hafiza tak enak hati “Aku emang gini orangnya. Kalau udah ketemu novel, nggak bisa diganggu. Harus benar-benar menghayati, biar dapat feelnya,” imbuhnya.
Allan tersenyum getir. “Oh, jadi sekarang saya lagi ganggu kamu baca novel ya? ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu.” Allan berdiri dari duduknya. Ia pun bersiap untuk keluar dari ruangan yang menjadi tempat Hafiza dirawat.
Merasa ada gelagat yang tidak baik, Hafiza langsung menaruh novelnya. Kemudian, ia meraih tangan Allan. Menahannya, agar laki-laki itu berbalik ke arahnya.
Hafiza menatap Allan lekat-lekat.
“Bukan gitu maksud aku. Aduh, salah ngomong ‘kan, aku? Gimana ya, jelasinnya?” Hafiza menggaruk kepalanya. Bingung bagaimana cara menjelaskan maksud ucapannya pada laki-laki itu.
Allan menggidikkan bahu acuh tak acuh. “Tau.”
Hafiza tak bisa menahan senyumnya. Sikap Allan yang seperti ini, terlihat menggemaskan di mata Hafiza. “Ngambekan! Kek cewek.”
“Ya biar!” Allan menatap Hafiza sinis. “Apa senyum-senyum?!” imbuhnya kesal.
“Ya udah, demi Pak Dokter, aku berhenti baca novelnya. Demi Pak Dokter nih, demi Pak Dokter! Sayang ‘kan, ada cogan dianggurin, Hahaha ....” tawa Hafiza menggema. Celotehan Hafiza, ternyata sangat manjur untuk membuat suasana hati Allan kembali membaik.
“Daripada dianggurin, mendingan diapelin,” balas Allan menanggapi humor Hafiza.
“Pacarku memang dekat, lima langkah dari rumah. Tak perlu kirim surat, SMS juga nggak usah. Duh aduh memang asyik, punya pacar tetangga, biaya apel pun irit, nggak usah buang duit. Tak ada malam mingguan, malam apa pun sama. Tiap hari berduaan -- ” Hafiza menghentikan senandung iramanya, saat dirasa ada yang tidak beres.
“Lha, kok aku malah nyanyi ya?” ujarnya menahan malu. Entah mengapa, mulutnya terasa gatal ingin menyenandungkan lagu itu.
Kekehan kecil terdengar dari bibir Allan. Tanpa sadar, dirinya terkagum-kagum dengan suara Hafiza yang terdengar begitu lembut.
Allan memberikan tepuk tangan sebagai tanda penghargaannya.
Prok prok prok.
“Wow, keren, keren. Suaramu bagus banget, Za. Sangat merdu,” sanjung Allan tak membuat Hafiza besar kepala. Dirinya justru semkain merendah.
“Suaraku emang bagus, sih, tapi lebih bagus lagi kalau aku diam. Mana ada merdu, yang ada malah merusak dunia.” Merasa tak pantas mendapat pujian itu, Hafiza pun semakin merendah. Dirinya merasa suaranya biasa saja, tidak ada istimewanya. Apa Pak Dokter yang terlalu lebay? Atau dirinya yang kurang bersuyukur? Entahlah, benar atau salah yang Allan sanjungkan, tapi yang jelas, Hafiza merasa tidak ada yang istimewa dalam dirinya. Termasuk, suaranya sekalipun. Ia sudah melabeli dirinya sebagai perempuan lemah dan gadis penyakitan semenjak mengidap penyakit diabetes yang bersarang di dalam tubuhnya bertahun-tahun yang lalu.
Allan menggeleng, “Enggak, emang beneran bagus, kok. Aku gak bohong,’ ucapnya sembari mengacungkan jari tengah dan telunjuknya.
Hafiza terkekeh, “Lebay ah!”
Allan mengacak gemas rambut Hafiza. Sudah lama dirinya tidak merasakan kenyamanan ini saat bersama perempuan sejak dirinya dikhianati sang pujaan hati bertahun-tahun yang lalu. Sekarang, rasa nyaman itu ia dapatkan kembali saat bersama dengan Hafiza. Entah, apa keistimewaan yang dimiliki gadis ini, sehingga bisa membuat Allan empati dalam waktu yang begitu singkat. Bahkan, tidak lebih dari hitungan hari.
“Bukan lebay, tapi aku jujur. Suaramu beneran bagus. Bahkan, bagus banget. Bisa nih, diduetin. Tapi, sayangnya nggak ada gitar.”
Mendengar kata gitar, Hati izHafiza menjadi berbunga. “Pak Dokter bisa main gitar?” tanyanya antusias.
Allan mengangguk lemah. “Bisa. Alat musik yang aku bisa cuman gitar sama piano. Yang lainnya, aku nggak bisa,” jawabnya jujur.
Seketika, mata Hafiza berbinar. “Keren, keren,” pujinya.
Allan terkekeh, “Aku mah, gak ada apa-apanya, Za. Kalau soal musik, adik aku lebih jago. Tapi sayangnya dia gak di Indonesia.”
Hafiza membawa pandangannya menatap Allan. “Ya gak papa. Bisa main gitar sama piano, menurut aku itu udah keren buanget loh.”
“Masa?” Allan meragukan Hafiza. Mungkin, yang Hafiza katakan, hanya untuk menghibur Allan. Pada nyatanya, tidak benar-benar seperti itu.
Hafiza mengangguk sebagai jawaban. “Tau nggak sih, kalau cowok bisa main gitar, itu punya plus di mata perempuan? Apalagi, kalau di anugerahi suara yang mendukung, makin meleleh lah. Plusnya jadi kebanyakan.” Tidak bisa di pungkiri, Hafiza juga begitu menyukai laki-laki yang pandai memainkan gitar. Entah kenapa, di matanya, mereka punya nilai tambah tersendiri yang tidak bisa dijelaskan.
“Di mata kamu juga, nggak?” Allan menatap Hafiza tanpa berkedip, seolah meminta jawaban atas pertanyaannya.
Hafiza membalas tatapan Allan tak kalah serius. “Termasuk di mataku. Jujur, entah kenapa, kadang aku suka kagum sama cowok yang bisa main gitar ditambah dengan suara yang bagus. Aku juga nggak paham, kenapa bisa gitu. Masih jadi sebuah misteri hingga detik ini.”
“Suka dinyanyiin?” tanya allan manis. Sepertinya, Allan memang sengaja membuat Hafiza jadi meleleh. Pepet terus, ya!
Wajah sumringah Hafiza menjelaskan segalanya. Gadis itu terlihat begitu semangat. “Suka, suka banget malah,” ujarnya antusias. Bahkan, Allan bisa merasakan pancaran sinar di wajah cantiknya.
Allan melempar senyumnya. Melihat Hafiza yang kembali bersemangat, membuat Allan ikut bahagia. “Ya sudah, kapan-kapan aku nyanyiin deh pakai gitar. Entar kita duetin.”
“Siapa takut!’ ujar Hafiza antusias. “Tapi jangan PHP loh, ya? dijanjiin doang mah, gak enak,” imbuhnya lagi.
“Enggak, dong. Cowok itu yang dipegang ucapannya. Kalau cuman bisanya tebar janji sana sini, pakai rok aja, sekalian sama gincunya.”
Hafiza terkikik mengingat kebodohannya. Bahunya pun sampai bergetar. “dulu sering banget di PHP. Rasanya tuh sakit. Mana cuman dijanjiin doang, tapi udah berharap lebih,” curhatnya.
“Makanya jangan terlalu berharap. Kena tipu, ‘kan?” ledek Allan.
“Kok rese ya?” lirik Hafiza sinis. Hafiza pun membuang muka ke arah lain.
Meski tak mau menatap Allan, tapi wajah gadis itu tak luput dari pandangan Allan. Allan terus memandang Hafiza walau hanya terlihat sebagian saja.
“Dah, gak usah ngambek. Boleh minta nomor ponselnya, nggak?”
Dengan wajah yang masih ditekuk, Hafiza kembali menatap Allan, Setelahnya, ia menodongkan tangannya di hadapan Allan, berharap sang empunya segera memberikan ponselnya.
Allan yang tidak peka pun bertanya-tanya. “Apa?” ucapnya dengan Alis mengkerut.
“Ponsel Bapak, mana? Katanya mau minta nomor HP?!” jelasnya dengan nada sedikit ketus.
“Oh,” jawab Allan.
“Oh ... gitu aja nggak tahu, dasar nggak peka!”
“Aku bukan dukun. Jadi, gak bisa baca pikiran kamu.”
Hafiza terdiam. Dirinya tidak menanggapi.
Dengan menarik napas panjang, Allan mencoba untuk sabar. Memang perempuan itu susah dipahami. Kalau benar minta diakui, kalau salah tidak mau disalahkan.
Allan merogoh jas putih kebanggaannya. Ia pun mengambil benda pipih dengan logo apel gigit yang ada di dalam saku jasnya.
Saat ponsel sudah berada di genggaman, Allan mengeluarkannya dari dalam.“Nih,” ujarnya seraya memberikan ponsel itu pada Hafiza.
Hafiza menerima uluran tangan dari Allan. Seketika, ponsel pun berpindah genggaman.
“Sandinya?” tanya gadis itu saat melihat ponsel yang dirinya pegang harus terbuka dengan sandi. Allan sengaja mengunci layarnya agar tidak disalahgunakan
“Hafiza Cantik, huruf kecil semua, tanpa spasi.”
Mata Hafiza nyalang, menatap Allan tak suka. “Lha, malah gombal! Aku serius ih!” ujarnya kesal.
“Aku juga serius, Cantik. Emang itu sandinya. Coba aja kalau nggak percaya.”
Hafiza tidak ingin berdebat. Dengan ragu, dirinya menuliskan kata yang tadi Allan instruksikan.
Senyum Hafiza mengembang lebar saat kunci sandi terbuka secara otomatis hanya dengan mengetikkan kata ‘Hafiza Cantik’ di sana. Dirinya tidak menyangka, jika Allan sampai segitunya. Menjadikan namanya sebagai sandi utama layar ponselnya.
‘Bisa nggak?” tanya Allan.
Hafiza mengangguk. Senyum manisnya tetap awet menghiasi wajah cantik itu. “Ho’oh, bisa dibuka. Tapi kok Pak Dokter pakai nama aku?” tanyanya penasaran. Matanya menyipit seolah meminta penjelasan.
“Gak papa, aku suka aja sama nama itu. Nama kamu bagus. Kalau suka sama orangnya, boleh gak?”
Hafiza salah tingakah. Dirinya menepuk pundak Allan dan hanya menganggap kata-kata yang keluar dari bibir Allan sebagai celotehan.
“Gombalnya nggak mempan ya? Mohon maap.” Suara kikian terdengar hingga membuat bahu Hafiza bergetar.
Allan pun ikut terkekeh, “Hehe ... bercanda, kok. Tapi kalau dianggap serius ya alhamdulillah,” ucapnya tulus dari hati.
Hafiza tidak tahu harus menanggapi seperti apa. Ia hanya bungkam. Setelahanya, tidak ada lagi percakapan. Baik Allan maupun Hafiza, keduanya sama-sama memilih hening.
Bersambung dulu ya ...
Sampai bertemu di lain waktu.
Da dah ...
Muah!