“Ow ... sh*t!” Lelaki itu berguling di lantai sambil memegang bagian tubuh keramatnya. “Sa—kit ba—nget, anj***!”
Suasana di sana seketika hening, sampai salah satu wanita—yang tadi duduk di pangkuan lelaki itu sadar dan akhirnya beranjak menghampiri. “Oh my God, Tuan!”
Wanita itu membantu lelaki itu untuk bangun, dan memapahnya ke kursi yang tadi mereka duduki, disambut oleh wanita satunya lagi. Setelah itu, si wanita penolong tadi kembali berbalik dan berjalan menghampiri Lela. Matanya sudah melotot, bahkan hampir keluar dari kelopaknya—seperti hal keadaan tubuh depan atasnya yang hampir melompat dari bajunya. Tangannya sudah terbang ke atas, berniat melayangkan tamparan pada Lela, andai satu dehaman keras tidak menghentikannya.
“Berani sekali kau menyakiti pelayan saya!”
Tubuh Lela seketika bergidik ngeri mendengar suara berat seorang pria yang dia yakini adalah tuannya. Lela tidak berani keluar dari balik tubuh Asih, terlebih kakinya sudah menendang kemalu*n salah satu lelaki di sana tanpa direncana. Sampai sekarang, dari kelima lelaki di sana, Lela belum tahu yang mana tuannya itu. Namun, setidaknya Lela bisa bernapas lega karena lelaki yang ditendangnya tadi bukanlah majikannya.
“Ma—maafkan saya, Tuan Max. Ta—tapi pe—pelayan itu sudah berani pada Tuan Krisna ....”
Max menatap tajam wanita penghibur yang sok menjadi pahlawan itu. Ujung bibirnya terus berkedut menahan geli dan bangga. Tak disangka, jika gadis desa yang polos itu punya refleksi tubuh yang bagus. One shoot! Tendangan yang sangat bagus! Tepat sasaran. “Itu resiko tuanmu!”
Keempat teman Max langsung melotot mendengar jawabannya. Sejak kapan lelaki itu susah payah membela pelayannya. Apakah karena pelayan itu datang bersama si pelayan tua kesayangannya?
“Owh ... sh*t! Eh, Max! Adik gua gak bisa bekerja malam ini, dan itu gara-gara pelayan biarawati lu!” adu lelaki yang diketahui bernama Krisna.
“Itu sebatas peringatan! Sudah gua bilang, jangan coba-coba pada pelayan gua kecuali mereka mengizinkannya.”
“Mana gua tahu dia menolak! Dianya aja langsung main tendang. Awww, adik gua!” Krisna kembali mengerang sakit.
Max tersenyum miring, menatap Krisna penuh ejekan. “Itu tandanya dia menolak.”
“Sia**an, lu. Awww, telur gua juga sepertinya pecah. Dasar pelayan biarawati! Itu kaki apa godam bergerigi?”
“Hahahaha. Kualat, makanya, lu! Sudah tahu doi biarawati, digoda juga!”
Semua tergelak menertawakan Krisna, bahkan Asih pun ikut menertawakan—meski tanpa suara, terbukti dari tubuhnya yang bergetar, dan dirasakan oleh Lela.
Sementara yang lain masih tertawa, Krisna sibuk mengumpat yang terus ditenangkan oleh kedua dayangnya, lain halnya dengan Lela yang sampai saat ini belum merasakan tenang. Kepalanya sedikit bergeser dari tubuh Asih, mengintip suasana di depannya yang saat ini sudah berubah hening dan terganti dengan suara manja para penghibur.
“Astaghfirullah!” Tubuh Lela terlonjak dan langsung membatu. Dia sangat menyesal telah mengintip, dan berakhir harus menyaksikan pemandangan yang tidak pantas dia lihat.
Namun, lebih dari itu ... saat Lela mengintip, matanya tak sengaja bersibobrok dengan mata hitam setajam burung elang. Lututnya langsung melemas setelah menatap mata itu—bahkan tidak sampai dua detik lamanya.
“B—Bi, a—ayo pergi da—dari si—sini!” Lela meremas baju Asih di bagian punggungnya. Tenaganya sudah tak kuat menahan bobot badannya. Kakinya sudah lemas dan kesemutan—terlebih sedari tadi Lela terus membungkuk bersembunyi di balik tubuh Asih yang lebih pendek darinya.
“Keluar!”
Tubuh Lela kembali menegang mendengar suara itu lagi, suara bass yang terdengar sangat berat dan dalam.
Lela buru-buru membungkuk lebih rendah saat Asih membungkukkan badannya. Lalu, di detik selanjutnya, Lela kelimpungan karena Asih yang berusaha melepas tubuhnya dari tubuh wanita itu.
“B—Bibi, Neng mohon jangan ke mana-mana! N—Neng takut!”
“Keluar!” Kembali suara itu terdengar.
Lela buru-buru menegakkan tubuhnya dan langsung menarik tangan Asih menuju pintu keluar. “Ayo, Bi! Sepertinya kita ke sini tidak tepat waktu. Seseorang dari mereka menyuruh kita keluar!” Lela terus menarik Asih, tapi yang dilakukan Asih sebaliknya—malah menariknya agar tetap tinggal.
“Bi ...!” Lela tanpa sadar menghentakkan kakinya dengan nada sedikit manja—tingkah yang selalu dia pakai ketika merayu ayah ibunya. “Hayu, atuh! Didiyeu mah sieun, seer dedemitna.” (Ayo dong! Di sini takut, banyak dedemitnya).
“Hahaha.”
Lela langsung menoleh saat terdengar tawa begitu riuh di sampingnya. Benar saja, mereka tengah tertawa sambil menatap ke arahnya dengan berbagai tatapan. Beberapa detik lamanya Lela seperti kebingungan, lalu matanya mengerjap beberapa kali dan buru-buru mencari tubuh Asih saat sadar dia tidak lagi bersembunyi.
Seorang lelaki yang duduk tak jauh dari Krisna terkekeh sambil menatap Lela geli. “Max, awa boleh kasih pelayan ni ke saye ‘kah? Comel sangat dia, cantik pula tu, cem bidadari sajelah.”
Wajah Max langsung menghitam seketika. Diremasnya pinggang wanita yang sejak tadi menemaninya, membuat wanita itu menjerit kencang—antara sakit dan kaget.
Tanpa menjawab pertanyaan temannya, Max berdiri tiba-tiba—bahkan tak peduli jika saat itu masih ada satu wanita yang duduk di atas pangkuannya, berakibat wanita itu jatuh terpental sedikit kasar.
Lela refleks mundur melihat Max berjalan menghampirinya—yang anehnya, kali ini kakinya tidak bisa digerakkan seperti tadi saat Krisna mencoba menyentuhnya.
Max berdiri tepat di depan Lela yang sudah menunduk dalam. Matanya terus menyorot tajam seakan sedang membelah tubuh gemetar itu. Samar-samar terdengar giginya bergeletuk saling beradu membuat Lela semakin tak kuat menahan kenc*ng—saking takutnya.
“Ikuti aku!” titah Max sambil berlalu. Asih membungkuk meski sang tuan sudah berlalu. Setelah itu dia mengajak Lela keluar dari sana yang tentu saja dituruti gadis itu tanpa pikir panjang lagi.
“Bi, siapa tuan itu?” tanya Lela menunjuk ke arah Max.
“Itu Tuan Max. Majikan kita.”
Lela langsung bergidik dan tentu disaksikan oleh Asih. “Seram sekali wajahnya, ya, Bi? Apa tuan itu marah sama kita?”
Asih menoleh, lalu menggeleng—takjub dengan kepolosan gadis ini. “Sepertinya iya.”
“Ya ampun, Bi. Lalu kita harus bagaimana? Mungkin tuan itu marah karena kita tak menuruti perintahnya.”
“Bukan kita! Tapi kamu sendiri yang tidak menuruti perintah beliau. Dan juga, namanya Tuan Max, kamu harus mengingat namanya jika tidak mau memperburuk keadaan!”
Lela menatap Asih bingung. “Tadi ‘kan Neng sudah mengajak Bibi untuk keluar saat salah satu dari kelima lelaki di sana menyuruh kita keluar.”
“Itu suara Tuan Max. Kamu juga harus mengingatnya jangan salah menebak suara.”
“Baik, Bi, akan Neng usahakan.” Lela mengangguk. “Terus salah Neng di mana, Bi? 'Kan Neng sudah akan menuruti perintah tuan andai saja Bibi menurut pada Neng.”
Asih mengelus kepala Lela yang tertutup kerudung putih—senada dengan baju kerjanya. “Maksud tuan itu, meminta kamu keluar dari persembunyianmu di balik tubuh Bibi.”
Lela mengembuskan napasnya gundah. “Pami atos kiyeu kumaha atuh? Heg pikasieuneun rarayna oge.” (Kalau sudah begini, harus bagaimana? Mana wajahnya menyeramkan lagi).
“Kamu bicara apa, Neng?”
Lela menoleh, lalu menggeleng sambil tersenyum canggung. “Tidak apa, Bi.”
“Ya sudah kalau tidak mau nerjemahin, tapi jangan sampai isinya sebuah umpatan terlebih mengumpat tuan, ya! Bahaya jika tuan sampai tahu.”
Baru juga Lela mendekatkan wajahnya ke arah Asih, suara pintu tertutup dengan kencang membuat dia dan Asih terlonjak bersamaan. Lela mengelilingi pandangannya, dia baru sadar jika ruangan yang dia pijak saat ini berbeda dengan yang tadi. Di sini tenang—teramat tenang, tak ada suara apapun selain napas mereka yang terdengar.
Lela yang sedikit parno dengan masalah mistis, sedikit merinding takut—terlebih warna cat di dinding ruangan itu didominasi warna gelap. Namun, jika harus memilih, Lela lebih memilih di sini yang sepi dibanding ruangan tadi yang bising dan penuh makhluk jejadian yang terlihat oleh matanya.
“Ini di mana, Bi?”
“Ini lantai tiga, ruangan khusus untuk tuan sendiri.”
Lela mengangguk-angguk, tetapi wajahnya kembali tegang saat sadar sesuatu. “Terus kita kenapa ke sini, Bi? Ayo kembali ke kamar kita! Neng takut tuan semakin marah pada ... Neng.”
Asih tersenyum, rautnya sedikit iba. Tentu sedikit banyak dia tahu apa yang akan tuannya lakukan pada gadis ini. Terlebih melihat bagaimana gelapnya wajah sang tuan saat di ruang minum tadi. Ada rasa khawatir, tetapi dia tidak bisa menunjukkannya pada Lela yang berakhir gadis itu akan kabur dari sana. Bagaimanapun juga Asih masih butuh pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, meskipun sisi kemanusiaannya sangat mengkhawatirkan Lela.
“Tuan meminta kita menemuinya. Kalau begitu ayo, agar semua cepat selesai! Jangan takut! Bibi akan terus mendampingimu.”
Lela mengangguk ragu, tak ada pilihan lain juga selain menjalani jalan takdirnya. Dia sangat yakin, Allah tidak tidur dan akan senantiasa melindunginya.
Asih mengetuk pintu besar berwarna coklat tua yang penuh dengan ukiran cantik itu. Tak lama terdengar suara berat—yang masih saja membuat Lela bergidik- menyuruh mereka masuk.
Saat pertama pintu terbuka, hidung Lela langsung disambut dengan aroma kopi, citrus, serta misk, membuat perasaannya seketika tenang dan tidak ingat di mana dia berada, sampai suara dehaman memaksanya kembali pada kenyataan.
Asih membungkukkan sedikit tubuhnya dan Lela pun mengikutinya. Kepala Lela terus menunduk, tak berani mengangkat se-inci pun, terlebih bulu kuduknya sudah berdiri, yakin sekali jika tatapan setajam elang itu tengah terarah padanya.
“Tinggalkan dia di sini!”
Lela menautkan alisnya tak mengerti. Siapa yang ditinggalkan? Pada siapa lelaki ini berbica ....
Lela buru-buru menoleh ke arah Asih yang sudah pucat pasi. Melihat reaksi pelayan tua itu, sontak membuat tubuh Lela kembali bergetar—takut, bahkan wajahnya lebih pucat dari Asih.
“T—Tuan ....”
Max mengangkat tangan kanannya, dan menatap Asih tajam, membuat Asih tidak punya pilihan selain menurut. “Ta—tapi, T—Tuan, bolehkah saya menungguinya di luar?”
Max berdecak tak suka, sedangkan Lela sudah akan menangis bahkan kepalanya terus menggeleng.
“Sejak kapan kamu berani bernegosiasi dengan saya?” desis Max membuat Asih menunduk dalam.
“Ma—maafkan saya, Tuan!”
“B—Bibi ... jangan tinggalin Neng di sini, hiks! Bibi ... Neng sieun (takut), hiks ... Ambu!”
“Ck, kali ini saja. Tunggu di luar!”
Asih mendongak dan membungkuk sopan. Wajahnya sedikit lega saat sang tuan memberi izin dia menunggu Lela. Asih menghadap Lela yang sudah terisak dengan tubuh menggigil, dia mengusapnya dan berusaha menenangkannya.
“Hei, jangan takut! Bibi tetap bersamamu. Bibi menunggumu di luar, d—dan ....” Asih melirik Max yang terus memperhatikan mereka. “Dan jika tuan berbuat jahat padamu, tendang saja seperti yang kamu lakukan pada Tuan Krisna tadi,” nasihat Asih lebih berbisik—takut jika sang tuan mendengar perkataannya.
“Bukankah kamu bilang jika Tuhanmu terus bersamamu dan akan selalu melindungimu selama kamu terus meminta perlindungan-Nya?” lanjut Asih.
Tangis Lela berangsur mereda, apa yang dikatakan Asih benar sekali. Kenapa dia takut sama lelaki ini? Bahkan lelaki itu yang hanya sebatas makhluk pendosa (berminum alkohol, dan pemain wanita)? Akhirnya Lela mengangguk berulang kali, memerintahkan otak dan hatinya agar tenang dan tidak takut. Meskipun sangat bohong jika dia tidaklah ketakutan.
Max berdecak melihat pemandangan di depannya. Kenapa malah saling berbisik? “Jadi, kapan kamu akan keluar?”
Asih menoleh dan kembali menghadap Max, tubuhnya sedikit membungkuk, lalu pamit. Lela berbalik dan terus menatap kepergian Asih—bahkan sampai pintu itu tertutup beberapa menit yang lalu.
“Sampai kapan kamu akan menatap pintu itu?”
“Astgahfirullah!” Lela menjerit saat suara berat terdengar tepat di depan daun telinganya. Tubuh refleks melompat berusaha menjauh, tetapi sesuatu menghalangi puncak kepalanya saat dirinya melompat.
“Argh, sh*t!”
Lela menatap horor ke arah Max yang tengah memegang dagunya. Mata lelaki itu semakin nyalang seperti tengah menatap mangsa yang malang. Tubuh Lela semakin bergetar saat Max mencoba mendekatinya dengan tangan yang sibuk membuka kancing kemejanya. Bibir Max semakin menyeringai melihat bagaimana ketakutannya Lela saat ini. Saat gadis itu mundur selangkah, Max sengaja melangkah lebih lebar, membuatnya dengan gampang mendekati gadis desa itu.
“Kyiaaa!” Lela menjerit sambil berlari menjauh dari Max, dan sepertinya lelaki itu tak mau kalah, terus mengejar dan akhirnya terjadi kejar-kejaran di ruang kamar yang seluas rumah Lela di kampung, bahkan Lela memanjat sofa di sana yang semua pelayan pun belum pernah berani mendudukinya.
“Aa ... leupas! Leupaskeun (lepaskan) ...!” Lela menjerit saat bajunya ada yang menarik dari belakang. Dengan sekuat tenaga, dia mencoba menariknya agar terlepas sambil terus menjerit—meminta belas kasih dari lelaki yang saat itu telah menahan pakaiannya.
Gusti, mung ka Gusti abdi ibadah, sareng mung ka Gusti abdi nyuhunkeun pitulung. (Rabb, hanya kepada-Mu aku menyembah, dan hanya kepada-Mu (pula) aku meminta pertolongan.
Sementara di kamar yang lain, dua manusia berbeda jenis tengah berpelukan di atas ranjang dengan napas memburu, bahkan tangan si pria terus gerayangan tak punya sopan santun seperti tak pernah masuk sekolah. “Jadi berapa si boss transfer uangnya, Beb?”
Si wanita langsung tertawa mendapat pertanyaan itu. “20 juta. Hahahaha.”
Si pria langsung duduk dan tidak peduli dengan tubuhnya terekspos yang penuh dengan bekas perang (koreng) itu. “Wa, banyak bener, Yang. Dan kamu memberikan semuanya pada kakak iparmu?”
Si wanita—yang tak lain adalah Marni, mendengus. “Tentu saja, tidak. Aku hanya mengirimkan uang sejuta pada teh Rani.”
Parto terkekeh. “Aku boleh pinta sisanya dong, Beb? Buat beli penambah stamina.”
Marni mengerling nakal. “Apa sih yang gak buat kamu, Yang?”
Keduanya tertawa ... di atas penderitaan Lela.