Kedatangan Lucas dan Levin

1537 Kata
“Buka ikatan tanganku dulu!” "Tidak mau!" “Ck! Dasar keras kepala!” Andra bangun dari duduknya dengan tangan terikat hingga hampir tersungkur. Ia ingin melihat ruang walk in closet-nya untuk melihat ruang rahasia yang ada di balik salah satu rak dalam walk in closet. Aina dengan sigap ikut bangun sambil menulis dan langsung menghadang Andra. "Mau ke mana?" “Bukan urusanmu!” jawab Andra, ketus. Saat Andra berdiri ia ingat pengait dan resleting celananya terbuka. Ia juga tidak bisa membetulkan dengan kedua tangan terikat. Maka, mau tidak ia meminta bantuan Aina. “Cepat betulkan celanaku?” "Tidak mau!" “Aku mau berjalan, nanti celanaku akan melorot jika kamu tidak membetulkannya!" "Bukan urusan saya. Mungkin melorot lebih baik agar saya bisa langsung mengambil foto Anda." “Dasar gila! Cepat betulkan celanaku!” Aina dengan terpaksa memasang kembali ikat pinggang dan mengaitkan pengait celana Andra setelah itu menutup resletingnya. Tanpa sepatah kata pun, Andra melangkah meninggalkan Aina menuju walk in closet. Aina takut Andra kabur, ia dengan cepat menghadang langkah Andra dengan kakinya hingga tersungkur. “Aww …!” teriak Andra saat tangan dan dadanya membentur lantai. “Apa yang kamu lakukan?” bentaknya. Aina berjongkok di sisi kiri Andra untuk menulis. "Jika Anda berusaha kabur, saya akan melucuti pakaian Anda saat ini juga!" “Sial! Aku dikendalikan wanita ini!” umpat Andra. “Aku tidak kabur. Aku hanya ingin ke ruangan itu!" "Tidak boleh! Selama Anda belum menerima saya, Anda tidak boleh melangkah ke mana pun!" Andra menghela nafas pasrah dan menunduk hingga keningnya menyentuh lantai. “Berani-beraninya dia melakukan ini padaku. Aku pasti akan membalasmu!” Sedang serius menunduk, tiba-tiba Andra dan Aina mendengar suara dobrakan di pintu utama. Keduanya saling tatap karena merasa itu bukan tamu yang datang dengan baik-baik. Aina dengan sigap menelentangkan Andra dan membantunya bangun, lalu menariknya ke walk in closet untuk bersembunyi di belakang pintu. “Ada apa? Kenapa kita harus bersembunyi?” tanya Andra. Aina tidak bisa menjawab karena kertas dan pulpennya tertinggal di lantai. Ia mengarahkan jari telunjuknya ke leher dan membuat garis lurus seperti memenggal kepala. Andra paham maksud Aina yang berarti kematian. Ia ikut diam di belakang pintu dengan tujuan melindungi Aina. Karena ia sendiri bisa melawan dan pandai berkelahi, tetapi tidak untuk Aina. Tiba-tiba keduanya mendengar ada yang membuka pintu kamar dengan cara menembak. Padahal pintu tidak dikunci karena belum diperbaiki setelah didobrakan kemarin malam. Mendengar suara tembakan, Aina sedikit ketakutan dan menghimpitkan tubuhnya pada Andra. Andra tahu Aina ketakutan, ia mengangkat kedua tangannya agar Aina masuk dalam lingkaran tangan yang masih terikat. “Jangan takut, ada aku,” ujar Andra. Aina memberanikan diri memeluk Andra lebih dulu saat bayang-bayang ketiga orang datang dan langsung memukuli Danu. “Bang, Aina takut,” batinnya. Andra menyunggingkan sudut bibirnya menertawakan ketakutan Aina. “Mendengar suara tembakan saja dia takut, tapi dengan sombongnya ingin menjadi bodyguardku bermodalkan kekonyolan yang dia bilang bakat. Dia benar-benar wanita gila,” batin Andra. Tak lama kemudian ia melihat dua orang yang sudah tidak asing lagi di matanya, masuk kamar dan langsung mengacak-acak seisi kamar dan lemari. “Lucas, Levin? Apa yang mereka cari?” gumam Andra dari balik pintu. Andra langsung menunduk melihat Aina yang masih erat memeluknya dan menyembunyikan wajahnya di d**a Andra. “Apa mereka tahu Danu punya adik? Tapi setahuku adik Danu tidak punya masalah apa pun pada keluargaku dan mereka. Bahkan mereka mungkin juga tidak tahu tempat tinggal adik Danu sama seperti aku,” pikir Andra Andra kembali memperhatikan dua adik tirinya yang terus mengacak-acak kamar, entah mencari apa. “Apa mungkin ada benda yang mereka cari di sini?” Di luar walk in closet, Levin dan Lucas terus mengobrak-abrik kamar mendiang Danu. Dari mulai seprei, kolong ranjang, lemari, di balik bantal, laci bahkan hingga ke balik jendela. Keduanya melihat, Danu pergi membawa stempel keluarga dan tidak membawa benda apa pun ketika mereka menyeretnya keluar dari unit apartemen sampai ke mobil. Yang berarti Danu menyimpan benda itu di apartemennya. “Kak, Bagaimana ini! Di sini juga tidak ada!” keluh Lucas pada kakaknya. “Cari terus sampai ketemu!” balas Levin. “Kita sudah mencari ke semua tempat di apartemen ini, Kak!” “Belum semua. Kita belum mencari ke kamar di sebelah kamar ini dan bagian dapur.” “Apa mungkin Si Ajudan munafik itu menyimpan stempelnya sampai ke dapur?” "Stempel?!" batin Andra dan Aina bersamaan di balik pintu. Levin tidak menjawab lagi kerena memperhatikan bekas tanah yang sudah mengering di lantai. “Sepertinya ada orang di sini,” ujarnya dengan suara tiba-tiba pelan karena takut ada orang lain yang mendengar. Kemudian ia melangkah mendekati kertas dan pulpen yang Aina tinggalkan. “Tidak mungkin, Kak. Pintu utamanya saja tidak dikunci dan kerusakan karena kita dobrak dua malam lalu belum ada yang memperbaiki. Itu berarti tidak ada penghuni lain selain Danu,” sanggah Lucas dengan suara pelan juga. “Di sini tempat kita memukuli Danu dan waktu itu tidak ada benda apa pun di lantai. Selain itu, aku ingat betul, lantai dalam keadaan bersih tidak sekotor ini.” Levin melirik ke pintu walk in closet. “Pintu itu juga tidak dalam keadaan pecah.” “Iya, Kakak benar. Aku juga ingat betul kaca itu tidak pecah karena aku melihat berkali-kali ke arah sana saat memukul,” timpal Lucas dengan berbisik. Keduanya mulai melangkah menuju walk in closet sambil menarik trigger pistol masing-masing dan siap menembak. Di dalam walk in closet, Aina menegang dalam pelukan Andra. Ia takut keberadaannya diketahui dua pembunuh Danu. Ia mendongakkan kepalanya dan menatap Andra seperti bertanya, bagaimana ini? Andra mengerti tatapan Aina lalu mencoba menenangkan wanita yang baru ia kenal dengan mengatakan, “Tenang, ada aku, mereka tidak akan menyakitimu!” Begitu Levin dan Lucas melangkah mendekati mereka, Andra menunduk untuk berbicara pada Aina. “Dengar! Ini memang terlihat konyol, tapi percayalah, aku melakukannya demi melindungimu.” Aina menatap Andra dengan heran. Jika dia sedang tidak pura-pura bisu ia pasti akan berkata, apa maksudmu? Ketika Levin dan Lucas membuka pintu, Andra langsung mendorong Aina sambil mencium bibirnya dan berjalan tanpa melepas ciumannya tepat di depan Levin dan Lucas. Aina hanya bisa membelalakan matanya dan tetap mengikuti langkah Andra ke sana-kemari. Andra sengaja terus mencium bibir Aina sambil berjalan dan bersandar dari rak satu ke rak lainnya agar kedua adik tirinya itu berpikir Andra terlalu asyik berciuman hingga tidak menyadari kehadiran mereka sejak tadi. “Kak Andra!” pekik Lucas. Andra langsung menghentikan langkah dan melepas ciumannya. “Sembunyikan wajahmu,” bisiknya sebelum menoleh ke arah Levin dan Lucas agar terkesan ia baru menyadari kehadiran mereka. “Sedang apa kalian di sini?” hardik Andra pada dua adik tirinya agar terkesan kesal diganggu saat berciuman. Aina langsung menunduk begitu Andra melepaskan ciumannya sesuai perintah. “Ka—Kak Andra, kenapa ada di sini? Kenapa tidak pulang ke rumah saja?” tanya Levin, gugup. Levin dan Lucas tidak menyangka orang yang sedang dicari-cari sebagian bodyguard keluarganya ternyata sedang asyik bermesraan di sini. Bahkan, saking asyiknya sampai tidak mengganti baju yang sudah sangat kotor dan tangan yang tetap terikat. Entah konsep cumbuan seperti apa yang sedang diusung kakak tirinya itu. “Apa salahnya aku pulang ke apartemenku sendiri?” balas Andra. “Mamah mengkhawatirkanmu, Kak, karena Kakak tiba-tiba menghilang di pemakaman," ucap Lucas. “Itu bukan urusan Kalian! Cepat pergi dari sini!” bentak Andra lagi. “Baik, Kak, kami segera pergi. Kami akan mengatakan pada Mamah, Kak Andra berada di sini, agar Mamah tidak khawatir lagi,” ucap Levin lalu menutup pintu. “Sial! Kenapa dia ada di sini?” umpat Lucas begitu pintu tertutup, padahal suaranya masih terdengar jelas oleh telinga Andra dan Aina melalui lubang pecahan kaca. Keduanya langsung melangkah meninggalkan kamar Danu dan menutup pintu yang sudah tidak bisa ditutup lagi karena rusak terkena tembakan mereka. “Aku pikir Si Keras kepala itu sudah diculik dan dibunuh para preman di sekitar makam, ternyata dia masih hidup!” gerutu Levin. Saat melewati ruang tamu, Levin menghentikan langkahnya dan memperhatikan foto Aina yang sedang memeluk Danu. “Apa Danu punya kekasih?” tanya Levin. Lucas yang sudah hampir melewati pintu utama, langsung memundurkan langkahnya dan ikut menatap foto Aina dan Danu. “Yang aku dengar, kekasih Danu hanya Fara, bukan wanita di foto itu,” balas Lucas. “Lalu siapa dia? Kenapa bisa memeluk Danu seerat itu?” tanya Levin lagi. “Sudah, Kak, itu bukan urusan kita. Itu nasib sialnya Fara, ditinggal mati, diselingkuhi pula,” celetuk Lucas lalu kembali melangkah keluar. Di dalam kamar .... Andra sedang menahan senyum sambil memperhatikan Aina yang terus menunduk di dadanya. ia pikir, Aina sedang merasakan malu karena berciuman dengan pria yang baru pertama bertemu. Padahal, Aina menunduk karena memikirkan ucapan Andra pada dua orang yang ia tahu sebagai adiknya dan mengakui ini adalah apartemennya. Dari situ Aina baru ingat bahwa apartemen ini adalah pemberian dari anak Tuan Bara, yang berarti Andra tahu ini adalah apartemen Danu. “Semoga saja dia percaya bahwa aku bukan adik bang Danu,” Selain itu, Aina juga menahan kesal karena tidak terima bibirnya dinikmati pria selain Abi—pujaan hatinya. Andra mengangkat kedua tangannya agar Aina bisa menjauh darinya, tapi, alih-alih melepas, Aina justru tetap diam dan memeluk Andra “Hei, kenapa diam saja? Kamu ketagihan?” ledek Andra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN