Aina mengangkat kepalanya perlahan dengan mata terpejam karena masih mengantuk.
“Kenapa kamu memborgol tanganku?”
Aina segera mencari kertas untuk menulis jawaban. Namun, ia tidak tahu di mana Andra meletakkan kertas dan pulpenya semalam. Mau tidak mau ia menggunakan bahasa isyarat. Ia menyilangkan kedua tangannya ke bahu dengan maksud kata ‘Menjaga’. Lalu menunjuk Andra dengan maksud kata ‘kamu’.
Tetapi Andra menangkapnya lain, saat Aina menyilangkan kedua tangannya, Andra pikir, Aina ingin memeluknya yang berarti cinta dan hanya memahami ketika Aina menunjuk dirinya.
“Kamu mencintaiku?”
Sontak Aina langsung menunjukkan wajah heran saat mendengar jawaban Andra. “Darimana dia menangkap maksud cinta pada bahasa tubuhku?” protesnya membatin.
“Kita baru satu malam kenal dan dua hari dua malam kita bersama, tapi kamu sudah mencintaiku? Apa semudah itu kamu jatuh cinta pada seseorang?”
Aina Langsung menggeleng dan beranjak dari duduknya untuk duduk di depan Andra lalu menulis satu persatu huruf di dadanya agar Andra paham.
"M. A. N. A. K. E. R. T. A. S?’’
“Itu, di laci nakas,” jawab Andra setelah paham tulisan Aina
Aina langsung mengulurkan satu tangannya yang terbebas dari borgol untuk mengambil kertas di tempat yang Andra tunjukkan lalu menulis jawaban. "Saya terpaksa memborgol Anda bersama dengan tangan saya, agar saya bisa langsung bangun jika ada yang menculik Anda."
Andra mendengus kasar setelah membaca jawaban Aina. “Lalu bagaimana jika tiba-tiba ada yang menembak di tempat tanpa membawa aku pergi terlebih dahulu?”
"Saya sudah menyiapkan postol di kolong tempat tidur ini jika ada serangan mendadak, dan saya juga mengganjal pintu dengan meja rias agar tidak ada yang masuk ke sini."
Mata Andra langsung melirik ke pintu setelah membaca tulisan Aina. “Kewaspadaanmu cukup bagus!” pujinya
"Terima kasih."
“Tapi sayang, kamu sudah melalaikan tugasmu. Seharusnya kamu tetap terjaga menjagaku, bukan ikut tidur di dekatku.”
"Apanya yang lalai? Saya tetap menjalankan pekerjaan saya dengan baik. Hanya saja dengan cara yang berbeda, tetapi intinya tetap sama. Saya juga baru satu jam tertidur di lantai bukan dari awal Anda memberikan perintah. Itu berarti saya sudah menjalankan tugas saya semaksimal mungkin."
“Menjalankan pekerjaan dengan cara yang berbeda, tetapi intinya sama?”
"Iya! Anda tetap aman, ‘kan?"
“Kalau begitu untuk apa aku menyuruhmu diam di sini? Jika untuk menjaga saja, aku bisa menggunakan CCTV, tetapi aku tidak butuh hanya sekedar penjagaan, aku juga membutuhkan tenagamu untuk melindungi aku dari bahaya. Lalu jika kamu tertidur, tentu bahaya itu sudah lebih dulu menyerangku sebelum kamu bergerak.”
"CCTV hanya mengawasi bukan menjaga!"
“Tetapi kamu tidak menjaga dan juga tidak mengawasi. Kamu tidak menjalankan tugas bodyguard sebagaimana mestinya!”
"Apa perlu saya tulis lagi letak pistol dan meja rias, juga fungsi borgol yang sengaja saya pasangkan pada tangan saya? Bukankah itu semua bentuk penjagaan saya? Lagipula saya hanya tertidur bukan pergi"
“Itu berarti kamu tipe orang yang meremehkan tugas. Kamu bertindak semaumu dalam bekerja atau lebih tepatnya kamu sedang mengatur bosmu!”
Andra terus mencari kesalahan Aina karena ingin membuat Aina jengkel padanya.
"Jika hasil kerja saya lebih memuaskan, bahkan jauh lebih baik, why not?"
“Tetap saja caramu salah. Kamu hanya ingin dinilai di akhir, atau lebih tepatnya kamu malas saat bekerja,” celetuk Andra
"Bukan ingin dinilai di akhir, saya hanya mempermudah pekerjaan yang bisa dipermudah. Anda memerintahkan saya berdiri tegak semalaman hanya untuk menjaga orang yang terlelap, jika saya bisa tidur sambil tetap menjaga Anda, apa salahnya? Jika Anda bilang saya malas saat bekerja, perlu Anda ketahui, menggeser meja rias seorang diri itu tidak mudah. Ada tenaga ekstra yang harus dikeluarkan hanya untuk tidur selama satu jam. Apa pantas itu disebut kemalasan?"
“Kamu yang menyulitkan dirimu sendiri. Aku tidak menyuruh untuk menggeser meja rias itu.”
"Itu karena perintah Anda yang keterlaluan. Menyuruh orang berjaga semalaman tanpa diberi makan dan istirahat."
“Itu sudah resikomu sebagai bodyguardku.”
"Apa tidak diberi makan juga resiko saya?"
“Apa memberimu makan adalah kewajibanku sebagai bosmu?”
Aina menghela nafas pasrah mendengar jawaban Andra. “Benar juga, semalam dia tidak mengizinkan aku makan denganya, bukan tidak memberi aku makan dan aku juga tidak membuat porsi makanan yang banyak. Seharusnya saat membeli ponsel, aku sempatkan diri untuk mencari makan, tapi karena bertemu Kak Bi, aku jadi lupa makan karena terlalu sibuk bersedih,” keluhnya.
“Cepat buka borgolnya!” perintah Andra saat Aina tidak menjawab lagi.
Aina langsung merogoh saku jeans-nya untuk mengambil kunci borgol, kemudian membuka benda yang menyatukan kedua tangan mereka sejak satu setengah jam lalu.
Setelah itu, Andra beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi dan Aina keluar dari kamar untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah dan membuat sarapan.
Saat melihat Aina kesulitan mendorong meja rias, Andra menghentikan langkahnya. Bukan untuk membantu, tetapi untuk menertawakan kesusahan Aina. Andra bersandar ke dinding dengan dua tangan melipat di d**a.
"Gadis bodoh, menyusahkan diri sendiri," gumam Andra tanpa berniat membantu.
Sedangkan Aina hanya bisa melirik sinis ke arah Andra, saat Andra hanya diam tersenyum melihat kesusahannya dan tidak membantu sedikit pun sampai ia bisa keluar dari kamar.
Setelah mandi dan merapikan diri, Andra masuk ke ruang rahasia hingga setengah jam lamanya hanya untuk menyusun strategi agar membuat Aina mengakui tujuannya menjadi bodyguard, lalu keluar setelah tidak bisa menemukan ide apa pun.
Saat Andra keluar kamar, ia melihat tiga koper sudah berjajar rapi di depan kamar Aina. “Mau ke mana dia?” tanya Andra pada diri sendiri.
Kemudian ia melanjutkan langkahnya menuju meja makan dan melihat Aina sudah berdiri tegak di samping meja dengan pakaian rapi.
Di atas meja ada dua kertas bertuliskan. Selamat menikmati sarapan yang sudah saya buatkan.
"Mohon maaf dengan menu yang sangat sederhana karena waktunya tidak cukup untuk memasak lebih lama lagi dan hanya cukup untuk membuat omlet."
“Aku dapat memaklumi kemiskinanmu!” celetuk Andra.
“Bukannya berterima kasih, malah menghina. Sudah bagus aku buatkan sarapan. Lagipula membuat sarapan tidak ada di jobdesc seorang bodyguard,” gerutunya dalam hati.
Sebenarnya Aina sedikit heran melihat Andra berpakaian cukup santai untuk orang yang akan pergi ke luar rumah dengan kaos dan celana Chino. Namun, ia enggan bertanya dan membiarkan Andra makan hingga selesai dengan tetap setia berdiri di samping meja seperti tadi malam.
“Kamu tidak ingin makan?” tanya Andra setelah selesai.
"Tidak, Tuan, terima kasih."
“Aku sedang berbaik hati dan mengizinkanmu makan sekarang.”
"Tidak. Terima kasih."
“Ya sudah.”
Kemudian Andra beranjak dari duduknya untuk menuju ruang tamu dan Aina langsung mengikuti langkah Andra.
“Koper siapa?” tanya Andra saat melewati kamar Aina.
"Kita."
“Kita?” tanya Andra heran.
"Iya, kita!"
“Memangnya kita akan ke mana?”
"Memangnya Anda tidak ingin pulang ke rumah?"
“Ini rumahku, Bodoh!”
"Ini apartemen saya!"
“Sejak kapan ini menjadi apartemenmu.”
Aina menunduk untuk memikirkan alasan yang tepat. “Sial! Aku terjebak pertanyaan ini lagi!” gerutunya.
“Kenapa tidak bisa menjawab?”
Aina langsung menulis pertanyaan yang berupa serangan balik. "Jika ini benar apartemen Anda, kenapa saya yang tinggal di sini bukan Anda? Atau jangan-jangan Anda hanya mengaku-ngaku saja karena sudah nyaman disekap selama dua hari dua malam di sini? Ternyata saya bekerja pada seorang penipu?"
Andra menyunggingkan sudut bibirnya sambil menggelengkan kepala, antara meremehkan dan kagum dengan cara Aina membalikkan ucapannya.
“Aku akui kehebatanmu melindungi diri dengan balik menuduhku.” Andra mencondongkan tubuhnya untuk berbisik, “Tapi sayang, kebohonganmu masih terlalu berantakan.”
"Terima kasih atas pujian dan tuduhan Anda, tapi apa yang saya katakan tadi adalah sebuah kejujuran."
“Kamu bisa tunjukkan bukti kepemilikan apartemen ini?”
"Saya bukan orang bodoh yang bisa ditipu dengan cara murahan seperti ini. Jika saya tunjukkan surat-surat kepemilikan apartemen ini, Anda pasti akan mengambilnya. Karena sepertinya Anda tertarik dengan apartemen ini."
Aina terus mencari alibi-alibi konyol yang ia sendiri ketakutan setiap kali memberi jawaban. Ia takut Andra lebih ngotot darinya karena memang ia sadar ini adalah apartemen Andra. Namun, ia sudah terlanjur berbohong dan pantang untuk mengaku. Maka, tidak ada jalan lain selain menciptakan kebohongan baru untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Bahkan, dalam kesombongan yang ia tunjukkan pada Andra, ada rasa takut yang terselip di hatinya. Ia takut Andra benar-benar mengorek tentang apartemen ini.
“Entah kenapa tiba-tiba aku jadi suka bermain kata-kata denganmu?”
Andra mulai melihat kebingungan di wajah sombong Aina dan sedikit puas melihat Aina terjebak kebohongannya sendiri.
"Bisa kita berangkat sekarang, Tuan?" Aina sengaja mengalihkan pembicaraan agar Andra berhenti membahas apartemen.
“Berangkat ke mana?”
"Tentu saja ke rumah Anda!"
“Kamu ingin kita berputar di topik yang sama?”
"Maksud saya, rumah keluarga Prayoga."
“Ke sana?” pekik Andra heran, karena Aina tiba-tiba berpikir ia akan ke sana!
"Iya, ke sana!"
“Memangnya kapan aku mengatakan akan ke sana hari ini?”
"Lalu kapan?"
“Sejak aku tiba di Indonesia, aku sudah berencana akan tinggal di apartemenku selama satu bulan, baru aku pulang ke sana!”
“Apa? Satu bulan? Yang benar saja? Lalu untuk apa aku menculik dia sekarang, jika satu bulan lagi dia baru pulang?!” gerutu Aina.
Melihat wajah terkejut Aina, Andra sedikit heran dengan ekspresinya. “Kenapa dia sekaget itu?”
"Kenapa satu bulan, kenapa tidak sekarang saja?" tulis Aina lagi.
“Apa ada yang kamu tuju di sana?” selidik Andra dan mengabaikan pertanyaan Aina.
"Tidak ada."
“Lalu kenapa kamu terlihat kecewa?”
"Karena saya sudah tidak sabar ingin menunjukkan keahlian saya dalam melindungi Anda. Jika satu bulan Anda di sini, itu sama saja saya seperti baby sitter Anda. Atau mungkin seperti ART yang harus melayani keperluan makan, pakaian, dan menjaga di saat tidur. Lalu mana pekerjaan sebagai bodyguardnya?" bohong Aina, padahal ia ingin segera ke kediaman keluarga Prayoga untuk membalas dendamnya.
“Kamu ingin segera melakukan pekerjaan sebagai bodyguard?”
"Sangat ingin!"
“Baik, akan aku kabulkan.”
Aina langsung menunjukkan ekspresi senangnya sampai bertepuk tangan kecil lalu mulai menggeret tiga koper sekaligus, meskipun terlihat sulit.
“Memangnya siapa yang menyuruhmu pergi?”
Aina menghentikan langkahnya dan menatap Andra heran, lalu kembali menulis. "Bukankah tadi Anda bilang, saya akan segera melakukan pekerjaan sebagai bodyguard?"
“Benar. Tetapi aku tidak menyuruhmu pergi.”
"Lalu?"
“Ambil dua pistol di walk in closet sekarang!”
"Untuk?"
“Sudah ambil saja!”
Aina segera berlari menuju kamar Danu dan dan mengambil dua buah pistol sesuai perintah, lalu berlari lagi menghampiri Andra.
“Kerjamu cukup cepat!” puji Andra saat Aina mengambil pistol dalam hitungan satu menit. “Apa kedua pistol ini sudah diisi peluru?”
"Aku tidak tahu"
“Dasar bodoh! Jika ada musuh, lalu kamu memegang pistol kosong, tentu kamu sudah mati lebih dulu sebelum menyerang.”
"Memangnya bagaimana bisa tahu pistol itu kosong?"
“Tentu saja tidak ada peluru yang keluar saat ditembakkan.”
“Benar juga!” Aina memukul kepalanya sendiri, menyadari kebodohannya.
Andra hanya mendengus melihat tingkah bodoh Aina. “Na, apa kamu bisa mengisi peluru?”
"Tidak bisa!"
“Bodoh sekali!”
Aina menunjukkan wajah cemberutnya karena Andra sudah berkali-kali mengatai dirinya bodoh.
"Kalau begitu, ajari saya," pinta Aina
“Baiklah!”