“Kau tahu bahwa tanggung jawabmu sekarang sudah semakin besar? Aku tak ingin mendengar ada sedikitpun masalah saat Cavano Corp ada di tanganmu.” Bian hanya memasang wajah datar mendengar pesan dari Adrian. Baginya, tanpa Adrian mengucapkan hal itu ia sudah tahu apa yang harus ia lakukan.
“Baiklah, ayah harus berangkat sekarang. Terus laporkan perkembangan kantor.” Adrian melangkah pergi keluar dari mansion milik Bian. Bian bernafas lega, akhirnya ia pergi juga. Bian merasa sudah benar-benar muak melihat wajahnya dan segala aturannya.
Tidak lama setelah Adrian pergi, Reno datang menemui Bian yang sudah bersiap untuk ke kantor. Reno merupakan orang kepercayaan Bian yang bukan hanya membantunya dalam urusan kantor, melainkan dalam segala hal. Apapun yang dibutuhkan Bian, Reno lah orang pertama yang akan ia hubungi.
“Selamat pagi Tuan.”
“Selamat pagi.”
“Temui pimpinan Pelita Holding, beri tahu bahwa saya sudah memutuskan kontrak kerja sama. Kerugian kesepakatan kerja sudah saya kirimkan. Saya tidak mau perusahaan saya memiliki kerja sama dengan perusahaan yang memiliki jejak penimbunan,” titah Bian.
“Baik Tuan,” balas Reno patuh.
“Tuan.” Baru Bian akan melangkahkan kaki keluar dari mansion, panggilan Reno menghentikan langkahnya, menantikan apa yang akan dikatakan Reno selanjutnya.
“Sepertinya Nyonya Olivia tidak bisa tinggal ditempatnya.” Bian mengerutkan dahinya, tanpa bicara seolah meminta penjelasan lebih.
“Nyonya Olivia tinggal di sebuah kontrakan yang kecil Tuan. Lagi pula, bukankah akan tidak baik jika nantinya ada yang melihat nyonya Olivia berkeliaran di luar sana tanpa Tuan?”
“Maksudmu?”
“Tuan sudah memperkenalkan nyonya Olivia sebagai istri Tuan, itu artinya tidak hanya Tuan yang menjadi pusat perhatian, melainkan nyonya Olivia juga. Bukankah akan jadi masalah jika nantinya mereka bertemu nyonya Olivia di luar sana tanpa Tuan?” ucapan Reno itu sukses membuat Bian berfikir sejenak. Mengapa ia tidak memikirkan hal sejauh itu?
“Bawa ia tinggal bersamaku disini.”
“Baik Tuan.”
***
Olivia berjalan melewati gang-gang sempit sebagai jalan pintas menuju rumahnya. Hari ini ia merasa sangat lelah dan ingin segera mandi dan langsung istirahat. Ini merupakan hari pertamanya bekerja sebagai kasir di sebuah mini market. Memang uang yang diberikan Adrian masih ada, namun Olivia sudah berniat menyimpannya untuk keperluan Reyhan jika sewaktu-waktu ia memerlukan tindakan medis lagi. Jadi untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya Olivia berpikir harus mencari pekerjaan. Untungnya tadi ada orang baik yang mau menerimanya. Ya memang Olivia menyandang status sebagai istri CEO kaya raya, Sabian Cavano, namun Olivia tidak pernah berpikir untuk meminta-minta pada Bian. Ia tidak ingin Bian berpikiran bahwa ia sedang dimanfaatkan karena uang pemberian Adrian angkanya sudah sangat fantastis. Lagi pula kalau dipikir-pikir tidak mungkin Olivia hanya di kontrakannya, setidaknya ia harus punya aktivitas lain selain menemani Reyhan.
Mata Olivia menyipit saat melihat seseorang tengah berdiri di samping mobil di depan kontrakannya. Ia tidak bisa melihat jelas siapa orang itu karena sedang membelakanginya. Ia hanya bisa melihat tubuh tinggi tegapnya dari belakang.
“Selamat malam nyonya Olivia,” sapa orang itu saat Olivia berjalan di hadapannya.
“Reno?” Reno tersenyum ramah.
“Ada apa?”
“Tuan meminta saya untuk menjemput Nyonya.”
“Oh ya? Apa ada pertemuan lagi?”
“Tidak Nyonya. Tuan meminta saya untuk membawa Nyonya tinggal di rumah tuan.” Olivia tampak bingung, pasalnya Bian sendiri yang mengatakan bahwa ia tidak harus tinggal bersamanya dan bisa menjalani hidup seperti biasanya.
“Aku tidak bisa Reno, aku ingin tinggal disini,” tolak Olivia.
“Ini perintah tuan, Nyonya.” Olivia menghembuskan nafasnya kasar. Sepertinya ia tidak akan sepenuhnya bebas.
“Baiklah, aku akan bersiap sebentar.”
“Tidak perlu membawa apapun Nyonya, keperluan anda semuanya akan disiapkan disana.” Baiklah, bahkan ia tidak boleh membawa apapun, itu adalah pertanda bahwa sedikit kebebasannya mulai dirampas.
Olivia pun dengan pasrah mengikuti Reno yang akan membawanya kembali ke mansion milik Bian.
***
Olivia keluar dari kamar mandi dengan masih menggunakan handuk kimono dan rambut yang masih basah ia tutupi dengan handuk. Entah sudah berapa lama Olivia berendam air panas, yang ia tahu kini badannya terasa lebih segar. Pantas saja orang kaya terlihat selalu bersemangat dan bisa bekerja dengan giat, jika dengan berendam saja di kamar mandi yang sangat bagus ini sudah bisa membuat badan terasa lebih segar.
Saat tadi Olivia baru sampai di mansion milik Bian, seorang pelayan langsung menyambutnya dan mengantarkannya ke kamar yang akan ditempati Olivia. Olivia cukup lega saat ia diantarkan di kamar yang berbeda dengan milik Bian. Ia hanya menempati satu dari puluhan kamar yang berada di rumah ini. Menurut Reno, Bian akan pulang larut malam, jadi Olivia tidak perlu menunggu dan bisa langsung beristirahat.
Olivia berjalan menuju lemari besar berwarna coklat muda yang ada di kamar itu. Menurut pelayan yang mengantarnya tadi, semua keperluan Olivia ada disana. Olivia tampak kaget saat membuka lemari itu dan mendapati lemari itu penuh dengan pakaian. Orang kaya benar-benar sangat mudah menyiapkan apa yang ia inginkan, pikir Olivia.
Olivia mengambil salah satu baju tidur berjenis night robe berbahan satin berwarna merah tua, malam ini ia memutuskan untuk menggunakan baju itu. Sebenarnya Olivia mencari baju kaus dan celana panjang saja seperti yang biasa ia gunakan setiap malamnya, tapi sepertinya style seperti itu tidak dikenal di kalangan atas seperti ini. Sebenarnya Olivia tidak begitu buta akan fashion sebab dia dulu pernah menjadi asisten seorang desainer selama beberapa bulan sebelum kecelakaan menimpa Reyhan dan membuat ia harus berhenti dari pekerjaannya dan menamani Reyhan.
Setelah menggunakan baju itu dan mengeringkan rambutnya, Olivia memutuskan untuk langsung tidur. Ia berusaha berguling kesana kemari untuk tertidur, namun perutnya yang lapar membuat matanya tidak bisa terpejam. Tadinya ia pikir ia tidak akan lapar, makanya ia menolak saat pelayan menawarkan akan membawa makanan untuknya. Namun ia baru teringat, terakhir ia makan adalah tadi siang, pantas saja perutnya terasa sangat lapar. Kalau sudah begini, Olivia tidak akan bisa tidur dengan nyenyak meskipun dikasur empuk dan kamar mewah seperti ini.
Tidak ada pilihan lain, Olivia bergegas keluar kamar untuk meminta makanan, siapa tahu masih ada pelayan yang bangun. Untungnya pakaian tidur tanpa lengan ini dilapisi dengan jubah dan diikat dengan tali membuat tidak terlalu terlihat terbuka.
Olivia turun ke lantai dasar menggunakan lift yang ada. Sebenarnya ia ingin menuruni tangga, namun sepertinya akan melelahkan, mengingat kamarnya ada di lantai 3. Sebenarnya Olivia tidak mengerti mengapa ia diberi kamar sejauh ini, pasti akan menyulitkan jika ia ingin keluar atau hanya sekedar ingin ke bawah.
“Nyonya Olivia, ada apa?” tanya seorang pelayan yang bertemu dengan Olivia saat ia sudah sampai di lantai bawah.
“Apa boleh aku meminta makanan? Perutku terasa lapar,” Olivia berkata dengan malu. Bagaimana tidak, ia adalah penghuni baru, namun bisa-bisa meminta makanan di tengah malam seperti ini.
“Tentu saja boleh Nyonya. Lagi pula Nyonya tidak perlu ke bawah jika menginginkan apapun. Bisa panggil salah satu pelayan disini menggunakan intercome yang ada di kamar,” jelasnya.
“Tak apa.” Olivia tersenyum.
“Nyonya ingin makan apa?”
“Sepertinya aku hanya butuh sepotong roti.”
“Baiklah, mari Nyonya.” Pelayan itu mengantarkan Olivia ke meja makan. Meja makan yang sangat besar. Terkadang Olivia terpikir, untuk apa Bian membangun rumah sebesar ini padahal hanya ia tempati untuk dirinya seorang dan beberapa pelayan yang ada.
Kalau tidak salah tadi Olivia hanya meminta sepotong roti, namun mengapa yang disuguhkan sebanyak ini? Terlihat begitu banyak makanan di depannya kini membuat Olivia bingung ingin makan yang mana terlebih dahulu.
Olivia membutuhkan waktu beberapa saat untuk berkutat dengan makanan-makannya yang membuat perutnya kini sudah terisi penuh dan siap untuk tertidur. Jika sudah kenyang begini, Olivia bisa memastikan bahwa dirinya akan tidur dengan nyenyak.
Merasa sudah makan dengan cukup, Olivia bergegas untuk kembali ke kamar. Baru ia akan menggapai tombol lift, tiba-tiba ada tangan lain yang terlebih dahulu menekannya membuat Olivia tersentak kaget. Olivia langsung menoleh ke belakang dan mendapati Bian ada di belakangnya dan tengah menatapnya datar sesaat sebelum akhirnya mendahului memasuki lift.
“Apa yang kau tunggu?” pertanyaan Bian dengan nada datar nan dingin itu membuat Olivia tersadar. Sebenarnya Olivia bingung apa ia harus menaiki lift yang sama dengan Bian atau membiarkan Bian naik terlebih dahulu.
“Masuk.” Mendengar instruksi Bian itu membuat Olivia langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift. Suasana di lift menjadi sangat dingin, aura Bian benar-benar tidak bisa diragukan, dalam kondisi apapun ia bisa dengan cepat mendominasi dengan auranya yang sangat dingin dan mengintimidasi.
Olivia diam-diam menghembuskan nafas lega mendengar dentingan suara lift pertanda bahwa mereka sudah sampai di lantai 3, dengan begitu Olivia bisa segera terbebas dari suasana mencekam ini. Baru Olivia ingin melangkah keluar lift tiba-tiba Bian menarik tangannya dan mendorong Olivia ke salah satu sudut dinding lift. Olivia membulatkan matanya terkejut dengan aksi tiba-tiba Bian.
“A.. apa yang kau lakukan Bian?” tanya Olivia gugup. Rasanya ia kehabisan pasokan udara saat jaraknya dan Bian begitu dekat.
“Kau sedang berusaha menggodaku?” tanya Bian dengan nada yang serak. Olivia langsung menggeleng cepat karena ia memang tidak berniat untuk menggoda Bian.
Salah satu tangan Bian dengan mudah membuka ikatan jubah tidur Olivia sementara tangannya yang lain membatasi pergerakan Olivia. Nafas Olivia memburu merasa takut dengan tindakan Bian. Tanpa berkata apapun Bian langsung mendaratkan bibirnya tepat dibibir Olivia membuat mata Olivia kembali terbelalak. Ia berusaha melepaskan diri dari Bian, namun yang ia dapati malah Bian makin mengikis jarak diantara mereka. Olivia bahkan bisa merasakan sesuatu yang keras dibawah sana mengenai bagian perutnya. Bian melumat bibir atas dan bawahnya secara bergantian. Tangan Bian dengan sangat berani menangkup p******a Olivia dan meremasnya pelan membuat Olivia melenguh. Bian benar-benar keterlaluan.
Olivia tidak punya pilihan lain selain pasrah. Untuk kedua kalinya Bian dengan tiba-tiba menciumnya. Air mata Olivia tiba-tiba mengalir mendapat perlakuan seperti ini dari Bian, apalagi bayangan Reyhan tiba-tiba terlintas membuatnya merasa semakin bersalah. Ia tahu bahwa Bian adalah suaminya, namun bukankah Bian sendiri yang mengatakan bahwa ia tidak akan mencampuri urusan Olivia? Jika sudah begini Olivia merasa urusannya sudah dicampuri.
Menyadari Olivia menangis, Bian langsung melepaskan ciumannya. Ia mundur beberapa langkah menjauhi Olivia sementara Olivia langsung memperbaiki pakaiannya. Dengan cepat Olivia menghapus air matanya kasar dan keluar dari lift.
“Olivia,” panggil Bian membuat langkah Olivia terhenti.
“Selain kau harus siap ketika aku panggil untuk ikut denganku saat urusan kantor, kau juga harus siapa saat ku panggil untuk menghangatkan ranjangku,” ucap Bian kemudian menutup pintu lift tanpa menunggu jawaban apapun dari Olivia.
Lagi-lagi air mata Olivia menetes mendengar ucapan Bian, apa lagi ini? Mengapa orang kaya selalu seenaknya saja. Kini Olivia benar-benar yakin bahwa hidupnya tidak akan sama lagi seperti dulu sejak ia menerima uang dari Adrian dan memutuskan untuk mau menikah dengan Bian.
***
Suasana sarapan pagi ini berlangsung sangat hening. Tidak ada pembicaraan yang terjadi sedikitpun antara Bian dan Olivia. Bahkan hingga sarapan usai, keduanya masih bungkam. Sebenarnya Olivia ingin mengatakan sesuatu pada Bian, namun entah mengapa ia sama sekali tidak mampu mengeluarkan suara di hadapan Bian.
“Bian,” saat Bian bangkit dari duduknya, Olivia pun memberanikan diri untuk bersuara. Bian tidak menjawab, hanya menatap Olivia datar menunggu apa yang akan ia katakan selanjutnya.
“Aku ingin meminta izin untuk keluar hari ini, aku akan menemui seseorang,” ucap Olivia.
“Kau pikir dirimu siapa hingga aku harus tau kau kemana? Lakukan apapun yang kau mau asalkan tidak merugikanku karena aku tidak peduli.” Setelah mengatakan itu Bian langsung pergi. Olivia hanya menatap nanar kepergiannya kemudian tersenyum miring merutuki kebodohannya. Harusnya ia tidak bertanya. Olivia pikir karena ia tinggal bersama Bian jadi ia harus memberi tahu Bian jika ingin keluar, ternyata perkiraannya salah. Yang ia dapati malah balasan sinis dari Bian.
Olivia benar-benar tidak bisa membaca kepribadian maupun pikiran Bian yang sesungguhnya. Tadi malam ia bertingkah seolah mengingkan Olivia, namun pagi ini ia malah bertingkah seolah tidak menganggap Olivia ada. Rasanya kepala Olivia akan pecah memikirkan hal ini.