Jimat Hidup

1234 Kata
Wajah pucat pasi membingkai wajahnya yang tampan. Dia sudah ingin menyerah dan lelah menghadapi penyakitnya yang memakan banyak biaya dan waktu. Dia tidak mempersalahkan biaya, karena berasal dari keluarga yang berkecukupan. Yang menjadi masalah, kedua orang tuanya yang berharap ada mukjizat terjadi padanya. Sedangkan dia sudah menyerah. Rangkaian proses pengobatan yang kompleks dan beruntun terkadang membuatnya sedikit frustasi dan drop. Dia hanya ingin sang Maha Kuasa mengambil ruhnya dari jasad yang tak berdaya. Biasanya ada jimat hidup yang selalu menemaninya untuk menjalani beberapa terapi. Tapi kali ini bukan terapi melainkan pertaruhan hidup dan mati, berhasil atau tidak. Sosok itu yang selalu membuat dia sedikit bersemangat. Namun entah kemana jimat itu sekarang. Batang hidungnya pun tak tampak sekilas. "Assalamu'alaikum, Pak Fachri." Rombongan rekan kerja dan beberapa anak didiknya datang menjenguk. Ada yang membawa buket bunga, parcel buah dan jinjingan yang berisi aneka kue kering dan basah. "Ayo masuk dek, silakan, " ucap wanita paruh baya yang mempersilakan masuk sekitar belasan orang yang datang menjenguk putranya. "Bagaimana Pak operasinya sukses?" "Alhamdulillah, sukses terima kasih sudah datang, " ucap si dosen tampan yang menatap semua kerabat dan anak didiknya satu per satu. Diantara semua yang hadir, matanya mencari-cari si 'jimat' yang selalu menjadi kepala rombongan pembesuk dirinya, tidak ada. "Sama-sama Pak, Bu Sinar biasanya sudah ada di sini?" Nah, dia lah sosok yang dicari dosen tampan ini. Kenapa Sinar, yang nama panggilannya Nai tidak mendampingi dirinya. Padahal dia selalu berjanji akan terus mengikuti proses perjuangannya menghadapi penyakit yang merepotkan dirinya ini. "Iya, kemana Nai ya. Fachri menelepon juga gak diangkat," kata Marni, ibunya Fachri. Dia sangat dekat dengan Sinar karena lewat Sinar semua urusan rumah sakit lancar terutama tentang donor darah yang sering dilakukan Fachri. Sampai ke donor sum-sum pun bisa didapatkannya. Padahal tidak semua orang bisa mendapatkan donor sum-sum yang tepat. Yang memiliki ikatan darah yang kental pun tidak bisa mendonorkan sum-sum tulang belakang pada Fachri. Sinar bagi Fachri adalah Cahaya hidupnya. Dia yang selalu ada disaat yang tepat. "Kami pikir Ibu Sinar bantuin Pak Fachri di sini, soalnya beliau sudah 3 hari gak masuk ke kelas, " jawab salah satu mahasiswi membuat Fachri khawatir. Gadis itu jarang sakit dan tidak pernah tidak masuk kerja selama itu. Saat demam pun kadang dia masih tetap bekerja. Selama kurang lebih 30 menit para pembesuk pamit pulang. Fachri buru-buru mengambil ponsel dan kembali menelpon Sinar. Bukan hanya Fachri saja ibunya pun ikut khawatir apa yang membuat Sinar sakit. "Kalian ada bertengkar, Ri? " tanya Marni yang khawatir. Karena sudah merasa dekat dengan Sinar. Dia telah menganggap Sinar adalah putrinya sendiri karena tidak punya anak perempuan. Dua orang anaknya sudah menikah dan merantau di negeri orang. Hanya Fachri si anak bungsu yang masih tinggal bersama mereka. "Gak ada Mah, kemarin saja dia masih segar saat aku telepon. Mungkin kecapean ya cari donor buat aku. " "Bisa jadi Nak, oh ya, kamu sudah tanya siapa pendonornya? " "Sudah, mau aku transfer ke rekening si pendonor tapi kata Nai dia ikhlas. Gimana Mah?" "Harusnya kita tahu, karena ini adalah pertolongan yang ajaib Nak. Desak Nai supaya mau memberi tahu si pendonor itu. Kalau dia gak mau uang, kita bantu apa saja kekurangan dia. Kalau dia cewek, perawan, baik, dari keluarga baik-baik mama mau dia jadi calon menantu mamah. Karena berkat dia yang dikirim Allah untuk kamu, " jelas wanita paruh baya ini. Fachri sudah lama tidak pernah memikirkan tentang menikah karena dia merasa hidupnya tidak akan lama lagi. Untuk apa mencari kekasih dan menikahi seorang wanita yang akan diberinya status janda dengan cepat. "Iya Mah, kalau dia perempuan, cantik atau nggak. Perawan atau bukan, yang penting single, aku akan jadikan di istri jika dia mau. Dan kalau pria, punya adik atau saudara cewek akan aku lamar juga kalau mau. Karena setengah hidupku ada dia sebagai tanda terimakasih." Fachri tidak akan memilih wanita mana yang akan bersanding di pelaminan bersamanya. Dia berharap si pendonor adalah orang yang bisa menerima dia apa adanya. Mencari wanita yang tulus menerima kekurangan lelaki di jaman ini sangat sulit. Ada, tapi jauh dari pandangan mata. Ada, tapi terhalang dengan jodoh yang lain. Belasan kali panggilan tak terjawab dan pesan dari kemarin tidak dibaca. Fachri kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. 'Kamu sakit apa Nai" Tak lama kemudian ponselnya berdering dan satu pesan masuk dari nomor baru yang menanyakan tentang keadaannya. Senyum dibibir Fachri merekah dia kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. "Loh senyum sendiri dari siapa? " "Mah, kalau aku udah sehat dan segar. Pengobatan ini berhasil, kita melamar anak orang ya." "Eh, siapa?" "Ada deh, nanti mamah juga tahu, rahasia," ucapnya dengan bibir mengembang lebar. Membayangkan sosok perempuan itu akan menjadi miliknya seumur hidup. 'Allah Maha Baik, tidak hanya kesehatan yang diberikan tapi juga wanita yang baik untukku. Terimakasih ya Allah. ' *** Jangankan bermain ponsel, untuk beraktivitas seperti biasa saja Sinar tidak mampu. Dia seperti orang lumpuh selama 2 hari dan hari ketiga ini tubuhnya sedikit membaik. Rasa pegal dan ngilu di posisi donor itu yang membuatnya sulit bergerak. Jika pun dia bergerak hanya mandi, makan dan setelah itu tidur lagi. Ibadah wajibnya pun dia lakukan dengan berbaring. "Nai, kamu sudah minum obat belum, ini ibu belikan jamu biar pinggang kamu pulih," teriak sang ibu dari luar kamar. Sakit pinggang adalah alasan utama dirinya tidak mampu bergerak. Ayahnya mengira Sinar terjangkit penyakit turunan dari dirinya. Hal itu masih dianggap lumrah. Sinar beranjak pelan-pelan dari tempat tidur. Berjalan tertatih keluar kamar dan duduk di depan meja makan. Segelas air berwarna kuning pucat telah tersedia di depannya dan siap untuk diteguk. "Mudah-mudahan ramuan ini mujarab. Kamu mau makan apa, nanti ibu masakkan. Sudah 2 hari kamu hanya makan bubur doang. Gak ada proteinnya Nai," kata Laila, wanita yang telah melahirkannya ini. Wajah Sinar merengut, dia tidak bisa dipaksa. Hanya Fachri yang bisa memaksanya makan meskipun dia tidak ingin makan. Kini keduanya sama-sama merasakan sakit yang sama. "Iya, tapi perut masih belum menerima, gimana. Tapi kayaknya Nai mau makan soto deh Mah. Pesan online aja ya," katanya seraya membujuk agar mamahnya tidak marah karena sudah memasak menu yang lain. "Jangan, mamah buatin, ada kok bumbu instan langsung cemplung," ucap Laila dengan tenang. Demi kesembuhan buah hatinya dia rela merasa lelah. Dia senang memasak untuk keluarganya. Semua bumbu dapur lengkap tersedia. Apa pun yang anaknya inginkan pasti dia masakkan. Samar Sinar mendengar cekcok di luar rumah. Dia berdiri dan berjalan menuju ke jendela. Ingin melihat suara siapa yang saling berteriak. "Kai, salah aku apa sih Kai!" "Aku bosan dengan hubungan kita yang hambar. " "Hambar apa, aku setiap malam selalu telepon kamu dan weekend kemarin kita jalan-jalan ke luar kota. Apa yang membuat kamu berubah?" Sinar duduk di kursi mendengar perdebatan antara Sekar dan pacarnya. Sampai akhirnya pria itu meninju dinding rumah mereka lalu pergi dengan motor yang melaju kencang. Laila yang mendengar sekelebat keributan itu, berlarian dari dapur. "Siapa Nai? " Nai belum sempat bicara, Sekar masuk dan langsung ditanya oleh Laila, "Kamu kenapa, ribut sama Anton?" "Iya, Kai mau putus terus dia marah." "Apa salahnya dia, kamu tiba-tiba minta putus? Selama ini Anton bagus kok, anaknya baik. Meskipun jadwal dia kerja simpang siur di rumah sakit tapi dia selalu peduli sama kamu. Bisa antar jemput kamu kerja. Gak boleh gitu Nak, belum tentu kamu dapat ganti yang lebih baik dari Anton, " kata Laila menasihati. Kerasnya hati Sekar tak mau mendengar dia malah membanting pintu setelah berkata, "Ini untuk hidup Kai ke depan. Yang jalani Kai bukan mamah!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN