Aku merasa hampa dan tak berarti lagi. Semua orang telah meninggalkanku seorang diri. Pada akhirnya, aku tetap dihukum hidup dalam kesepian. Meskipun begitu, aku tetap bersyukur masih sempat menemani Karin di hari-hari terakhirnya. Sudah seminggu Karin pergi, tapi rasanya masih sulit dipercaya kami takkan pernah lagi bertemu. Sungguh sakitnya tak terkira. "Pah." Aku menyeka air mata dan menoleh pada Ayesha yang menyentuh lembut punggung tangan ini. "Papa harus kuat," ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Aku mengangguk dan mencoba tersenyum meski air mata terus berjatuhan. Hampir setiap hari aku mengunjungi makamnya ditemani anak-anak. "Papa ...." "Papa baik-baik saja, Ayesha. Papa baik-baik saja," kataku yang nyatanya tetap gagal menahan tangis dengan wajah tertunduk. "Papa." Ayesha ik

