"Karin ...." Dia hanya diam menatapku. "Boleh kami masuk?" tanya Dokter Fandi yang berdiri di belakangnya. "Tentu, Dokter. Tentu. Silakan masuk," jawab Papa karena aku diam, memandang bingung Karin yang terlihat tak bahagia. "Ayo!" ajak Dokter Fandi. Tanpa menoleh pada Dokter Fandi, Karin melangkah perlahan. Pandangannya menyapu ke sekeliling ruangan yang telah dihias pita dan foto-foto kebersamaan kami yang digantung. Karin berhenti melangkah. Satu tangan terulur ke atas meraih foto pernikahan kami yang berukuran kecil, lalu mencabutnya. Mengamati sebentar masih dengan ekspresi datarnya. "Mari, Nak," ajak Papa dan berhasil membuat Karin kembali melangkah dengan foto itu di tangannya. Karin duduk di sofa panjang, sedangkan Dokter Fandi duduk di sofa single dengan Kamal berada di pan

