Kate masih duduk di sofa yang tak jauh dari ranjang yang ditiduri Anya. Malam yang kian merambat menuju pagi. Sempat terlelap beberapa saat dan suara lenguhan Anya di luar sadar membuat Kate terbangun kembali. Ia terperanjat, lalu mendekat ke arah ranjang, Anya yang meracau dalam tidur. “Tidak, Nath. Kau pembunuh, kau pembunuh Ayahku,” kata Anya mengigau yang membuat Kate terperanjat, mata hijaunya membulat, dan jantungnya berdetak hebat. “Tidak mungkin,” gumam Kate yang duduk di tepian ranjang, mendapati kening Anya berpeluh. “Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Nathan Mitchell Stephenson.” Anya bergerak gelisah dalam tidurnya. Kate terdiam, bayangan wajah Nathan melintasi kepalanya. “Ada apa ini?” desis Kate pada dirinya, mencoba untuk memahami igauan Anya.

