BAB 11 Romansa Di Malam Hari (17+)

1025 Kata
Dua hari berlalu. Tapi kabar tentang Mbak Sarah sama sekali tak aku dapat. Pasalnya, Mas Fatih selalu saja melarangku keluar rumah. Setiap kali aku bertanya kondisi Mbak Sarah, dia seolah enggan menjawabnya, Mas Fatih selalu diam atau bahkan mengalihkan pembicaraan, lebih parahnya lagi dia mungkin akan langsung pergi dari hadapanku. Aku menghela napas. Menatap keluar jendela kamarku. Malam ini sudah ketiga kalinya aku tinggal di rumah besar ini seorang diri. Semenjak Mbak Sarah di rumah sakit. Mas Fatih hanya pulang saat siang hari saja, itu pun hanya sekedar berganti pakaian, setelah itu dia pergi tanpa berkata panjang lebar. Sedih? Tentu saja. Tapi mau bagaimana lagi? Bukankah aku ini hanya istri kedua yang sama sekali tidak dia anggap ada? Sekali lagi aku menghela napas. Ku tatap langit malam yang di taburi gugusan bintang itu dalam diam. Rasanya sejuk dan tenang. Aku pun menutup mataku, merasakan damai yang menyusup masuk ke dalam hatiku. “Ah... aku suka aroma angin malam,” gumamku. “Tutup jendelanya,” suruh sebuah suara, membuatku terlonjak kaget, lantas aku pun langsung membuka mata dan menatap ke arah sumber suara itu, “Nanti kamu bisa sakit,” timpalnya. Pria itu, Mas Fatih, entah bagaimana dan sejak kapan, dia telah duduk di pinggir ranjangku. “Mas? Kok ada di sini? Kapan pulang? Kok aku enggak tahu?” tanyaku yang langsung berjalan mendekatinya. “Kamu ngelamun aja dari tadi, suami pulang mana tahu,” komentarnya. Aku menundukkan kepalaku sembari berkata lirih padanya, “Maaf.” Hembusan napas Mas Fatih terdengar berat. Pria itu kemudian berdiri dari duduknya, ku lihat kakinya melangkah mendekat ke arahku. Terus melangkah hingga kini ia tepat berada di hadapanku. “Kamu takut sama aku?” tanyanya. Aku lantas mendongak. Bingung dengan pertanyaannya itu. “Maksud, Mas?” “Aku cuma penasaran, kenapa kamu selalu menundukkan kepala setiap kali berbicara denganku. Apa aku semenakutkan itu di matamu?” Aku diam, bingung harus menjawab apa, otakku pun berputar cepat, mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaannya tanpa menyinggung perasaannya. “Bukan gitu, Mas. Fera... Fera cuma bermaksud menghormati Mas Fatih sebagai suami Fera,” jawabku, berasalan. Karena yang sebenarnya, aku memang takut pada Mas Fatih. Pria itu kadang terlihat lembut tapi kadang juga terlihat seperti singa yang di paksa bangun dari tidurnya, ia seringkali marah padaku hanya karena hal sepele. Termasuk menyalahkanku tentang kecelakaan yang menimpa Mbak Sarah. “Oh.” balasnya, kemudian pria itu berbalik, ia menjauh dari hadapanku. “Aku mau mandi,” ucapnya kemudian. Keningku pun berkerut, lagi-lagi ia membuatku bingung, “Eh? Iya Mas?” “Aku mau mandi,” ucap Mas Fatih kembali, “Apa aku harus mengulanginya sekali lagi?” kesalnya, karena aku tidak langsung paham dengan maksud perkataannya itu. “Iya, Mas. Fera denger kok,” kataku, “Maksud pertanyaan Fera itu, kalau Mas Fatih mau mandi, Fera harus apa?” tanyaku, polos, benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan pada seorang suami saat dia ingin mandi. Masalahnya selama aku menjadi istri Mas Fatih, pria itu tidak pernah meminta hal seperti ini padaku, karena selalu ada Mbak Sarah yang akan mengurusinya. “Masa enggak tahu sih?” Dia masih terlihat kesal, aku pun kembali menunduk. “Fera belum belajar sama Mbak Sarah, salah Fera juga enggak nanya soal ini ke Mbak Sarah. Maaf, Mas” kataku. Mas Fatih menghela napasnya, pria itu kemudian menatapku lekat, membuatku membeku di tempat. “Sini kamu,” ucapnya setelah sekian menit kami diam. Aku menuruti perintahnya. Kakiku pun melangkah ragu mendekat ke arahnya. Satu langkah, dua langkah, hingga langkah yang ke delapan, aku sampai di hadapan pria itu. Dia diam memperhatikanku, masih dengan tatapan lekatnya. “Kenapa berhenti?” tanyanya, “Maju lagi,” suruh Mas Fatih. Aku bingung, masalahnya langkahku sudah mentok di depannya. Tapi pria itu masih saja menyuruhku untuk terus melangkah. “Mas, ini udah mentok, aku harus jalan maju kemana lagi?” tanyaku, layaknya domba lugu yang tak tahu apa-apa. Wajah Mas Fatih terlihat menahan tawanya. Pria itu tampak mesem walau hanya sekilas saja aku melihatnya. “Maju aja,” suruhnya. Aku pun melangkah maju, membuat tubuhku merapat padanya, jarak di antara kami pun kini terkikis habis. “Mas, ini...,” “Sssttt... diam,” potongnya. “Mas, aku— ” “Udah, diam,” potongnya lagi. Aku pun diam, benar-benar diam. Kalau bisa, rasanya aku ingin berhenti bernapas detik itu juga. “Tatap mataku,” suruhnya. “Iii..iya, Mas,” ucapku sembari mendongak, menatapnya yang jauh lebih tinggi dariku. Ya, aku memang terlihat sangat pendek saat berdampingan dengannya, aku bahkan tidak sampai sebatas bahunya, mungkin jika berhadapan sedekat ini, aku hanya setinggi d**a bidangnya. “Kamu sudah dapat bonus?” tanyanya dengan tangan yang tiba-tiba bergerak mengusir anakan rambut yang berada di sekitar wajahku. Tubuhku seketika itu membeku, apalagi saat deruan napas Mas Fatih terasa menerpa wajahku. “Bonus apa, Mas?” Bodoh! — rutukku dalam hati, padahal aku tahu maksud dari pertanyaan Mas Fatih, tapi kenapa aku harus berpura-pura tidak tahu? Apa karena aku terlalu gugup? “Menstruasi,” jawabnya, tanpa menggunakan kata kiasan lagi. “Oh,” ucapku, “Itu... bulan ini belum dapat, Mas. Mungkin sepuluh hari lagi baru dapat kalau enggak telat,” jelasku. Mas Fatih mengangguk paham, kemudian aku merasakan tangannya merengkuh tubuhku. Seriuosly?! Pria ini memelukku! Aku membelalak, antara tak percaya dan terkejut, benarkah ini? Dia memelukku? Wait! Perasaanku tidak enak. Mas Fatih memelukku atas dasar apa ya? “Bagaimana kamu tahu kapan kamu akan menstruasi? Apa kamu menghitungnya? Dan kalau kamu benar menghitungnya, untuk apa? Apa ada yang menyuruhmu melakukan itu?” tanyanya, berbisik tepat di telinga kananku. “Eng... Fera harus jawab yang mana dulu, Mas?” “Terserah kamu, jawab saja dengan singkat,” “Iya, Mas,” ucapku, “Fera emang dari dulu punya aplikasi buat ngehitung jadwal menstruasi. Soalnya Bunda suruh Fera buat ngehitungnya, dan tiap bulan harus lapor sama Bunda kalau misalnya Fera telat lebih dari tiga mingguan,” paparku padanya. “Ah, begitu rupanya,” balas Mas Fatih, “Bunda kamu luar biasa,” pujinya. “Kok bisa?” “Ya, soalnya dia mengawasi kamu dengan cara yang tepat. Kamu 'kan anak perempuan mereka satu-satunya, pergaulan jaman sekarang kalau orang tua enggak pintar-pintar ngejaga anak perempuannya, udah pasti harus siap denger kata 'hamil duluan',” terang Mas Fatih. “Astaghfirullah, amit-amit, Fera enggak mungkin lah sampai kayak gitu pergaulannya,” komentarku. “Siapa yang tahu,” balas Mas Fatih, “Tapi sekarang, Bunda kamu udah bisa bernapas lega,” tuturnya. “Kenapa bisa gitu?” “Karena kamu sudah nikah, kalau pun hamil, sudah sah, halal, enggak akan bikin malu, soalnya yang hamilin kamu kan suami kamu sendiri,” katanya dengan wajah yang tiba-tiba ia benamkan di ceruk leherku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN