BAB 8 Pagi Itu

708 Kata
Pagi itu matahari bersinar terang, pukul tujuh pagi pun sudah terasa seperti siang hari. Aku masuk ke dalam rumah setelah selesai menjemur pakaian. Kakiku berhenti melangkah saat sosok Mbak Sarah terlihat mendekat ke arahku. “Sudah selesai, Ra, jemurnya?” tanya Mbak Sarah. Aku mengangguk sembari tersenyum padanya. “Kamu udah mandi, 'kan?” tanyanya lagi. “Udah, Mbak. Tadi sebelum subuhan Fera mandi dulu,” jawabku. “Bagus kalau gitu, Mbak mau ajak kamu pergi ke pasar swalayan,” katanya. “Ke pasar, Mbak?” “Iya, kenapa?” “Enggak pa-pa sih, cuma... Fera belum pernah ke sana, takutnya nanti malah repotin Mbak Sarah,” jujurku. Wanita itu tersenyum lembut, lalu menjawab perkataanku, “Kenapa mikir gitu? Mbak ajak kamu sekalian kamu belajar. Nanti kalau seandainya... seandainya Mbak pergi jauh, kamu udah siap jadi istri Mas Fatih sepenuhnya.” Aku diam termenung, tak dapat menjawab perkataan Mbak Sarah yang terdengar menyedihkan itu. Dia masih memiliki harapan untuk hidup, tetapi kini hidupnya seolah pasir waktu yang akan segera habis. “Fera siap-siap dulu ya, Mbak,” ucapku, mengalihkan pembicaraan. “Iya, Mbak tunggu kamu di luar,” ujar Mbak Sarah yang kemudian pergi dari hadapanku. Aku menatap kepergiannya dengan helaan napas, punggungnya itu tampak kokoh dari sudut manapun. Namun, siapa yang menyangka kalau sesungguhnya dia adalah sosok rapuh yang membuatku iba setiap kali melihatnya. *** “Permisi, Pak,” seorang pria masuk ke dalam ruangan Fatih. “Ardan, bagaimana? Sudah siap mobilnya?” tanya Fatih pada sekretarisnya itu. Pria yang di panggil Ardan itu pun mengangguk sembari menjawab pertanyaan bosnya, “Sudah, Pak.” “Bagus, terima kasih,” ucap Fatih, “Tolong handle perusahaan selama aku pergi ke luar kota ya,” imbuhnya. “Bapak yakin enggak mau saya temani?” tanya Ardan. Fatih berdiri dari kursinya setelah ia selesai merapikan dokumen yang ada di meja kerjanya, “Tidak perlu, lagian ini bukan perjalanan jauh,” ujar Fatih. “Baik, Pak. Kalau begitu hati-hati di jalan,” kata Ardan sembari mengantar Fatih hingga keluar dari gedung perusahaan itu. “Oh iya, Dan.” Fatih menoleh ke arah Ardan, sesaat sebelum ia masuk ke dalam mobilnya. “Ada apa, Pak?” tanya Ardan, keningnya berkerut. “Nanti kamu tolong bawakan map merah untuk presentasi di Bandung besok ke rumahku ya. Jadi nanti malam setelah pulang, aku bisa baca langsung,” katanya. “Iya, Pak. Tapi, Bu Sarah ada di rumah, 'kan?” tanya Ardan. Fatih mengangguk, “Ada kok. Di sana ada Fera juga, istri keduaku,” jawab Fatih tanpa menutupi apapun. Ardan yang memang sudah mengetahui hal itu, ia mengangguk dengan senyum simpulnya, “Baik, Pak,” ucapnya. “Aku pergi dulu ya, assalamu'alaikum,” pamitnya, sebelum kemudian menutup pintu mobilnya dan melajukan mobil tersebut. “Wa'alaikumussalam,” jawab Ardan. *** Aku melangkah mengikuti Mbak Sarah yang terkadang berhenti untuk bertanya pada para penjual yang menjajakan jualannya. Beberapa belanjaan seperti sayuran dan bahan lauk pauk lainnya pun sudah dia beli. Namun, Mbak Sarah masih terus berjalan seolah itu belum cukup baginya. Aku yang memang tidak tahu apa-apa tentang urusan belanja hanya bisa pasrah dan terus mengekori istri pertama dari suamiku itu. Sesekali aku menghela napasku saat rasa lelah kakiku terasa berdenyut karena terus berjalan tanpa henti. “Mbak ini sekilo berapa?” tanya Mbak Sarah pada seorang penjual ayam. “Dua puluh enam untuk yang standar, Mbak. Kalau mau yang bagus tiga puluh sekilonya,” papar penjual ayam itu. “Minta yang bagus dua kilo, tapi per kilonya dua puluh delapan, ya?” tawar Mbak Sarah. Terkadang aku berpikir, apa perlunya tawar menawar kalau hanya selisih satu atau dua ribu rupiah saja? Mungkin orang yang masih belum paham perbendaharaan uang sepertiku hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. “Fera?” panggil Mbak Sarah, membuyarkan lamunan singkatku. “Eh? Udah Mbak?” tanyaku saat melihat Mbak Sarah yang sudah memegang satu kantong plastik putih berisi ayam bersih yang telah di potong-potong menjadi beberapa bagian. “Kamu capek?” tanya Mbak Sarah. Aku ingin berbohong, tapi peluhku yang tanpa sengaja menetes mengurungkan niat berbohongku itu. “Iya, Mbak. Maaf,” lirihku. Alih-alih memarahiku seperti yang bundaku lakukan dulu, Mbak Sarah malah tersenyum lembut sembari memberikan sapu tangannya padaku. “Ini, lap itu keringat kamu,” katanya dengan tawa kecil yang ia lemparkan padaku. Jujur saja, beberapa hari kenal Mbak Sarah, aku sudah merasa nyaman dengannya. Wanita ini bagai seorang kakak perempuan untukku. Dia baik hati dan penuh kehangatan, sifatnya hampir mirip seperti Bunda. “Makasih, Mbak,” ucapku sembari menerima sapu tangan yang ia berikan padaku. “Ya udah, ayo ikut Mbak. Kita istirahat dulu,” ucapnya sembari berjalan mendahuluiku. Aku pun kembali mengikuti langkah kakinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN