The Truth Untold

1418 Kata

Mata Jean langsung membelalak kaget saat melihat Nari Pramudya berdiri menjulang di depan nya dengan tatapan tajam. Ia mengenakan setelan kantor yang necis dan mug di tangannya. Sial, kenapa dari banyaknya tempat di kantornya ia harus bertemu Nari di depan meja resepsionis. "Kenapa tidak menjawab teleponku? Kamu susah dihubungi setelah konser." Tanyanya dengan mata memicing, Jean menelan ludah Nari bukan tipe teman yang mudah di bohongi jika Jean perlu mengingatkan. "Aku belum membuka handphone ku." Jawab Jean seenaknya. Nari berdecak, ia menghembuskan nafas kesal. “Tapi bukan itu masalah terpentingnya..” ia maju mendekati Jean memegang kedua pundaknya erat. “Aku sangat kecewa padamu.” Jean was-was, ia mengamati ekspresi Nari yang muram. Tidak mungkin kan dia berhasil mengi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN