PONDOK KASIH.

1788 Kata
" YATUHAN mimpi apa aku semalam? kok bisa apes begini? " Rutuk kai. Merayap. menempel di dinding dan mengendap endap mendekati lift, dan mesatkan tubuh yang tinggi memasuki lift secepat kilat. Turun kearea besement di mana mobil mewah wanita itu berada. Memil koper dan berpakaian cepat didalam mobil. Sebel turun dari mobil, kai merebek selembar kertas dari kubu yang dibil nya dari talam tas ranselnya, meraih ballpoint dan menulis sesuatu, lalu kertas tersebut ditempelkan pada setir mobil, setelah nya kai turun. Dengan membawa ransel dan koper yang sudah pecah pada bagian sudut nya. Lalu berjalan tertatih Ratih menjinjing koper keluar dari bangunan hotel yang menjulang tinggi. Matahari sudah bersinar terang diluar sana, suara suara bising terdengar dari kendaraan yang lalu lalang dijalan. Membuat polisi udara dari kenalpot mereka. Dengan menyeret langkah, kai terus berjalan dipinggiran ruas jalan sambil mengamati setiap deretang bangunan yang menjulang tinggi yang dilewatinya. Menahan rasa lapar, haus, kantuk, dan juga lelah yang bercampur menjadi satu. Tepat saat matahari sudah berada tinggi di garis remidian langit dan memancarkan sinar yang begitu terik, kai akhirnya tiba di depan bangunan sebuah rumah bercat putih yang asri dengan berbagai macam pohon rindang dan tanaman menghiasi halaman. Terdapat papan persegi bertulisan 'PONDOK KASIH KOST PUTRA BU ASIH' pada pintu gerbang. " Assalammualaikum " teriak nya mengedarkan matanya melihat ke sekeliling. " Waalaikumsalam " seorang wanita paruh baya bertubuh tambun yang menggenakan daster panjang motip kupu kupu berlari tergopoh gopoh keluar. " Bu asih? " " Iya benar, ini pasti mas kaindra itu? " " Iya Bu, maaf saya terlambat, " kai melengkungkan senyum dan sedikit menunduk sopan. " Ah, tida apa apa mari masuk nak, " Bu asih membuka pintu pagar dan mempersilahkan kai untuk masuk ke dalam " bagaimana masalah nya? Sudah selesai? " " Alhamdulillah, sudah selesai Bu. " "Syukurlah tapi kamu tak apa apa kan? Itu kening mu kenapa luka? " " Ini karna semalam yang terserempet mobil orang, " " Oalah, begitu toh, kasian kamu, jadi itu belum diobati? " " Belum sempat bu,. Tapi sudah tak sakit lagi ko , " ucap kai dengan santun, berjalan pelan dibelakang Bu asih. " Barangmu taruh disitu dulu, kebetulan yang lain sedang makan siang, hari Minggu begini mereka libur dan bisa berkumpul, ayo bergabung bersama mereka, " Bu asih berucap ramah sambil menuntun memasuki rumah berlantai dua tersebut. Diruang tengah itu telah duduk tiga laki laki yang tampak seusianya. Mengelilingi meja makan dengan hidangan lezat yang masih mengepul di atas meja, kegiatan makan mereka terhenti dan melihat kai dengan ekspresi terkejut. Kai mengulas sedikit tersenyum dan sedikit bertunduk memberi sapaan sopan. " Hai, bro, " sapa seorang pemuda yang bertubuh jangkung yang duduk di ujung meja, " kepalanya kenapa tuh, habis jatoh? " " Oh ini, " kai menyentuh luka di keningnya " semalam kena sedikit musibah diserempet mobil. " " Astaga kok bisa? Terus bagaimana " " orang nya tanggung jawab gak? " Tanya pemuda satunya lagi dengan ekspresi serius. Kai mengerenyit sesaat lalu menganggukan kepalanya. " Iya orang itu sudah bertanggung jawab, " Senyum kai terkulum kala adegan ciuman itu bersama wanita itu kembali terbayang bayang di dalam pikiran nya. Anggap saja ciuman itu sebagai pengganti dari tanggung jawab dari wanita itu. Malah kai sekarang merasa ikhlas terluka agar bisa melihat wanita itu lagi. " Syukurlah kalo begitu " balas laki laki yang terakhir bertanya, pembawaan nya cukup humble. " Kalian ini, orang baru datang langsung di serbu pertanyaan. Tidak melihat kalo kaindra sangat lelah? Tawarin minum kek, " Bu asih menarik satu kursi kosong dan mempersilahkan kai untuk duduk. " Duduk nak, ibu ambil kan obat dulu, " lanjut nya lagi. Kemudian berjalan tergesa gesa menuju ke sebuah lemari di sudut ruangan yang tidak jauh daei meja makan. " Tap apa Bu, sudah tidak sakit " cicit kai seraya mendudukan tubuh di kursi meja makan. " Minum bro, " pemuda humble yang kini duduk berdampingan dengan kai menyodorkan segelas air. " Terimakasih " kai segera meraih gelas tersebut dan menegak isinya hingga tandas. " Haus ya bro? " "Iya, tadi jalan kaki kemari. Saya kecopetan di bus, dompet dan ponsel saya di ambil. Jadi sama sekali gak ada ongkos. " " Apes amat nasib mu, " Kai hanya terkekeh merespon pemuda yang memberinya minum " oh ya, perkenalkan nama saya kaindra, panggil saja kai. " " Aku Sabara Kusuma, mereka memanggilku bara. " Ucak lelaki humble dengan wajah lumayan tampan tersebut lalu, melempar pandangan nya seraya menunjuk kawan nya satu persatu secara bergantian. " Yang sana Koko, yang sana mananya jangkung, panggil saja jelangkung." " Hus, jangan di dengerin si Barakuda ini. Otak nya nya rata rata sengklek, " ledek laki laki yang tubuh jangkung dengan tampang ceria dan kocak, " aku Aryo, tapi biasa dipanggil yoyo. " " Yoi bro, aku juga bingung kenapa mereka memanggilku Koko, namaku Dion Hirawan, tapi karena wajah ku begini melekatkan sebutan Koko, tapi kamu bisa panggil Koko juga kalo mau ikut mereka, " ucap laki lak berwajah oriental dan berkulit putih yang sedari tadi diam menyimak. Dia luar biasa tampan unguk ukuran kali kali yang kai tangkap. Pembawaan pemuda itu sedikit kalem dan tidak terlalu suka banyak bicara. " Bu asih sudah cerita, katanya kamu karyawan baru yang bergabung di perusahaan PEARL'S kan? " " Iya besok mulai masuk kerja, kalian tahu perusahaan itu? " " Tentu saja, kami semua bekerja di sana, cuman beda divisi saja. " " Sudah bicaranya nanti saja, kalian makan saja dulu, " Bu asih meletakan kotak obat di atas meja, "nak kai, mau di obati lukanya sekarang atau mau makan dulu? " Tanya nya yang melihat jakun kai sudah naik turun menelan ludah. " Boleh makan dulu tidak, Bu, " tanya kai yang detik kemudian terdengar suara gemuruh dari dalam perut nya. Sontak Bu asih dan tiga pemuda itu tertawa membuat kai tersipu malu. " Santai bro, disini kita saudara, ga ada jaim Jaiman atau malu maluan, kalo lapar langsung makan saja apa yang ada, " ucap Aryo diiringi tawa renyah. Bu asih geleng geleng kepala menahan senyum. Mengambil piring dan meletakan nya di atas meja didepan kai. " Makan nak, gak usah malu malu, kalo malu malu nanti semuanya bakalan di habiskan sama si Koko, " " Kok, saya di bawa bawa sih Bu, " protes pemuda yang berwajah oriental itu " Kan cuma kamu yang sering habiskan makanan yang ada, " tuduh bara dengan nada mengejek. " Sudah sudah, jangan ribut, lanjutvmakan nya nak kai, makan yang banyak yah, ibu mau lanjut setrikaan sulu. Kalo nantinada pakaian yang kusut bisa kasih ke ibu, nanti ibu yang akan rapihkan, " " Siap bu, terimakasih, " Kepala kai menunduk sopan kepada Bu asih, Bu asih menepuk pelan punggung kai dan beranjak pergi dari ruangan makan. Dengan mata yang berbinar binar kai segera menyendok nasi ke piring, melengkapi dengan lauk pauk yang tersedia. Berdoa dan langsung menyantap nya. " Oh ya, kamu di PEARL'S bagian apa? " Tanya Aryo serambi mengunyah makanan. " Sebelum nya saya sebagai marketing, sewaktu dulu masih di cabang, tapi katanya sekarang saya di letakan di bagian publik realition," jawab kai seraya mengendorkan makanan ke dalam mulut. " Oh jadi kamu orang pindahan dari cabang itu, pantas saja aku merasa tidak asing saat melihatmu. Fotomu selama sebulan penuh dipajang di lobi sebagai salah satu karyawan berprestasi yang terpilih tahun ini, aku sudah sering mendengar ceritamu, hasil kerjamu sangat bagus, tida salah jika pimpinan kantor cabang merekomendasikan dirimu kemari, " ucap bara yang membuat kai tersenyum salah tingkah dan hanya mengangguk anggukan kepala karna mulutnya terisi penuh makanan. " Benarkah, kenapa aku tak pernah melihat foto nya di lobi? " Tanya Aryo dengan kedua alis yang terangkat maksimal. " Bagaimana mau lihat, kalo matamu baru masuk langsung jelalatan pada staff staff wanita, " seru bara mengejek. " yeh yu bukan jelalatan, tapi cuci mata sekalian usaha, " " Belarti, kaindra akan satu tim bersama mu bar. " Tanya Dion serius. " Yoi, " balas bara singkat karna mulut nya sibuk mengunyah. " Jadi kamu di divisi relation juga? " Tanya kai. Bara buru buru manelan makan di dalam mulut, merain gelas menegak habis isinya cepat. tambahnya lagi seraya menepuk pundak kai. " Benar kah, " tanya kai dengan antusias. " Iya mejaku bahkan berada di baris paling depan yang setiap saat bisa dilihat langsung dari ruangan CEO. " " Eh ngomong ngomong tentang CEO, kalian sudah dengar gosip terbaru tidak? " Tanya Aryo. " Memang nya ada apa? " Tanya bara balik. " Katanya pernikahan CEO kita terancam bapal," ucap Aryo kembali bergibah. " Dengar dari mana?" Tanya Dion Mata kai bergerak gerak melihat tida teman nya itu bergantian sementara mulut nya sibuk melahap makanan. " Makanya buka chat grup, staf staf cewe sudah sibuk gibahin Miss, " " Ahh, masa sih, " tanya Dion tidak percaya " paling itu si Hilda si ratu ghibah yang suka sebar sebar gosip. " "Tapi emang beneran ko." " Kubioan juga apa, kan? Biarpun cantik nya selangit tapi kalau sipat nya kaya iblis, mana ada laki laki yang tahan dengan Miss," ucap Aryo. " Tapi bukan nya pernikahan nya sebentar lagi? Para vendor dan rekan bisnis lain nya sudah memberikan sponsor untuk acara pernikahan tentang mereka, " terang bara. " Iya kalo sampai batal, perusahaan akan mengalami kerugian karna harus membayar finalti yang cukup besar dong, " ucap Dion yang bekerja pada divisi keuangan " Wah besok pasti bakal rame dih di kantor, " Kai menegai minuman nya cepat, " memang nya CEO PEARL'S seorang wanita," tanya nya penasaran. Ketiga seorang pemuda yang sedang bergibah sepontan menoleh memandangi ke arah kai dengan keheranan. " Kamu tidak mengenalnya? " Tanya nya serempak. Kai menggeleng pelan. " Serius, " bara tampak tercengan. Kepala kai mengangguk dengan ekspresi wajah datar " Astaga kai, kamu darimana saja? " Bara menarik pundak kai merangkul nya, " kei tahu ya, CEO kita itu bukan hanya seorang wanita, tapi dia adalah titisan Dewi kecantikan yang berkolaborasi denga iblis yang berhati dingin yang bisa membekukan siapa saja, karena kamu karyawan baru sebaik nya siapkan mental mu baik baik. " " Apa separah itu, " kai mengedarkan pandangan nya melihat bara, Aryo, Dion bergantian. " Kamu lihat saja besok, pokok nya jangan terlalu mencolok, dan jangan buat kesalahan, kesalahan sekecil apa pun yang kamu lakukan. Kamu akan dilempar jauh ke pulau terpencil. " Kai sontak terkekeh, matanya matanya sampai merenyik karena kedua karna sudut bibir yang tertarik sempurna. " Wahh... Malah ketawa, aku serius. Sudah ada empat karyawan yang di kirim ke pulau hanya karena membuat kesalahan kecil. Dia itu tidak memandang, kalo menurutnya nya salah maka end sudah. " " Serius, " tanya kai tida percaya kedua alis nya terangkat maksimal. Bara Dion Aryo mengangguk kepala dengan kompak. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN