10. Bleached White Hair (3)

1099 Kata
Chapter 10 : Bleached White Hair (3) ****** RILEY tiba-tiba bangkit dari duduknya. Pemuda itu mulai mendekati Kanna yang duduk di seberangnya. Mata Kanna sudah membeliak saat melihat pemuda itu tiba-tiba mendekatinya, tetapi tentu saja itu belum selesai. Soalnya, ketika pemuda itu sampai di dekat Kanna, tiba-tiba saja… …pemuda itu berlutut. Dia pun mulai meraih tangan kanan Kanna. Sedikit menunduk, lalu mencium punggung tangan Kanna dengan lembut. Kanna memperhatikan seluruh adegan itu tanpa berkedip. Mata Kanna terbuka lebar. Gadis itu lupa bernapas. Benar-benar tercengang dan mematung di kursinya. Akan tetapi, sebelum Kanna sempat bereaksi, suara Riley yang dalam dan lembut itu kembali mengalun di telinganya. “Mulai hari ini, senyummu dan kebahagiaanmu adalah prioritasku, Kanna.” ****** Keesokan harinya, Kanna dan Riley benar-benar pergi ke toko elektronik untuk membeli ponsel. Sebenarnya, toko itu tak terlalu jauh dari kompleks perumahan tempat Kanna tinggal. Hanya perlu sedikit ke luar, ke jalan besar. Jalan itu juga biasa Kanna lewati kalau mau pergi ke kantor. Jadi, sekarang Kanna berjalan bersama Riley di jalan besar itu. Kanna memakai pakaian kantornya; biasanya, dia memakai jas dan rok yang berwarna hitam. Di sisi lain, Riley memakai hoodie berwarna navy, celana training berwarna putih, dan sepatu olahraga milik Kanna—sepatu berwarna putih—yang waktu itu dibelikan oleh ibunya, tetapi tak pernah ia pakai karena kebesaran. Huh. Untung saja, Kanna punya banyak pakaian yang oversize. Dia harus membelikan Riley beberapa pakaian saat weekend nanti. Ya. Itu ide bagus. Dia akan membelikan Riley baju, celana, dan pakaian dala— Oh. Pipi Kanna langsung memerah. Kanna mendadak teringat sesuatu. Tadi malam, ia dan Riley tidur bersama. Not in a dirty definition, but still. They slept together. Kanna ingat bagaimana Riley tiba-tiba mengetuk pintu kamarnya dan memanggilnya saat ia sedang memasang selimut. Satu detik setelah ia menyahut panggilan itu, pintu kamarnya pun dibuka oleh Riley. Saat sosok Riley yang tampan itu terlihat di ambang pintu, Kanna pun mendengar pemuda itu berbicara. “Can I sleep with you?” Ah, damn. Bagaimana mungkin pipi Kanna tidak merona setelah mendengar permintaan itu? Namun, meskipun pipinya merona dan jantungnya berdebar tak keruan, Kanna akhirnya mengangguk. Mengiyakan Riley. Sial. Dia lemah sekali kalau menyangkut Riley. Riley ini pakai mantra apa, sih? Dia jadi seperti kena pelet begini. Sekarang, di sepanjang jalan besar yang tengah mereka lewati, ramai sekali orang yang lalu-lalang. Namun, kebanyakan dari mereka pasti akan menoleh kepada Riley. Bagaimana tidak? Riley itu mencolok sekali kalau dibawa ke luar saat terang benderang seperti ini. Rambut pemuda itu berwarna putih. Wajahnya tampan. Kulitnya halus. Pakaian yang ia kenakan juga cocok sekali di tubuhnya. Tentu saja, banyak orang yang langsung menoleh kepadanya atau memberikannya second glance. Ada juga anak-anak SMA yang saling berbisik-bisik sambil menatap Riley dengan kagum. Mulut mereka terbuka; mereka sampai menoleh ke belakang tatkala Riley sudah melewati mereka. Riley terlihat seperti seorang idola yang menyasar dan berjalan-jalan di kota. Aduh. Untung saja, Kanna duluan yang memungutnya. Rasanya seperti mendapat harta karun dadakan, haha. Setelah sampai di toko elektronik yang dimaksud, mereka pun langsung memilih ponsel yang cocok untuk Riley. Sebenarnya, Riley menolak untuk memilih dengan alasan bahwa ia akan menerima apa pun yang Kanna beri. Namun, Kanna tentu saja menentangnya; Kanna ingin Riley mendapatkan ponsel yang sesuai dengan kebutuhannya. Akhirnya, mereka memilih ponsel Riley bersama-sama. Saat telah mendapatkan sebuah ponsel yang cocok, Kanna pun membeli ponsel itu; dia juga membelikan SIM Card untuk Riley. Sang penjual lantas menyiapkan semuanya, lalu memberikan Kanna sebuah totebag yang berisi ponsel itu serta seluruh perlengkapannya. Riley pun berinisiatif untuk mengambil totebag itu dari tangan Kanna, tak ingin membuat Kanna membawa belanjaan itu. Kanna sudah sangat baik padanya. “Terima kasih,” ujar sang penjual ketika Kanna dan Riley mulai beranjak keluar dari toko itu. Kanna akan mengantar Riley pulang terlebih dahulu, lalu dia akan pergi ke kantor. Kalau dia membiarkan Riley pulang sendirian, takutnya Riley akan hilang atau diculik orang. Kanna tak mau hal itu terjadi. Di dalam perjalanan, Riley mulai membuka kotak ponsel itu dan meraih ponselnya. Kanna melihat semua itu dan tertawa kecil. Sepertinya, Riley sangat menyukai ponsel barunya. Bagian belakang ponsel itu—casing-nya—berwarna oranye. Syukurlah kalau Riley menyukainya. Kanna akhirnya melihat ke depan dan tersenyum. Gadis itu mengembuskan napasnya dengan lega. Dia tahu kalau Riley sedang memainkan—atau mungkin mengotak-atik—ponsel itu. Beberapa saat kemudian, Riley tiba-tiba berkata, “Kanna, boleh aku melihat ponselmu? Aku ingin meminta nomormu sekaligus menyimpan nomorku di ponselmu.” Kanna kontan menoleh kepada Riley dan tertawa. “Haha, langsung, nih?” Riley—yang saat itu juga sedang menatap Kanna—lantas tersenyum gembira. Matanya melengkung, nyaris tertutup, seolah ikut tersenyum. Wajahnya berseri-seri saat menyahut, “Mmm-hmm!” Kanna pun tertawa kecil. Riley sungguh menggemaskan! Aaah, Kanna bahagia sekali rasanya. Pagi-pagi sudah disuguhi wajah tampan serta senyum Riley yang sangat manis. Riley yang sedang bahagia…terlihat begitu memikat. Kau pasti akan ikut bahagia ketika melihatnya bahagia. Senyumannya serta wajahnya yang berseri-seri itu akan membuatmu bersemangat. Kanna mulai merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya. Saat ponsel itu ada di tangannya, ia pun memberikannya kepada Riley dan berkata, “Ini.” “Terima kasih, Kanna.” “Hmm!” jawab Kanna dengan bersemangat. Kanna langsung kembali melihat ke depan, membiarkan Riley melakukan apa yang pemuda itu inginkan. Di sisi lain, Riley tengah mengetikkan sesuatu di ponsel Kanna. Mengotak-atik ponsel itu sejenak, kemudian melihat ponselnya sendiri. Ponsel Kanna ada di tangan kirinya, sementara ponselnya sendiri ada di tangan kanannya. Ketika ia melihat ponselnya sendiri, di layar ponsel itu ada sebuah program yang sedang running. Di tengah-tengah layarnya terdapat notifikasi, semacam task progress yang diberitahu oleh program itu. You’re logged in successfully! Transfer Data: success. Verification: success. Your devices are now connected. Sebuah senyuman muncul di wajah Riley tatkala melihat notifikasi itu. Kelopak matanya sedikit turun; tatapannya terasa begitu asing dan begitu dingin. Senyuman itu pun… …pelan-pelan berubah menjadi seringai tipis. Namun, ekspresi itu hilang dari wajahnya dalam waktu yang sangat cepat. Begitu singkat seolah-olah hanya dalam waktu satu kedipan mata. Seolah-olah tidak pernah ada. Seolah-olah kau hanya salah lihat. Ekspresi itu tidak meninggalkan jejak sama sekali. Riley mulai menoleh kepada Kanna dan tersenyum dengan sangat manis. Sangat ramah. Senyumannya seakan menambah cahaya di wajahnya. Ia kemudian mengulurkan tangan, bermaksud untuk mengembalikan ponsel Kanna. Kanna yang menyadari gestur itu—dia bisa melihat pergerakan Riley dari ujung matanya—lantas menoleh kepada Riley. Mata Kanna sedikit melebar. “Oh. Sudah selesai, ya?” Dengan nada yang begitu bersahabat, Riley pun menjawab, “Hmm! Sudah. Terima kasih, Kanna. Kuharap kita bisa sering mengobrol saat kita berjauhan. Aku akan menggunakan ponsel yang kau berikan dengan sangat baik.” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN