Rose terbelalak saat merasakan rasa sakit di area intimnya hingga ia tanpa sadar mencakar punggung Keane. Ia tak bisa berteriak kesakitan karena laki-laki itu membungkam bibirnya dengan ciuman. Hanya air mata yang mengalir di pipi Rose saja yang mengekspresikan rasa sakitnya.
Ia menahan tubuh Keane saat laki-laki itu ingin bergerak. Dengan cepat ia menghapus air matanya saat Keane melepaskan ciumannya.
"Sebentar lagi, aku mohon," pinta Rose saat Keane ingin kembali bergerak. "Milikmu sangat besar hingga aku harus kembali membiasakan diri."
Rose tak ingin Keane tahu jika ia masih perawan. Dirinya tak tahu kenapa ia merasa jika Keane tak boleh tahu.
Keane menuruti permintaan Rose dan kembali mencumbunya hingga dia mendengar rintihan Rose dan dirinya mulai bergerak dengan perlahan hingga semakin cepat saat gairah mereka semakin meningkat disetiap gerakan hingga akhirnya mereka berteriak nikmat.
Rose lega saat semuanya sudah berakhir tapi ia salah karena tak lama kemudian Keane kembali bercinta dengannya.
Saat tengah malam ia bahkan tak tahu lagi berapa kali laki-laki itu bercinta dengannya karena tubuhnya merasa begitu lelah.
"Aku mohon, aku lelah."
"Ingat Rose tubuhmu milikku untuk malam ini," ujar Keane dan kembali bercinta dengan Rose. Laki-laki itu baru berhenti setelah kelelahan dan Rose merasa dirinya begitu sial karena menerima tawaran dari maniak seks.
Ia bahkan merasakan miliknya juga berdenyut sakit. Walaupun setiap Keane bercinta dengannya ia juga menikmatinya tapi miliknya juga merasa sakit karena dipaksa bercinta begitu banyak padahal sebelumnya ia masih perawan.
Rose tertidur karena begitu lelah. Dirinya terbangun pada jam 5 pagi saat Keane kembali mencumbunya.
"Berapa kali kamu akan bercinta denganku?!" pekik Rose merana.
"Sampai aku puas."
Rose hanya bisa pasrah dan menerima perlakuan Keane padanya.
"Kamu sungguh membuatku kecanduan dan karena aku hanya bisa menikmatimu untuk malam ini saja, jadi aku akan menikmatimu sepuasku," ujar Keane kembali memasuki kehangatan Rose dan bergerak keluar masuk sampai mereka mendapatkan kenikmatan.
Rose tak bisa kembali tidur saat Keane selesai dan tertidur pulas di sampingnya. Ia memastikan laki-laki itu sudah benar-benar tidur baru dengan perlahan ia turun dari ranjang. Ia terjatuh saat mencoba turun karena area intimnya terasa begitu menyakitkan tapi ia berusaha bangun dan menahan rasa sakit itu. Dengan cepat ia kembali memakai pakaiannya.
Setelah itu ia mengendap-ngendap pergi dari sana tak lupa membawa tasnya juga bayaran untuk keperawanannya. Ia mencoba tak menyesali keperawanannya yang ia serahkan pada laki-laki asing yang memandang hina dirinya.
***
1 bulan kemudian...
Keane meraung marah saat para pengawalnya dan detektif yang disewanya kembali tak berhasil menemukan wanita bernama Rose. Bahkan wanita yang menyelenggarakan acara amal itu juga turut menghilang.
"Percuma aku membayar upah kalian tinggi jika bahkan untuk mencari seorang wanita saja kalian tak mampu!" bentak Keane.
"Maaf, Bos. Kami sudah mencarinya ke semua pesta, semua acara amal tapi tak bisa menemukannya."
Keane semakin marah mendengarnya.
"Pergi!" bentak Keane. Dengan cepat mereka semua bergegas menjauh dari Keane.
Keane menyugar rambutnya frustrasi. 1 bulan lalu ia terbangun dan menemukan Rose sudah tak ada. Saat ia menatap ranjang, ia semakin terkejut karena tahu jika ternyata Rose masih perawan dan dirinya bercinta dengannya begitu banyak.
Hal itu juga yang membuat dia menyadari apa keistimewaan dari tubuh Rose yaitu keperawanannya dan jika dirinya laki-laki pertama untuk wanita itu juga dirinya sudah salah menilai tentang wanita itu.
Sejak saat itu Keane ingin menjadikan Rose milikinya dan berniat akan memberikan apapun yang wanita itu mau. Tapi bagaimana caranya dia menjadikan wanita itu miliknya jika bahkan dia tak bisa menemukannya.
"Aku pasti akan menemukanmu, Rose, di manapun kamu bersembunyi, aku akan menemukanmu dan menjadikanmu milikku selamanya."
Keane kemudian memanggil asistennya untuk membawakan jadwal kerjanya hari ini. Dia harus menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda 1 bulan ini hingga proyek pembangunan mallnya bahkan juga ikut tertunda.
"Will, bawa kemari jadwal-jadwalku hari ini."
"Baik, Tuan."
Tak lama kemudian asistennya masuk dan membawa berkas-berkas juga agendanya hari ini.
"Apa Johnny sudah berhasil membujuk pemilik tanah itu untuk menjual tanah mereka?"
"Belum, Tuan."
Keane membanting berkasnya mendengarnya.
"Apa tidak ada yang bisa bekerja dengan benar?!" bentak Keane kembali marah.
"Wanita itu bersikeras tak mau menjual tanah dan bangunannya. Dia mengatakan berapapun yang Anda tawarkan dia tak akan menerimanya."
"Tidak ada harga yang tidak bisa membeli sesuatu, aku yakin dia akan menerimanya jika harga yang aku tawarkan cocok."
"Kami sudah menawarkannya 600 juta, Tuan, dan dia tetap menolak."
"Berikan alamatnya padaku sepertinya harus aku sendiri yang menanganinya."
"Baik, Tuan."
Saat siang Keane bergegas pergi ke tempat yang dimaksud. Dia menatap tempat itu dengan rumah yang besar tapi bergaya lama, di mana tempat itu juga memiliki tempat bermain anak-anak bahkan dia sempat melihat beberapa anak-anak remaja sebelum mereka bergegas kabur saat melihat mobilnya masuk ke halaman rumah.
Keane turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah itu dengan kedua tangan berada di saku celananya.
"Maaf, Tuan, ada keperluan apa?"
"Aku ingin bertemu dengan pemilik tempat ini."
"Miss Mary?"
"Ya, siapapun namanya."
"Miss Mary sedang mengurusi anak-anak, sebentar lagi dia akan turun, Tuan."
"Dia pikir dia siapa?!" bentak Keane marah.
"Sebaiknya Anda menjaga sopan santun jika berkunjung ke tempat orang lain, Sir," ujar suara seorang wanita.
Dengan cepat Keane menatap pada tangga dan menemukan seorang wanita yang berpakaian sangat membosankan, kacamata besar yang bertengger di hidungnya, rambut cokelat yang di sanggul ke belakang kepalanya dan bahkan kulitnya juga sedikit gelap tipe seorang wanita kutu buku yang perawan tua.
"Ada keperluan apa Anda datang kemari, Mr. Maxfield? Jika untuk membeli tempat ini lebih baik Anda langsung pergi karena aku tak akan menjualnya," ujar Mary tanpa basa basi.
"Berapa yang kamu inginkan?"
"Tak ada."
"Tidak ada sesuatu yang tidak bisa dibeli, Madam."
"Sayang sekali kali ini uang Anda tidak akan bisa membeli tempat ini."
Mereka saling bertatapan dalam tatapan permusuhan.
"Jika tidak ada lagi yang ingin Anda bicarakan silakan pergi," ujar Mary mengalihkan tatapannya.
"Aku pasti akan mendapatkan bangunan ini karena saat aku menginginkan sesuatu maka aku tak pernah gagal mendapatkannya."
"Jangan repot-repot mencobanya, Sir, aku tak akan menjualnya apapun yang terjadi."
Dengan kesal Keane pergi dari rumah itu dan masuk ke dalam mobilnya.
"Selidiki tentang pemilik rumah ini dan cari cela agar aku bisa memaksanya menjual tempat ini," ujar Keane di telepon.
Dengan marah dia menatap tempat itu hanya karena bangunan reyot ini saja proyeknya harus tertunda selama ini.
"Antarkan aku pulang ke apartemenku saja."
"Baik, Sir."
Keane memejamkan matanya dengan lelah di kursi belakang mobilnya. Kelebat bayangan Rose kembali menghampirinya bahkan sejak malam itu hanya Rose yang ada di pikirannya.