Keesokan harinya Rose terbangun dengan rasa pegal di sekujur tubuhnya. Keane tak memberikannya istirahat walaupun sejenak saja dan mau tidak mau ia harus menurutinya.
Dengan pelan ia melepaskan rangkulan Keane pada pinggangnya dan mencari ponselnya untuk menghubungi Aquila.
"Halo, Tante, bagaimana Kiara?"
"Operasinya berjalan lancar dan dia sudah baik-baik saja. Tadi dia sudah bangun dan dia mencarimu."
"Aku akan ke sana saat siang."
"Baiklah."
"Kamu menelepon siapa?"
Rose begitu terkejut mendengar suara itu.
"Hanya tanteku saja."
"Kemarilah, aku menginginkanmu lagi."
"Apa kamu tak lelah, Keane?"
"Aku tak pernah lelah untuk menikmatimu."
Dengan enggan Rose menghampiri Keane dan membiarkan Keane kembali menikmati dirinya.
Saat siang pengacara Keane datang membawakan surat kontrak yang harus ia tanda tangani. Rose membaca surat itu di mana tertulis jika ia tak boleh berselingkuh dari Keane, harus menuruti semua perintah Keane dan tinggal bersamanya di apartemen ini.
"Tapi aku harus mengurus anak-anakku, Keane," protes Rose.
"Kamu bisa menyewa pengasuh tambahan. Jika uang saku yang aku berikan masih kurang aku akan menambahkan 10 juta lagi untukmu menyewa pengasuh."
Rose kembali membaca semuanya dan itu berarti setiap bulan Keane akan memberikannya uang 30 juta jika ia menolak maka anak-anak panti akan kehilangan kehidupan lebih baik, jika ia menerimanya maka dirinya akan terjatuh semakin rendah.
Lagipula aku memang sudah rendah sejak menyerahkan keperawananku padanya jadi sekalian saja aku menghancurkan hidupku. Demi anak-anak semua ini akan sepadan.
Rose tak ingin lagi merasa ketakutan seperti semalam atau ia tak ingin lagi anak-anaknya kelaparan karena mereka tak punya uang untuk membeli makanan lebih layak. Ia juga tak ingin lagi mereka harus tidur hanya bergantung pada lilin saat listrik mereka diputus karena ia tak mampu membayarnya.
Saat itu bahkan sebuah lilin membuat nakas terbakar, beruntung apinya tak besar hingga tidak membakar semua bangunan. Jika tidak mereka mungkin akan menjadi gelandangan.
Tak ingin memikirkannya lagi, Rose menandatangani surat itu dengan cepat.
"Jangan katakan semua ini pada tanteku dan aku tak ingin lagi kamu muncul di rumahku, aku akan datang ke sini jika sudah selesai bekerja."
"Kamu tak perlu bekerja lagi."
"Aku tidak akan membiarkanmu merampas pekerjaanku dariku!"
Keane terdiam dan akhirnya memilih mengalah karena ia bisa melihat kemarahan Rose saat ini.
"Baiklah tapi aku tak mau kamu pergi ke luar negeri."
"Ya."
"Aku harus segera ke kantor dan kamu akan ke mana hari ini?"
"Ke rumahku."
"Aku ingin kamu sudah di sini untuk melayani aku saat aku pulang jam 6 sore nanti."
"Ya."
Keane memagut bibir Rose sebelum beranjak pergi dari apartemen itu. Saat Keane pergi dengan cepat Rose membersihkan dirinya dan segera melaju ke rumah sakit.
"Apa Kiara sudah bangun, Tante?" tanya Rose saat sampai di kamar Kiara.
"Ya, tadi, dia kembali mencarimu."
"Maaf, aku ada pekerjaan dan harus aku selesaikan segera."
"Kapan pernikahan kalian?"
"Tak ada pernikahan, Tante, karena dia menawariku pekerjaan jadi aku membatalkan niatku untuk menerima lamarannya, aku tak ingin menikah tanpa cinta."
"Lalu dari mana uang 50 juta itu?"
"Keane berbaik hati memberikan uang muka untuk pekerjaan yang akan aku lakukan."
"Syukurlah."
"Ya," ujar Rose kemudian menghampiri Kiara dan duduk di sampingnya. Rose mengenggam tangan mungil itu dan mengecupnya dengan perasaan lega karena tak harus kehilangannya sekarang.
Ia tahu jika Kiara pasti begitu menderita sebab harus terus merasakan sakit semenjak kecil tapi Rose tak bisa pasrah begitu saja dan menyerah untuk memperjuangkannya.
Rose menatap wajah mungil itu dengan mata berkaca-kaca. Apapun akan ia korbankan untuk anak-anaknya dan walau harus menjadi w************n sekalipun.
Rose membelai pipi kecil itu dengan lembut berharap dia akan bangun sebelum dirinya harus kembali ke apartemen Keane dan kembali menjalankan perannya.
"Mama Rose."
"Halo, Sweety, bagaimana kabarmu?"
"Sakit, Mama Rose."
"Maafkan Mama sayang, jika Mama bisa maka Mama akan menggantikan dirimu."
"Tapi Kiara akan baik-baik saja selama ada Mama Rose menemani Kiara."
"Ya, Mama akan menemani Kiara tapi Kiara tahu bukan Mama harus bekerja?"
"Ya, Mama."
"Jadi apakah Kiara akan mengizinkan Mama?"
"Ya, tentu saja. Kiara tahu jika Mama bekerja untuk mencari uang buat obat Kiara dan Kiara janji akan cepat sembuh agar Mama tidak lelah bekerja."
"Terima kasih, sayang. Mama tidak apa-apa yang penting Kiara sembuh dan saat Kiara sembuh Mama akan mengajak Kiara ke manapun yang Kiara mau."
"Benarkah, Mama?"
"Ya," jawab Rose tersenyum melihat rasa antusias Kiara.
"Sekarang kamu tidurlah, kamu harus istirahat agar bisa cepat sembuh."
"Ya, Mama," ujar Kiara yang sudah kembali mengantuk.
Rose terus duduk di sana menunggu putri kecilnya terlelap tidur dan saat waktu janji dengan kliennya tiba ia harus meninggalkan Kiara sejenak.
"Tante, aku sudah membayar sisa biayanya dan sisa uang yang ada bisa kita pakai untuk berjaga-jaga jika butuh biaya tak terduga."
"Pekerjaan apa yang kamu lakukan hingga laki-laki itu membayarmu semahal itu, Rose?"
"Mendekorasi seluruh bangunan apartemen barunya, Tante."
"Apa benar?" tanya Aquila penuh selidik.
"Ya," ujar Rose tak berani menatap mata Aquila.
"Aku harus menemui klien yang lain Tante, aku akan datang lagi saat sore."
"Baiklah."
Aquila menatap punggung Rose yang berjalan pergi meninggalkannya.
"Kamu tak bisa membohongi Tante, sayang. Tante bisa melihat sesuatu yang berbeda darimu dan kamu tak sama lagi dengan Rose yang dulu. Entah apa yang sudah kamu korbankan untuk anak-anak ini tapi Tante berharap kamu akan mendapatkan kebahagiaanmu nanti," gumam Aquila dan tanpa sadar setetes air mata mengalir di pipinya.
***
Selesai bertemu klien Rose bergegas kembali ke rumah sakit. Dia hanya punya waktu sebentar saja untuk menemui Kiara karena hari sudah pukul 5 sore dan dia harus segera kembali ke apartemen Keane.
"Bagaimana keadaan Kiara, Tante?"
"Dia sudah semakin baik dan jika tidak ada yang terjadi maka dia boleh pulang 1 minggu lagi."
"Syukurlah."
"Mama Rose."
"Ya, sayang."
"Apa setelah ini Mama harus kembali bekerja?"
"Ya, maaf Mama tak bisa menemanimu."
"Tidak apa-apa, ada Nenek Aquila yang akan menemani Kiara."
"Terima kasih," ujar Rose dengan mata berkaca-kaca merasa bersalah karena tak bisa menemani gadis cilik itu.
"Jangan menangis, Mama, Kiara baik-baik saja."
"Ya, Mama tahu karena kamu adalah anak yang sangat tangguh. Maaf ya sayang, Mama harus pergi dulu."
"Ya."
"Besok Mama akan datang lagi," ujar Rose dan mengecup lembut kening Kiara.
"Aku pergi dulu, Tante."
"Ya."
Dengan cepat Rose bergegas kembali ke apartemen Keane dan ia bersyukur saat laki-laki itu belum pulang. Jadi dia bergegas membersihkan dirinya tapi ia membiarkan rasa takut yang menghampirinya semalam tumpah di dalam kamar mandi itu. Rasa takut jika mungkin ia akan kehilangan Kiara karena tak punya uang.
Rose menangis terisak dengan air pancuran yang menyirami tubuh telanjangnya. Ia duduk di sana dan membiarkan semua perasaannya mengalir dalam tangisannya. Bahkan ia tak menyadari saat Keane masuk ke dalam dan menatapnya yang sedang menangis kemudian laki-laki itu keluar diam-diam dari sana.
Rose segera menyelesaikan mandinya saat sudah lebih tenang. Ia memakai jubah mandi dan saat keluar sudah menemukan Keane di sana.
"Kamu sudah pulang?" tanya Rose berusaha tersenyum ceria.
Keane menghampirinya dan membelai pipinya mengusapnya lembut dengan ibu jarinya.
Rose hanya menatap tak mengerti akan apa yang laki-laki itu lakukan.
"Apa kamu menangis karena harus menjadi simpananku?"
Rose terbelalak mendengar pertanyaan Keane yang mengetahui jika dia habis menangis.
"Apa kamu menyesalinya?"
Rose menatap mata Keane yang juga sedang menatapnya.
"Tidak! Aku menangis bukan karena itu," ujar Rose mengalihkan tatapannya.
"Lalu?"
"Hubungan kita hanya sebatas di atas ranjang saja, Keane, jadi aku tidak harus memberitahumu apa-apa," ujar Rose.
Dengan marah Keane melilit rambut Rose dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya.
"Baiklah, jika itu maumu," ujar Keane menelanjangi Rose dan mulai menikmati dirinya.
Ini lebih baik, batin Rose. Agar aku tak jatuh cinta padanya karena bagi Keane ini semua pasti bukan apa-apa. Saat semua ini berakhir aku yakin dia tak akan menginginkan aku lagi.
Sebab Rose tahu banyak laki-laki yang terobsesi untuk memilikinya selama ini karena bagi mereka merupakan kebanggaan bisa memiliki Rose Sang Primadona Malam. Ia yakin Keane juga sama seperti yang lainnya.
Rose berteriak nikmat saat Keane menyatukan tubuh mereka dan bergerak keluar masuk di dalam tubuhnya. Ia membiarkan saja Keane menikmati dirinya sepuasnya.
***
Satu minggu berlalu dan akhirnya Kiara sudah boleh pulang ke rumah. Rose merasa sangat senang saat anak itu sudah tampak baik-baik saja dan ia merasa jika keputusan yang sudah diambilnya tidaklah salah.
"Maukah Mama menemani aku tidur?" tanya Kiara saat sore itu mereka pulang ke rumah.
"Ya, tentu," ujar Rose.
Ia membaringkan tubuhnya di samping Kiara dan berpikir akan berbaring sejenak saja di sana sampai Kiara tertidur tapi ternyata rasa lelah yang dia alami apalagi ditambah dengan Keane yang terus membuatnya terjaga saat malam menyebabkan Rose tertidur lelap di sana bahkan hingga malam.
"Rose!" panggil Aquila saat jam menunjukkan pukul 7 malam.
"Tante," jawab Rose dengan suara serak.
"Jam berapa sekarang?"
"Jam 7."
"Apa?!" tanya Rose terkejut dan dengan cepat membekap mulutnya.
"Aku harus segera pergi, dia pasti akan marah."
"Siapa, Rose?"
Rose tak bisa menjawab dan ia menyadari jika tanpa sadar dirinya sudah keceplosan bicara.
"Anak-anak mengatakan kamu tidak pulang ke sini selama satu minggu ini, jadi di mana kamu tidur?"
"Keane memintaku tidur di apartemen barunya agar aku bisa dengan cepat menyelesaikan semuanya."
"Kita harus bicara," ujar Aquila dan menarik tangan Rose agar mengikutinya. Aquila membawa Rose ke ruang kerja.
"Katakan apakah kamu menjadi simpanan laki-laki itu?"
"Tidak, Tante!" jawab Rose berbohong karena tak ingin Aquila mencemaskannya, marah padanya atau merasa bersalah.
Tok...tok...tok...
Mereka menatap pintu di mana Christoper berdiri di sana.
"Mama Rose, Mr. Maxfield mencari Anda."
"Aku harus pergi, Tante."
"Pekerjaan apa yang kamu lakukan untuknya hingga dia tak membiarkanmu tidur di sini?"
"Aku sudah memberi tahu Tante tadi."
"Baiklah Tante akan bertanya padanya jika kamu tak mau mengatakannya," ujar Aquila dan dengan cepat berjalan menuju ruang tamu.
"Tante!" panggil Rose panik.
"Katakan, Mr. Maxfield pekerjaan apa yang Rose lakukan hingga dia harus terus bekerja sepanjang malam dan tampak begitu kelelahan hanya dalam waktu satu minggu."
Keane menatap Aquila dan Rose yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Anda pasti tantenya Rose."
"Ya."
"Aku meminta dia mendekorasi rumah tanteku agar nanti saat dia datang dari Italia tempat itu sudah selesai. Jadi maaf jika aku memaksanya bekerja terlalu keras."
Rose memucat mendengarnya dan Aquila tertawa mendengar jawaban Keane.
"Kita akan bicara besok, Rose," ujar Aquila dan bergegas kembali masuk ke dalam.
***
Jangan lupa tap love jika suka. Thanks ^^