You Mine

1168 Kata
Elina mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya mentari yang menerpa kornea matanya. Jantungnya berdebar kencang kala merasakan pelukan erat seseorang di pinggangnya. Elina menoleh dan tampak wajah tampan dan damai tengah tertidur pulas dengan menelungkupkan badannya dan tangannya memeluk pinggangnya. Pipi Elina memanas saat mengingat kejadian semalam yang membuat dirinya dan laki-laki di sampingnya berakhir tanpa sehelai benangpun pagi ini. Elina berusaha dengan hati-hati melepas pelukan laki-laki itu agar tidak terusik tidurnya. Elina mendudukkan dirinya menangkup wajahnya dengan kedua tangannya kemudian menyugar rambutnya dan meremasnya dengan mata terpejam erat. Elina tidak tahu entah apa yang dipikirkannya semalam hingga menerima semua sentuhan Arsa bahkan dengan parahnya dia menikmatinya. Elina memang sangat mencintai laki-laki di sampingnya itu, tapi rasa sesal itu tetap ada. Mengingat resiko yang mungkin akan dia dapat, apalagi semalam Arsa melakukannya berkali-kali dan tanpa pengaman apa pun. Kini yang tersisa adalah rasa takut yang kian menyeruak pada Elina. "Kamu menyesal?" Pertanyaan dari suara serak namun lembut itu membuat Elina menoleh padanya. Bagaimana dia tidak terpesona dengan wajah manis dan lebih manis ketika bangun tidur seperti itu, Elina berani bertaruh bahwa Arsa adalah laki-laki paling rupawan yang pernah ia temui dan dia sangat menyukai wajah itu. Meski hatinya begitu gundah tapi ia tetap tersenyum lembut padanya "Jikapun iya, itu tidak akan mengembalikan semuanya, dan terlalu tetap mencintaimu Arsa" Ucap Elina mengelus pipi Arsa dengan tangan lembutnya. Arsa ikut mendudukkan dirinya, tangannya terangkat untuk mengelus surai lembut gadisnya yang begitu lembut. Ralat, wanitanya, karena tadi malam Arsa telah merenggut hal itu dari wanita cantik di hadapannya. Jika di tanya menyesal atau tidak, maka jawabnya adalah tidak, justru Arsa semakin mencintai perempuan ini. Ia berani menaruhkan hidupnya hanya untuk kebahagiaannya. "Rasa apa yang paling mendominasi, sesal atau takut?" Tanya Arsa masih mengelus rambutnya. "Aku takut Arsa" Jawab Elina menunduk. "Aku takut kamu meninggalkanku" Lanjutnya lirih. Entah kenapa seolah ada rasa yang menyeruak yang mengatakan bahwa Arsa akan meninggalkannya. "Aku tidak akan meninggalkanmu karena aku tidak pernah mencintai perempuan sebelum kamu dan tidak akan ada setelahnya, cuma kamu Ellina" Ucapnya dengan tulus. Itu memang benar dalam hidupnya, ini adalah pertama kali Arsa membiarkan hatinya mencintai orang lain selain bundanya. Meski terdengar begitu tulus, namun entah mengapa Elina tetap saja merasa takut apalagi dengan kenyataan bahwa laki-laki itu akan melaksanakan pertunangan dengan perempuan lain pilihan orang tuanya. "Tapi kamu akan tunangan, Arsa" Lirihnya. Iya, kemana ketakutan itu semalam? Pertunangan Arsa dengan perempuan lain, kenapa tidak teringat malam tadi? Ia begitu terbuai dengan semua sentuhan Arsa yang memabukkan hingga ia melupakan fakta bahwa Arsa akan menjadi tunangan orang lain. "Aku akan membatalkannya, dan aku akan mengatakan pada orang tuaku untuk menikahimu" Janjinya dengan mata menatap ke dalam bola mata Elina. "Apakah itu sebuah janji?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja seolah mengharapkan sebuah kepastian dari laki-laki itu. Karena saat ini, yang Elina butuhkan bukan sekedar kata-kata manis yang penuh harapan. Tapi sebuah hal yang pasti. "Hm" Arsa berdehem mengiyakan kemudian memeluknya dan mengecup kening Elina. Lama ia memeluk dan mengelus-elus rambut panjang Elina yang terasa halus di telapak tangannya, sesekali Arsa akan menciumi rambut itu. Ia begitu menyukai aroma rambut Elina. "Sekarang mandi duluan gih" Ucap Arsa kemudian setelah melerai pelukannya. Elina menatap malu-malu "Aku sedikit kesulitan bergerak lebih" Cicitnya malu bahkan pipinya sangat panas sekarang. Arsa terkekeh pelan, ia mengerti apa maksud dari perempuannya, kemudian ia meraih tubuh Elina dan menggendongnya setelah sebelumnya ia mengenakan celananya. Arsa membawa Elina hingga ke dalam kamar mandi, menurunkan Elina dengan perlahan dan mengatur suhu air untuk mengisi bathtub lalu menyuruh Elina masuk ke dalamnya. "Berendamlah beberapa saat, air hangat akan mengurangi rasa sakitnya" Ucapnya lembut, Elina hanya mengangguk tersipu mendapat perlakuan lembut dan penuh perhatian dari prianya. Setelah mengantar Elina, Arsa kembali menuju kasur untuk membereskannya. Garis lengkung terukir di bibirnya saat melihat bercak merah di kasur itu, memorinya tentang tadi malam bersama Elina kembali berputar di kepalanya, meninggalkan senyum bahagia di wajahnya. Entah apa yang dimiliki perempuan itu sehingga selalu bisa membuat perasaannya tidak karuan, selain cantik tentunya. *** Elina keluar kamar ketika selesai mandi dan berganti baju, tampak Arsa yang sudah terlihat fresh dan baju sudah berganti. Sepertinya dia membersihkan diri di kamar mandi dekat dapur karena Elina yang mungkin terlalu lama di kamar mandi. Elina menghampiri laki-laki itu tentu saja dengan cara jalan yang masih belum benar. Elina mendudukkan dirinya di kursi meja makan memperhatikan laki-laki itu yang tengah berkutik dengan wajan dan peralatan masak lainnya. "Kenapa?" Tanyanya mendonggak menatap Elina, rupanya dia sudah menyadari kehadiran Elina. "Tidak, aku hanya khawatir saja, terakhir kali kau memasak masakannya sangat lezat" Ucap Elina menekan kata terakhirnya. Kalian ingat'kan tentang teragedi telor mata sapi yang dibuat Arsa yang lebih mirip eek sapi? Wajah Arsa berubah masam "Itu karena saat itu aku sedang tidak mood memasaknya, huh sekarang lihat saja masakanku akan sangat lezat bahkan kau akan ketagihan" Decaknya percaya diri. "Oh ya? kalau begitu cepat sajikan karena nyonya ini sudah sangat lapar" Tantang Elina. "Apakah baru saja kau menganggapku babu?" Arsa menyorot tak percaya. "Iya" Jawabnya sungguh. "Cepatlah, aku sangat lapar" "Apa kau begitu kelaparan nona Elina?" Arsa tersenyum miring seraya meletakkan hidangan chicken salad di depan Elina. "Dan kau yang telah membuatku kelaparan" Decaknya seraya memakan chicken salad itu. Arsa terkekeh mendengarnya dan paham apa maksud gadis itu. "Mmm enak, kali ini aku tak bohong salad ini sangat lezat" Ucap Elina senang. Arsa kembali tersenyum melihat gadisnya begitu lahap menyantap masakannya. Tidak sia-sia sedari tadi dia menonton tutorial memasak melalui channel YouTube. "Kamu tidak makan?" Tanyanya dengan mulut penuh. "Aku sudah kenyang melihatmu makan" "Mm kalau begitu, bolehkah aku meminta bagianmu juga hehe" Ucapnya nyengir. "Astaga, apa satu piring salad tidak cukup?" Ucap Arsa tapi kemudian ia menyodorkan piring miliknya, tadi ia hanya bercanda "Makanlah, habiskan" Ucapnya lembut, dan Elina kembali tersenyum senang. "Aku sudah bicara pada rentenir itu untuk memberimu waktu satu minggu lagi untuk menyiapkan segalanya untuk kepindahanmu, minggu depan baru kamu dan nenek pindah kesini" Ucap Arsa kemudian. "Baiklah, terima kasih" Jawab Elina tersenyum malu kali ini. *** Elina baru pulang jam sepuluh pagi di antar Arsa. Dia mengantarnya hingga ke depan pintu rumah Elina, Arsa juga menyempatkan menyapa nenek Elina sebelum akhirnya pamit untuk ke Paddock lagi. Elina baru saja menduduki dirinya di kasur kamarnya saat terdengar ketukan pintu dari luar. "Ada apa nek?" Tanya Elina saat membuka pintu kamarnya. "Tadi ada nyonya Nara kesini" Ucap neneknya. "Nyonya Nara? Maksud nenek ibunya Arsa?" Elina membelalak terkejut, untuk apa ibunya Arsa repot-repot datang ke rumahnya. "Nenek juga tidak tahu, dia hanya mengatakan ingin bertemu denganmu, dia juga menitipkan ini ia bilang ingin menemuimu dan memberikan kertas ini agar kamu menemuinya di tempat yang tertera di kertas itu" Ucap Neneknya. Elina mengambil kertas itu dan mengerutkan keningnya kemudian Elina melihat tatapan lesu di mata neneknya. "Nenek kenapa?" Tanya Elina memegang bahu kiri neneknya. Neneknya tersenyum "Tidak papa" Ucapnya kemudian beranjak berlalu. Elina semakin bingung apalagi setelah melihat ekspresi neneknya yang seperti menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi rasa penasaran Elina lebih cenderung pada kedatangan ibu Arsa ke rumahnya. Entah kenapa perasaanya mendadak tidak nyaman. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN