Enam: Tangis Ibu

1769 Kata
Hari ini dan besok, Qiana kembali izin tidak masuk kerja, dia harus pergi ke Bandung untuk bertemu sang ibu, bersyukur Icha, sang ketua tim tidak memarahinya, dengan syarat Qiana mau tetap mengerjakan beberapa pekerjaan secara online. Turun dari kereta, Qiana langsung menaiki ojek online yang dipesannya, biasanya, dia akan naik angkot lalu sambung dengan ojek pangkalan menuju rumahnya. Cuma rasanya sudah terlalu lelah dan dia ingin segera sampai. Tiba di depan rumah yang jauh dari kata mewah, Qiana segera membayar ojek. Barulah setelah ojek pergi, Qiana melangkah menuju pintu. Segala perasaan campur aduk ada di dalam hatinya, sedih, menyesal, juga terselip rasa bahagia karena impiannya untuk membuat hidup sang ibu agar lebih baik sebentar bisa tercapai. Meskipun memiliki waktu, tidak instan dan tentu saja pengorbanan. Menarik napas dalam lalu perlahan mengembuskannya, Qiana kemudian mengetuk pintu dengan pelan sambil mengucap salam. "iya" Jantung Qiana rasanya ingin melompat dari dalam tubuhnya saat mendengar suara sang ibu dari dalam. Kepulangannya kali ini benar-benar berbeda, tidak seperti biasanya. Pintu terbuka, muncul wajah wanita yang menjadi separuh jiwa Qiana, terlihat terkejut tapi juga senang. "ya Allah, neeeeeeeng" Elis langsung memeluk Qiana erat. Akhirnya, doanya terkabul, setiap malam dia menyampaikan rasa rindu terhadap anaknya kepada Tuhan. Qiana balas memeluk Elis, bahkan air mata begitu saja keluar dari matanya. Keduanya berpelukan, melepas rindu yang menyesakkan hati mereka. "ayo masuk" Elis menarik Qiana masuk setelah pelukan mereka terlepas. Qiana masuk, lalu Elis menutup pintu. "kenapa atuh neng, gak bilang dulu sama ibu?" tanya Elis dengan logat sundanya yang begitu lembut. Qiana tersenyum "neng mau bikin kejutan" Elis tersenyum lebar "iya, ibu terkejut. Tapi, neng emang gak kerja?"  "libur dulu bu, ambil jatah cuti duluan" bohong Qiana.  "kedap atuh nya (sebentar ya), ibu ambil minum dulu" "neng bisa ambil sendiri ibu" "udah, neng tunggu aja" Elis pergi ke dapur, sedangkan Qiana pergi ke kamar ibunya untuk meletakkan tas. Sejak dulu, dia memang tidur bersama ibunya. "neng mau makan apa? ibu belum belanja apa-apa" Elis menyodorkan gelas berisi air putih kepada Qiana yang ada didalam kamar. "nanti beli aja ya bu" jawab Qiana, Valdo sempat mengantarnya ke stasiun, laki-laki itu juga memberikan uang untuk Qiana sebanyak satu juta. Awalnya Qiana menolak, tapi Valdo memaksa. Jadi uang itu Qiana akan pakai untuk membeli makanan enak, makanan yang belum pernah dimakan oleh sang ibu karena harus hidup sangat hemat. "ya Allah neng, sayang uangnya kalau beli diluar, mahal" Qiana tersenyum lembut "neng lagi ada rezeki lebih bu, kita beli makan diluar aja ya"  "alhamdulillah, iya atuh. Terserah neng aja. Asal jangan ngerepotin neng, ya" Qiana mengangguk singkat, lalu meminum air yang ada ditangannya, meneguknya hingga habis. *** "Bu, neng mau ngomong sesuatu sama ibu" ucap Qiana, mereka sudah selesai makan siang. Uang dari Valdo, Qiana belikan berbagai macam makanan enak untuk sang ibu. Tidak untuk sekali makan, tapi untuk makan malam juga. Karena rumah mereka ada di desa yang bisa dikatakan masih cukup sederhana, belum begitu modern. Jadi, selepas maghrib, tidak banyak orang yang masih berkeliaran di luar rumah, akan sangat sulit untuk Qiana mengajak Elis keluar membeli makan malam. Jadi, Qiana memutuskan untuk sekaligus membeli lauk guna makan malam mereka. "apa neng?" Dalam hati, Qiana terus meminta maaf. Kepada Tuhan dan juga kepada ibunya. Dia benar-benar terpaksa memilih jalan ini. "neng mau nikah" jawab Qiana. Elis diam, terlihat begitu bingung. "bu" panggil Qiana yang khawatir karena Elis hanya diam. "neng, beneran?" Elis memastikan ucapan putrinya. Qiana mengangguk, meraih tangan Elis untuk dia genggam "neng mau nikah, bulan depan" "astagfirullah neng, kenapa atuh dadakan gini? gak ada angin, gak ada ujan. Ini beneran?" Wajah Elis kini benar-benar terkejut dan juga panik. "iya, Bu. Neng beneran" "neng hamil?" Qiana langsung menggeleng "engga, bu. Neng gak hamil" "terus kenapa atuh dadakan gini?" "sebenernya, udah lama neng sama calon suami neng rencanain ini" "terus kenapa neng baru bilang?" "neng gak mau bikin ibu pusing, bikin ibu bingung dan malah jadi beban ibu." Elis langsung menatap sendu Qiana. Sedih rasanya, seumur hidup anaknya, dia belum bisa memberikan kebahagiaan untuk sang anak. Bahkan kini anaknya akan menikah, menjadi milik suaminya dan dia masih belum melakukan apapun. "Tapi bener neng gak hamil? Gak dipaksa atau hal jelek lain?" Qiana menggeleng "engga bu, neng gak hamil, neng juga gak dipaksa, ini beneran keputusan neng sama calon neng" Elis menghela napas, mencoba mengatur dirinya agar lebih tenang. "Cerita sama ibu tentang calon neng, ibu pengen tahu" Qiana menarik napas dalam dan perlahan mengembuskannya, dia belum mengenal lebih dalam sosok Valdo, karena bisa dikatakan jika mereka adalah sosok asing untuk satu sama lain. Beruntung sebelumnya mereka sempat bertukar informasi tentang diri mereka sendiri. " Namanya Valdo Perwira, umurnya 29tahun-" "Kerjaannya?" Elis langsung menyela ucapan Qiana. "Kak Valdo punya restoran bu" "Ya Allah neng, berarti orang berada? Gak apa-apa? Keluarga kita pasti beda jauh sama keluarganya, kita cuma orang kecil neng, ibu takut" "Keluarganya Kak Valdo udah setuju bu, ibunya juga baik banget sama neng. Ibu jangan khawatir ya" Qiana mengusap lembut lengan Elis. "Beneran? Neng udah cerita tentang kondisi kita?" Qiana mengangguk "neng udah cerita" kecuali tentang hutang, biarlah itu tetap menjadi urusan dia dan ibunya. Lanjut Qiana dalam hati. "Bisa gak kalau neng sekarang telepon dia? ibu pengen bicara" Qiana mengangguk, lalu pergi ke kamar untuk mengambil ponselnya. "Neng telepon ya bu" Elis mengangguk, Qiana langsung menghubungi Valdo dan tidak perlu menunggu lama, laki-laki itu langsung mengangkatnya. "Iya, Qian?" "Kak Valdo sibuk? Ibu pengen ngomong" "Bisa. Aku ubah ke video call ya" "Iya kak" Setelah mode berubah menjadi video call, Qian langsung mengarahkan ponsel nya kepada Elis. "Halo bu, saya Valdo. Maaf baru menghubungi sekarang" ucap Valdo langsung saat kamera menangkap sosok Elis. "Jadi bener, kamu calon suaminya Qian?" Valdo tersenyum "iya bu, maaf kalau terkesan dadakan. Tapi ibu harus percaya, kalau gak ada hal buruk yang terjadi sama Qian" Elis mengangguk "ibu gak bisa banyak  ngomong lagi, semua ibu serahkan kepada kalian berdua" sebagai seorang ibu yang merasa belum bisa membahagiakan anaknya, Elis tidak ingin mengatur, rasanya dia tidak tahu diri jika melakukan itu.  "Terimakasih, bu. Maaf juga saya belum bisa kesana" "Iya, gak apa-apa. Tolong jagain Qian ya." Valdo kembali mengangguk "iya bu" Elis menyerahkan ponselnya kembali ke Qiana. Dia tidak bisa banyak bicara. Dia juga tidak akan menolak rencana sang anak jika itu bisa membuat anaknya bahagia. Selama ini, dia sangat sadar jika Qiana tidak pernah bahagia dan ketika waktunya tiba, dia tidak ingin menghalangi. *** "Neng, jujur. Neng dapat uang darimana?" Tanya Elis setelah Qiana bercerita bahwa hari ini mereka akan membayar setengah hutang yang mereka punya. "Pinjem ke Kak Valdo bu," bohong Qiana, Valdo saja tidak tahu jika uang muka yang dimintanya akan di pakai untuk membayar hutang. "Pinjem?" "Iya, sebenarnya Kak Valdo mau ngasih, cuma Qian gak enak dan gak mau, tapi Kak Valdo maksa, jadi Qian terima dengan alasan uang itu pinjam" lagi-lagi Qiana mengucap kata maaf atas kebohongan yang entah keberapa kalinya keluar dari mulut. "Tapi uangnya kan banyak neng, gak apa-apa?" "Engga bu, ibu tenang aja ya. Sekarang kita temui orangnya, kita diskusi dulu sama mereka" "Tapi neng-" "Bu, ibu percaya sama Qian?" Elis mengangguk. "Kalau begitu, ibu jangan khawatir ya" Qiana dan Elis kemudian pergi ke rumah Pak Gugun, orang yang dihutangi oleh ayahnya. "Jadi gimana?" Tanya Pak Gugun langsung setelah mereka duduk di ruang tamu. "Begini pak, bapak tahu kalau saya sama ibu gak punya banyak uang, bapak juga tahu kalau buat lunasin hutang juga bakal lama banget, bisa nyampe belasan tahun, atau mungkin puluhan tahun. Lalu tujuan saya sama ibu datang kesini adalah buat nego sama bapak, saya akan bayar semua hutang itu dalam waktu dua tahun, dengan syarat, bapak jangan pernah nagih setiap bulannya" jelas Qiana. "Jaminannya apa? Kamu sendiri tadi bilang kalau gak punya banyak uang. Belasan tahun aja belum tentu lunas, apalagi cuma dua tahun" "Hari ini saya akan bayar lima ratus juta, sisanya akan saya bayar dua tahun lagi. Itu jaminannya" "Jangan bohong" "Tidak. Saya cuma minta bapak nunggu dua tahun" "Tapi kamu yakin jika dua tahun itu kamu bisa melunasi nya?" "Yakin" "Oke. Asal kamu bayar uang lima ratus juta itu yang kamu bilang, hari ini" Qiana mengangguk. Sebenarnya, Pak Gugun bisa dikatakan masih memiliki sifat kemanusiaan, selama Qiana dan Elis tidak berbohong, Pak Gugun tidak akan melakukan kekerasan. Beda dengan anak buahnya yang kadang, malah terlalu gahar. "Tapi, bapak ikut saya ke Bank, saya takut ada apa-apa kalau bawa uang segitu banyaknya. Sekalian kita bikin surat perjanjian ya pak, tentang waktu pelunasan" "Oke. Saya setuju. Daripada saya dapat recehan dari kamu setiap bulannya, mending saya tunggu dua tahun. Kalau dua tahun kamu gak bayar, siap-siap aja. Saya akan lakukan apapun sesuai keinginan saya" Qiana mengangguk "oke" *** Qiana, Elis, Pak Gugun dan seorang anak buahnya berkumpul di salah satu ruangan milik bank. Qiana tidak ingin mengambil resiko. Dia ingin uang itu langsung diberikan ke Pak Gugun sebelum mereka keluar bank dan bersyukur, pihak bank mau memfasilitasinya itupun hasil campur tangan Pak Gugun yang sudah dikenal oleh pegawai bank tersebut. "Ini" Pak Gugun menyodorkan surat yang sudah dia tanda tangani. Surat yang menyatakan jika hutang akan dibayar dua tahun yang akan datang sejak ditandatanganinya surat dan Gugun tidak akan menagih bulanan kepada Elis maupun Qiana dan jika Gugun melanggar, hutang akan langsung dianggap lunas dan jika Qiana yang melanggar atau tidak dapat melunasi hutang sesuai waktu yang disepakati, rumah dan sawah akan langsung menjadi milik Gugun dan adapun sisa hutang yang tidak tertutup oleh sawah dan rumah, akan dikali dua, menjadi total hutang baru yang harus Qiana dan Elis bayar. Qiana meraihnya, mengangguk puas dengan surat tersebut. Dua tahun, dia dan ibunya akan lepas dari jeratan penderitaan ini. Dia juga akan pastikan jika rumah dan sawah itu tidak akan pernah berpindah tangan. Lanjut Qiana menyerahkan uang lima ratus juta yang baru diambilnya kepada Gugun. Laki-laki itu tersenyum puas. Dia cukup percaya kepada Qiana dan Elis. Selama ini, kedua orang itu selalu berusaha melunasi hutang meskipun sulit, itu juga menjadi salah satu pertimbangannya.  Selain itu, menunggu dua tahun akan lebih baik daripada belasan tahun atau puluhan tahun dengan pembayaran di cicil setiap bulan, memaksapun percuma, mereka berdua tidak memiliki barang yang sesuai dengan nominal hutang.  Elis tanpa sadar langsung menitikkan air matanya. Akhirnya, penderitaan yang selama ini menjerat dia dan Qiana bisa terlihat ujungnya. Dia pikir, selamanya dia akan hidup dengan jerat itu, sampai ajal menjemputnya. Tapi titik kebahagiaan itu kini mulai terlihat, meskipun butuh waktu untuk menunggu tapi itu bukanlah sebuah masalah, dia percaya kepada anaknya. "Makasih ya neng" Elis langsung memeluk Qiana. Rasa syukur tidak akan pernah berhenti dia ucapkan kepada Tuhan karena telah memberikan Qiana kepadanya. Sosok yang menguatkannya untuk tetap hidup hingga saat ini dan nanti.  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN