Empat: Keputusan

1663 Kata
Qiana membuka aplikasi kalkulator dalam ponselnya. Tangannya mengetik nominal sisa hutang sebesar sembilan ratus tujuh puluh dua juta, peninggalan ayahnya. Setiap bulan Qiana mencicilnya, tapi hutang itu rasanya tidak pernah berkurang. Jika sawahnya laku dijual, begitupun dengan rumah. Dia dan ibunya paling bisa mengantongi uang sebesar dua ratus lima puluh juta. Masih jauh untuk melunasi hutang. Kehilangan rumah, kehilangan sawah yang jadi mata pencaharian ibunya dan hutang tetap menumpuk. Suatu hal yang tentu saja Qiana hindari. Setidaknya, jika rumah dan sawahnya dijual dan hasilnya bisa melunasi hutang. Dia akan lakukan itu, dia tinggal menabung untuk masa depannya dan sang ibu. Rasanya butuh puluhan tahun dia bisa melunasi itu semua dengan gajinya yang sangat pas-pasan. Tapi pemilik uang jelas tidak mau, bahkan para penagih itu sudah terlalu sering marah dan memaksa untuk mereka melunasi hutang. "ayah brengs*ek" maki Qiana begitu saja. Emosi dalam dirinya benar-benar membara hingga tidak bisa lagi memikirkan rasa hormat kepada sosok itu. Tawaran dari Valdo kembali menyusup kedalam pikirannya. Satu milayar! Dia bisa melunasi semua hutang dengan uang tersebut. "gak! aku gak gila sampe mau terima itu" Qiana menggelengkan kepalanya. "tapi aku butuh uangnya" Qiana mengacak rambutnya, frustasi dengan pilihan apa yang harus dia ambil. Hingga dering ponsel mengalihkan perhatiannya. "ibu" lirih Qiana sambil menatap layar ponsel. "assalamualaikum, bu" sapa Qiana setelah menekan tombol hijau dan mendekatkan ponsel ke telinganya. "waalaikumsalam. Neng, udah istirahat?" Qiana sontak menjauhkan layar ponsel, melihat jam dan ternyata memang sudah waktunya istirahat kantor. "iya, bu" tidak mungkin dia bilang kepada sang ibu jika dia tengah membolos. "tos emam, geulis? (udah makan, cantik?)" "atos (udah) bu. Ibu lagi apa?" "ini neng, ibu lagi duduk aja. Abis di pijet sam Bi Icot" "emang ibu kenapa? sakit?" "iya neng, kaki ibu keseleo" "kenapa atuh? ibu jatoh? dimana?" "iya, tadi pagi neng yang nagih utang datang, terus ibu gak sengaja kedorong" Qiana langsung mengeratkan genggamannya di ponsel. "kedorong atau didorong bu?" tanya Qiana. "kedorong neng. Tapi sekarang udah enakan gara-gara di pijet" Qiana menghela napas. Dia yakin jika ibunya itu di dorong, bukan kedorong "pijetnya kan bayar, ibu ada uangnya? kenapa gak bilang?" "ada neng, ibu kan punya banyak beras, jadi kemarin ibu jual itu ke Bi Ecih sama Bi Mamar. Alhamdulillah, ada buat pijet" Qiana menutup matanya, menahan napas sejenak agar dia bisa mengontrol emosinya. Ibunya, bahkan untuk bertahan hidup harus menjual apa yang beliau miliki. "bu, terus buat makan gimana?" "cukup neng, kemarin ibu jual beras dapet delapan puluh ribu, tiga puluh buat bayar Bi Icot, sekarang ibu pegang lima puluh." "mana cukup atuh bu" "cukup, geulis. Ibu pan tinggal sendiri. Beras mah ada. Tinggal beli lauknya, tempe lima ribu, bisa buat beberapa kali makan." Air mata sudah tidak bisa Qiana bendung, bisa Qiana bilang jika ibunya belum pernah makan makanan yang mewah. Demi menghemat agar bisa membayar cicilan hutang, sang ibu bahkan rela hanya makan nasi dengan garam. Menghentikan penggunaan kompor gas dan kembali memakai hawu (tungku). Kalau hawu, bisa pake kayu bakar, gratis. Kalau gas, harus beli isi ulang. "Neng, ibumah kangen, neng kalau ada waktu, pulang ya. Udah lama gak ketemu neng" lanjut Elis yang membuat Qiana menggigit bibir dalamnya agar isakan tidak keluar. "neng" "iya bu" jawab Qiana dengan begitu serak. "bu, udah dulu ya. Neng mau mulai kerja lagi" lanjut Qiana dengan kesusahan, suaranya seperti tercekat di tenggorokan. Menutup panggilan dengan sang ibu, jari Qiana dengan cepat langsung mencari nomor Valdo. Dia tidak ingin membuat ibunya lebih lama berada dalam derita yang tidak terlihat akan selesai. "halo kak" ucap Qiana langsung dengan suara seraknya saat Valdo mengangkat sambungan telepon. *** Valdo mengerutkan keningnya saat melihat nomor asing menghubunginya. Hingga dia memilih menekan tombol hijau dan mendekatkan layar ponsel ke telinga. "halo Kak" mata Valdo langsung membulat. Qiana! dia tahu jika perempuan yang menghubunginya ini adalah Qiana meskipun suaranya terdengar berbeda dan serak tapi hanya perempuan itu yang memanggilnya dengan sebutan Kak. "iya, Qian" "bisa kita ketemu?" "bisa. Kapan?" "hari ini bisa? aku libur kerja" "bisa. Aku langsung otw ke kosan kamu" Valdo langsung menutup sambungan teleponnya. Dia merasa jika dirinya akan mendapatkan kabar yang baik dari Qiana. Dia optimis jika Qiana akan menerima tawarannya. Semua orang perlu uang bukan? termasuk perempuan muda seperti Qiana. Meraih kunci mobil diatas meja, Valdo langsung melangkah keluar restoran. Memasuki mobil dan segera meluncur ke tempat Qiana. Hingga empat puluh menit kemudian Valdo sudah berdiri didepan pintu kosan milik Qiana. Mobilnya sudah dia parkirkan di sebuah lapangan. Karena jika parkir di depan kosan milik Qiana, akan mengganggu pengguna jalan yang lain. Valdo mengetuk pintu dengan pelan, jantungnya berdegup begitu kencang. Bukan karena jatuh cinta lagi, tapi karena begitu penasaran dengan jawaban yang akan diucapkan Qiana. Pintu terbuka, Qiana muncul dengan baju santainya. Wajahnya terlihat lembab, sepertinya Qiana baru saja mencuci wajahnya. Sedangkan mata perempuan itu terlihat merah. Seperti baru selesai menangis. "masuk kak" Qiana membuka pintu lebih lebar, Valdo masuk kedalam setelah membuka sepatunya. Qiana menutup pintu setelah Valdo masuk. Menyiapkan air putih lalu meletakkannya di hadapan Valdo yang sudah duduk bersila diatas karpet. "terima kasih" Valdo meneguknya hingga setengah. Qiana mengangguk, dia sudah duduk berhadapan dengan Valdo. "maaf kalau kurang sopan, tapi rasanya kita tidak perlu berbasa-basi lagi. Jadi bagaimana dengan keputusan kamu? tentang tawaran yang aku berikan?" ucap Valdo langsung kepada intinya. Qiana menghela napas "jadi tawaran tersebut benar?" "tentu. Jadi kamu pikir aku berbohong?" Qiana mengangguk singkat "hanya memastikan, rasanya seperti mimpi, jika hal itu benar-benar ada dan terjadi kepada aku" "lalu?" Menarik napas dalam, Qiana mencoba menahan rasa sakit yang menghimpit hatinya. Rasanya seperti harga dirinya terinjak. "aku bersedia" jawab Qiana kemudian. Hanya cara ini yang bisa dia ambil demi mengeluarkan dia dan ibunya dari kubangan luka yang dibuat oleh ayahnya. Valdo tersenyum. Sangat puas dengan jawaban yang diberikan Qiana. Tebakannya tidak meleset. Uang yang banyak benar-benar membantunya. "kita akan bicarakan peraturan dan perjanjiannya" ucap Valdo. Qiana mengangguk. Memohon maaf kepada Tuhan karena sudah mempermainkan pernikahan. *** "silahkan masuk" Valdo membuka lebar pintu apartemennya. Hari ini, dia dan Qiana akan membahas perjanjian pernikahan yang akan mereka lakukan. "aku siapkan minum dulu" lanjut Valdo setelah Qiana masuk dan dia menutup pintu apartemen. Qiana mengedarkan pandangannya keseluruh sudut, apartemen Valdo sangat bagus dan ini adalah kali pertama dia masuk kedalam tempat seperti ini. Katakanlah dia norak, tapi seumur hidup, dia memang tidak pernah datang ke tempat seperti ini, termasuk menginap di sebuah kamar hotel. "silahkan duduk" Valdo kembali dari dapur dengan segelas jus jeruk untuk Qiana. Qiana mengangguk, lalu duduk di sofa. Dia menghela napas dan berusaha lebih santai. "apa kita akan bicara langsung ke inti?" tanya Valdo. Qiana kembali mengangguk "iya, lansung saja. Ini juga sudah malam" jawab Qiana, pulang kerja, dia memang langsung pergi ke apartemen Valdo. Laki-laki itu memaksa untuk menjemputnya. "oke. Sebentar" Valdo bangun dan pergi ke kamar, dia mengambil kontrak yang sudah dia buat untuk dia diskusikan dengan Qiana. "Ini kontraknya" Valdo langsung menyodorkan kepada Qiana, kontrak yang sudah diambilnya. Qiana langsung membacanya dengan teliti. Sedangkan Valdo hanya menunggu. "sudah dibaca?" tanya Valdo saat Qiana meletakkan kontraknya di meja. Qiana mengangguk. "seperti yang sudah aku tawarkan diawal, uang yang aku berikan satu milyar, atau kamu ingin menegonya?" tanya Valdo. Qiana menggeleng. Rasanya, jika menego uang tersebut akan memperkuat jika dirinya jika dia w************n. Semacam tawar menawar harga diri. "tidak" jawab Qiana. Valdo cukup terkejut dengan jawaban Qiana, padahal dia sudah bersiap jika perempuan itu meminta lebih banyak. "baik, untuk waktunya, kita akan menikah selama dua tahun" Valdo memperjelas. Qiana kembali mengangguk. "tidak ada larangan skinship. Kamu bebas menyentuhku dan aku akan menyentuh kamu jika kamu mengizinkan, kamu berhak memberi batasan." lanjut Valdo. Qiana lagi-lagi kembali mengangguk. "dan untuk alasan aku yang memasukkan penghapusan kontrak jika kamu hamil, itu karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam waktu dua tahun tersebut, tidak semua bisa berjalan dengan rencana kita dan jika benar nanti kamu hamil, anakku. Kontrak ini akan hangus dan kita akan melanjutkan pernikahan kita untuk selamanya. Sebagai suami dan istri yang sesungguhnya." jelas Valdo. Karena sebajingan apapun dirinya, dia tidak akan pernah membuang, menolak atau mengabaikan anaknya sendiri. Qiana menghela napas, apakah hal itu benar akan terjadi kepadanya? "lalu, poin mana yang ingin kamu diskusikan?" tanya Valdo kemudian. "bisa aku terima uangnya sekarang?" Qiana balik bertanya. "setengahnya bisa, tapi sisanya akan kamu akan terima jika kontrak selesai atau saat kita bercerai dan tentunya atas kesepakatan kita berdua. Meskipun nanti kita bercerai saat baru berjalan satu tahun, selama aku setuju dan kamu juga setuju untuk bercerai, kamu tetap akan mendapatkan uangnya. Dua tahun adalah batas maksimal kontrak ini berlaku. Setelah dua tahun, terhitung kita bukan suami istri, Pada saat itu, talak ku jatuh kepada kamu dan jika talak sudah jatuh tapi kondisi kamu hamil kita akan rujuk. Seperti yang aku jelaskan sebelumnya, selamanya kita akan menjadi suami dan istri jika kamu hamil " jawab Valdo. Kembali menghela napas, Qiana kemudian mengangguk. "Baik. Aku hanya akan meminta uangnya lebih dulu, sisanya aku setuju" bagi Qiana, melunasi hutang sesegera mungkin adalah yang utama. Biarlah sisanya dia nego lagi kepada sang pemilik uang agar dia diberi waktu yang cukup lagi untuk melunasi. Valdo langsung menuliskan poin yang diinginkan Qiana, setelah selesai, dia langsung menandatanganinya dan menyerahkan kepada Qiana untuk di tandatangani juga. "selesai. Uangnya akan aku setor hari ini juga" Valdo menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan. Qiana menerimanya sambil mengangguk. "Selanjutnya, yang perlu kita lakukan adalah memberitahu orang tua kita, dan kamu, besok harus bersiap bertemu ibuku" "secepat itu?" Valdo mengangguk yakin "lebih cepat lebih baik" Qiana menghela napas dan kembali mengangguk, pasrah. "satu lagi, segera urus surat resign kamu." Qiana kembali mengangguk, dalam perjanjian memang di atur juga jika dia tidak boleh lagi bekerja, Valdo akan memberinya uang bulanan, selayaknya pasangan suami dan istri sungguhan. Alasan lain yang tidak tertulis adalah gengsi. Valdo merasa malu kepada teman-temannya atau bahkan kedua orangtuanya jika tahu bahwa istrinya bekerja apalagi dengan gaji kecil, malu. Seolah-olah uang yang dia berikan kepada istrinya kurang. Semua tentang harga diri. "tapi aku gak bisa langsung keluar, butuh proses" "iya aku ngerti. Ajukan pengunduran diri secepatnya" "iya" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN