Mereka sampai di tepi pulau dengan keheningan menyambut, ketujuh orang itu mengetatkan pegangan di s*****a masing-masing. Saat ini mereka sama-sama memegang s*****a-s*****a baru dan lebih efesien di pakai saat berada di dalam hutan dengan keadaan gelap. “Ssshh” Ania memegang kepalanya untuk kesekian kali. Tubuhnya agak limbung dan hampir jatuh jika saja Ren dan Daniel tidak menahan tubuhnya. Penglihatan Ania terasa kabur. “Kau baik-baik saja?” tanya Ren bersamaan dengan Daniel bersamaan. Ania menepis tangan keduanya begitu dia dapat menguasai keseimbangan tubuhnya. “Hanya sedikit pusing,” dia meraba saku bajunya dan ternyata tidak menemukan obat-obat itu. Ania mengerutkan keningnya lalu kembali memeriksa di setiap saku bajunya dan tidak menemukan obat penghilang nyeri itu. “s**t!” “Ka

