10

3001 Kata
 Cia menjalankan aksinya ia mengajak Ela untuk menemaninya ke pesta adiknya Carra. Ela tak bisa menolak permintaan Cia dan mengikuti semua keinginan Cia. Mereka saat ini sedang didalam perjalanan menuju tempat perawatan kulit yang sering dikunjungi keluarga mereka. "Ela kamu suka sama Kenzo ya?" Goda Cia.         Supir terkikik  mendengar ucapan Nyonya besar mereka. "Nnnngggak bunda!" Ucap Ela dengan wajah yang memerah karena malu. "Nggak usah bohong sama Bunda sayang. Kamu takut bunda nggAk setuju sama kamu?" tanya Cia lembut.         Ela menganggukan kepalanya dengan malu-malu. "Hahahaha...Bunda 100% pengen kamu jadi menantu bunda Ela. Kamu pikir Bunda kayak di sinetron itu yaNG mau menantu yang bla...bla.." ucap Cia terbahak.         Ela tersenyum kaku dan ia tidak yakin jika Cia benar-benar menyetujuinya menjadi menatunya. "La...kamu ikutin semua keinginan Bunda ya, Kita kerjain Kenzo!" pinta Cia.         "Tapi Bun...aku dan kak Kenzo tidak ada hubungan apa-apa Bun!" Ungkap Ela. Ia tidak mau Kenzo kembali marah padanya.         Cia menatap Ela dengan kesal "Gini deh sekarang Bunda tanya sama kamu, kamu sukakan sama Kenzo?" Duarrrr...Ela merasa pertanyaan itu benar adannya dan 1 triliun persen ia benar-benar cinta sama Kenzo. "Iya...bunda!" Cicit Ela dengan muka yang kembali memerah. "Hahahahahah bunda sudah tahu sayang. Kalian pake pelukan segala sampai pagi, tidur diranjang yang sama dan jangan mau lagi diajak Kenzo pelukan atau disosor  ya nak!"  Perintah Cia. "Iya Bunda!" ucap Ela pelan. Ia benar-benar sangat malu saat ini.         Cia tersenyum penuh misteri. Ia memeluk Ela dan mengelus rambut Ela dengan penuh kasih sayang. "Bunda janji kamu akan bahagia nak!". "Tapi Bun kak Kenzo nggak suka sama Ela!" Jujur Ela. Ia tidak ingin memaksakan perasaan Kenzo karena Kenzo hanya menyayanginya sebagai adik. Adik? Entalah ia juga ragu karena perlakuan Kenzo akhir-akhir ini berbeda dengannya. "Kamu tenang saja sayang itu urusan Bunda. Sekarang kita pergi perawatan dulu ya!" jelas Cia. "Iya Bun".         Sesampainya  ditempat perawatan kulit langganan Lala istrinya Dewa  kakaknya Cia. Cia meminta rekomendasi dari Lala mengenai tempat perawatan kulit yang paling bagus di Jakarta karena ia biasanya selalu didatangkan oleh Varo Dokter kulit. Dan kali ini Cia tidak ingin suaminya mengetahui rencanannya. Cia meminta Dokter melakukan treatment untuk mencerahkan seluruh tubuh dan wajah Ela. Ia juga meminta mereka melakukan relaksasi agar Ela merasa tenang dan menghilangkan sejenak beban pikiranya Selama tiga jam mereka melakukan perawatan kemudian Cia menghubungi butik yang dimiliki Vio dan ia meminta para karyawan Vio merekomendasikan baju-baju trend rancangan Vio yang paling hits untuk Ela.         Cia juga membelikan beberapa pasang sepatu dan high heels untuk Ela. Cia tersenyum puas saat melihat barang belanjaan mereka yang ternyata begitu banyak. Semua karyawan  mall memberikan hormat kepadanya dan itu membuat Ela terkejut.         "Kalian semua lihat wajah wanita cantik ini. Jika dia ingin membeli sesuatu di Mall ini kalian harus melayaninya dengan baik, mengerti!" ucap Cia dan karyawan yang mendengar ucapan Cia menganggukkan kepalanya.         Mereka kemudian menuju salon ternama dan Cia meminta pemilik salon secara khusus untuk mengubah penampilan Ela. Cia tersenyum puas saat melihat Ela dengan penampilan barunya. Ela menggunakan gaun  merah muda tanpa lengan selutut dan ketat di pahanya membentuk lekuk tubuh Ela. Rambut panjang  Ela dibiarkan tergerai dengan ikal diunjung rambutnya. Cia memaksa Ela untuk tidak memakai kacamatanya. "Buka kaca mata palsu itu Ela. Bunda tahu matamu tidak rusak!" Perintah Cia. "Tapi Bun...Kak Kenzo akan memarahiku!" jelas Ela, ia tidak ingin Kenzo menatapnya dengan tajam. Dasar posesif anak sama ayah sama saja! Ela cantik begini dibuat culun.  Dasar anak kurang ajar kau Kenzo. Batin cia "Nggak usah takut sama Kenzo Bunda yang tanggung jawab!" ucap Cia melihat ekspresi khawatir Ela.         Ela menganggukkan kepalanya kemudian melepas kaca matanya. Cia menatap Ela penuh kekaguman. Kencantikan  alami yang menakjubkan. Kenzo benar-benar menemukan mutiara, seorang Ela yang baik hati sesuai dengan wajah cantiknya. Cia memakaikan  dress hitam dan mengajak Ela ke hotel mewah. Saat ini akan berlangsung acara ulang tahun pernikahan Arjuna dan Carra. Carra merupakan adik kembar Cia. Cia tersenyum saat beberapa orang menatapnya dan Ela dengan tatapan  penuh kekaguman.         Acara ini sangat mewah dan tidak sembarang orang bisa datang ke acara pengusaha kaya  Arjuna Semesta. Acara ini dihadiri dari berbagai kalangan yaitu kolega bisninsya, karyawan-karyawan diperusahaanya dan tentunya keluarga besarnya Alexander, Dirgantara serta keluarga Arjuna yang berasal dari korea. Beberapa kalangan artis, aktor, penyanyi bahkan para pejabat dan politikus turut hadir pada acara ini. Cia tertawa saat orang-orang memanggilnya Carra. Semenjak Carra mengoperasi t**i lalatnya yang menjadi ciri yang membedakannya dengan Cia dan sekarang mereka terlihat seperti pinang dibelah dua. Putri tersenyum  ia duduk dikursi roda yang didorong oleh suaminya Arkhan. Ia memanggil Cia dan Ela untuk bergabung bersama mereka.         Varo segera memeluk istrinya dengan  posesif. Kenzi membelalakan matanya ketika melihat terlihat Ela begitu cantik. Kenzo tidak menyadari kehadiran Ela. Saat Kenzi menyenggol lengannya dan menujuk Ela. Kenzo terkejut dan wajahnya memerah karena menahan marah. Seperti dugaan Cia, anaknya itu pasti akan marah. Kenzo melihat tatapan banyak lelaki kepada Ela. Bahkan dari mereka terang-terang menyatakan ketertarikanya pada Ela. Ela terkejut saat seseorang memeluknya dari belakang.         "Aku kangen kamu Ela kamu pergi dari Jerman tanpa sepengetahuanku!" ucap laki-laki  yang saat ini menghirup aroma harum dari rambut Ela.         "Maaf lepaskan aku!" ucap Ela kesal, ia membalikan tubuhnya dan terkejut saat melihat Bian yang ternyata memeluknya.         Ela sangat membenci Bian yang meninggalkanya dipesta dan membuatnya hampir saja dilecehkan. Saat itu Kenzo merupakan pahlawan bagi Ela karena menyelamatkannya dari laki-laki yang sedang  menganggunya. "Hey aku datang dari Jerman khusus ingin mencarimu sayang!" ucap Bian mengelus pipi Ela dengan lembut.         Ela merasa tidak nyaman dan berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Bian. Seseorang mendekat dan segera menarik tangan Ela agar laki-laki itu menjauh dari Ela "Maaf tuan anda mengganggu pasangan saya malam ini. Perkenalkan nama saya Bima!" ucap  Bima mengulurkan tangannya sambil tersenyum ramah.         "Brayen!" Ucap Bian kesal. Setelah sekian lama ia mencari Ela dan akhirnya menemukan Ela, ia sepertinya  menemukan saingan baru untuk mendapatkan hati Ela.         "Maaf saya harus membawa pasangan saya menemui keluarga saya!"  ucap Bima tenang. Ela menatap laki-laki yang mengenggam tanganya dengan tatapan mengagumkan. Laki-laki ini terlalu sempurna untuk menjadi seorang manusia. Wajahnya seperti pahatan dan terlalu indah. Tampan sekali, tapi dia bukan orang jahatkan?         Setelah mereka telah menjauh dari Bian, Ela segera melepaskan tanganya dari  genggaman tangan Bima. "Terima kasih tuan sudah menyelamatkan saya!" Ucap Ela sopan. Bima tersenyum kepada Ela "Saya diminta Bunda untuk menolongmu calon kakak ipar!" Goda Bima. "Jadi Bunda yang.." ucapan Ela segera dipotong Bima. "Iya dan kamu nggak boleh bilang kepada siapapun jika saya disuruh Bunda untuk mendekatimu. Kedekatan kita saat ini hanya pura-pura dan jangan sampai kau menjatuhkan hatimu kepadaku!" Goda bima lagi. Ia mengedipkan kedua matanya dan tersenyum ramah membuat Ela ikut tersenyum dan menganggukan kepalanya.         Kenzo menggenggam tangannya dengan amarahnya yang telah memuncak. Mata Kenzo menggelap menahan amarahnya. "Kak...kalau kau membiarkan Ela didekati lelaki lain maka kau akan segera kehilangannya!" Ucap Kenzi sambil meminum minumanya dan menyunggingkan senyumannya. Kenzo geram dan pergi meninggalkan acara sejenak dan menuju toilet. Kenzo mencuci mukanya dan ia menghela napasnya. Ia melihat dengan  begitu jelas Brayen memeluk Ela dan Bima menggenggam tangan Ela. Tak ada satu pun orang yang boleh merebutnya dariku... Dia miliku...         Kenzo kembali kedalam acara dan melihat Ela yang berbicang dengan para sepupunya. Ia juga melihat Ela tersenyum kepada Revan dan itu membuat hatinya bertambah panas. Kenzo memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan berjalan mendekati mereka. Ela memang begitu cantik dimata Kenzo namun itu juga telah membuatnya  sangat kesal  karena saat ini penampilan Ela membuat mata para lelaki menginginkannya. Kenzo memilih duduk disamping Ela. Mereka semua  saat  ini sedang duduk menikmati pertujukan beberapa penyanyi yang sengaja diundang untuk memeriahkan pesta ini.         Kenzo berbisik ditelinga Ela. "Hari ini penampilanmu sungguh sempurna seperti w************n" ucap Kenzo dingin. "Sudah berapa pria yang memelukmu dipesta ini?".         Ela merasakan jantungnya diremas, rasa sakit menjalar ditubuhnya saat kata-k********r diucapkan  Kenzo. Ela memilih untuk  diam dan tidak menanggapi perkataan Kenzo. Tapi dia sepertinya tidak bisa agi bersabar karena Kenzo terus saja menatapnya dengan tajam. "Bun...Ela ke toilet dulu!" ucap Ela tersenyum kepada Cia. “Mau Bunda temani?” tawar Cia. “Enggak usah Bun” ucap Ela. Ia melangkahkan kakinya menuju toilet.         Ela berjalan sambil melirik tatapan Kenzo yang menyeramkan kepadanya. Ia segera menuju toilet dan menghapus jejak air mata yang menetes akibat mendengar ucapan kasar dari Kenzo. "Hiks...hiks...apa salahku? Kenapa Kak Ken sekarang membenciku" ucap Ela sesegukkan         Ela membuka pintu toilet dan menemukan Bian yang tersenyum dihadapanya. Ela segera meninggalkan Bian yang mencoba mendekatinya. Ia berjalan dengan tergesa-gesa namun tangannya berhasil ditarik Bian. "Izinkan aku bicara padamu La!" ucap Bian dengan tatapan memohon.         Ela melihat ketulusan di wajah Bian dan  sepertinya   Bian  tidak akan berbuat yang tidak-tidak padanya. "Aku merindukanmu. Aku telah menemui ibumu la. Mama Reni menyetujui hubungan kita dan kamu tahu papa tirimu pak Anthony adalah kolega bisnis keluargaku dan dia mendukung keputusanku untuk menikahimu!" Jelas Brayen Pantasan  mama ingin menemuiku dirumah sakit ternyata ia melakukan ini untuk suaminya dan bukan karena merindukanku. Batin Ela         "Aku sungguh menyayangimu Ela please menikalah denganku!" Pinta Bian menatap Ela dengan tatapn dalam.         "Maaf tapi aku tidak mencintaimu dan aku hanya anak seorang pembantu tidak pantas untukmu!" Ucap Ela dan ia meninggalkan Bian yang masih terpaku atas penolakan Ela. Tak ada wanita yang selama ini menolak pesona seorang Brayen alias Bian. Aku akan tak akan melepaskanmu Ela. Batin Bian         Ela melangkahkan kakinya kembali menuju para keluarga Alexsander duduk menikmati hiburan dari para Artis. Namun tangannnya  tiba-tiba ditarik Kenzo dengan kasar. "Ikut aku sekarang!" Peritah Kenzo dengan suara beratnya.         Kenzo menarik Ela dan membawanya keluar dari pesta. Ia memasukkan Ela kedalam mobilnya dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak ada pembicaraan di dalam mobil. Ela memikirkan ucapan Bian tentang ibu yang melahirkanya dan meninggalkannya.         Kenzo menghetikan mobilnya dijalan yang sepi. Lalu ia memandang Ela dengan tatapan membunuhnya. Kenzo mengetatkan rahangnya dan  mencengkram stir mobil. "Kenapa kau tidak pernah menuruti keinginaku? Apa kau memang ingin menjadi jalang hah!" Teriak Kenzo.         Ela menatap Kenzo dengan sendu. Tiba-tiba ucapan Kenzo membuatnya ingin meluapkan kemarahaannya yang sejak tadi ia pendam "Apa salahku dengan Kakak? Aku hanya mengikuti keinginan Bunda karena Bunda baik padaku hiks...hiks..." Ela menangis tersedu-sedu.         "Kenapa kalian membenciku apa aku tak pantas bahagia? Semuanya tidak menyayangiku hanya bunda Cia yang menyangiku!" ucap Ela menatap Kenzo dengan tatapan nanar.         Kenzo diam dan ia menatap Ela dengan sendu. Amarahnya yang meledak-ledak tadi reda saat melihat butiran air mata turun dari kedua mata Ela yang menatapnya dengan sendu. "Aku memang anak haram yang membuat semua orang susah dan aku minta maaf membuat kakak marah tanpa aku tahu sebab kakak marah kepadaku itu apa hiks...hiks..". tangis Ela membuat Kenzo menyesal dengan apa yang telah ia ucapkan "Aku pergi Kak dan sampaikan maafku kepada Bunda!" ucap Ela.         Ela membuka pintu mobil dan membuka kedua high heelnya, ia  berjalan menelusuri jalan tanpa menoleh ke belakang. Kenzo  mematung dan mencerna ucapan Ela. ia sadar apa yang diucapkannya tela  membuat Ela memutuskan untuk pergi.         Kenzo mengikuti Ela dengan  mobilnya dan memberhentikan  mobilnya tepat disamping Ela yang berjalan sambil menangis. Kenzo menurunkan kaca mobilnya. "Masuk!" Perintah Kenzo         Dalam diam Ela melanjutkan langkahnya. "Masuk Ela!" Melihat Ela yang tidak juga menghentikan langkahnya Kenzo membuka pintu mobilnya dan segera keluar dan menarik pergelangan tangan Ela.         Ela meronta dan meminta Kenzo untuk melepaskan tangannya. "Lepaskan sekarang juga atau aku akan teriak!" Ancam Ela.         Ancaman Ela tidak berarti apapun untuk Kenzo. Kenzo segera menggendong Ela dan mendudukkan Ela disebelah kemudi. Ela menagis tersedu-sedu dan memukul  lengan Kenzo. Kenzo tidak menanggapi kemarahan Ela. Ia hanya diam seolah tidak mendengar ucapan Ela. "Dasar dingin, mulutmu kasar aku benci kamu.  Biarkan aku pergi hiks...hiks...berhenti Kenzo aku mohon!"         Kenzo tetap melanjukan mobilnya dan memilih untuk tidak menanggapi kemarahan Ela padanya. Kenzo menghentikan  mobilnya tepat didepan Hotel. Ela menghentikan tangisnya dan terkejut saat  melihat mobil Kenzo berhenti tepat didepan Hotel keluarganya. "Lebih baik kamu diam sekarang atau kau ingin aku mempermalukan dirimu dan dianggap jalang oleh penghuni hotel ini?" ucap Kenzo. "Aku memang jalang, memangnya kenapa?" Sindir Ela.         Kenzo menarik tangan Ela dan kemudian memeluknya. Ela memejamkan matanya, ia selalu nyaman menghirup harum tubuh Kenzo namun ingatannya kembali saat Cia memintanya jangan mau dipeluk Kenzo. Ela mencoba melepaskan pelukan Kenzo namun kenzo mempererat pelukanya. "Jangan pernah menolakku Ela!" Ucap Kenzo dingin. "Kau tahu aku bisa lebih kejam dari saudara-saudaramu itu!" Ancam Kenzo. "Kenapa kau marah padaku?" Teriak Ela. "Aku tak perlu menjelaskan kenapa aku marah padamu!" Ucap Kenzo dingin. Kenzo mengambil Tisu dan membersihkan wajah Ela dengan lembut. "Kita menginap disini!". "Aku mau pulang...aku nggak mau membuat Bunda Cia khawatir!" ucap Ela. "Kamu mau Bude aku usir  dari rumahku? bahkan aku bisa membuatmu tidak pernah bertemu denganya!"  "Atau aku akan mengancurkan perusahaan papimu itu dan membuatnya menjadi gembel?" ancam Kenzo. "Kenapa kau sekarang begitu kejam Kak!" Kesal Ela. Sifat Kenzo yang berubah-ubah padanya membuatnya bingung. "Kenapa? Bukannya kau sangat suka dipeluk orang kejam sepertiku?" Tanya datar namu membuat Ela benar-benar kesal. Ela memukul-mukul d**a Kenzo dan Kenzo hanya menatapnya dingin tanpa menahan Ela untuk tidak memukulnya lagi.         "Turuti keinginanku Ela atau aku benar-benar membuat keluargamu yang jahat itu jatuh miskin!" ucapan Kenzo membuat Ela menghentikan gerakannya.         Ela memikirkan nasib Papinya dan Kakanya Rian. Dia tidak ingin keduanya hidup prihatin mengingat Kenzo yang seperti ini  dan besikap kejam. Ela takut Kenzo benar-benar akan mengusir Bude dari rumahnya. "Baiklah aku akan mengikuti keinginamu!" Ucap Ela pelan. Sepertinya ia tidak akan  bisa menang  berdebat dengan Kenzo. Kenzo menggengam tangan Ela dan segera memasuki Lift khusus CEO. Kenzo merapikan rambut Ela yang menutupi wajah Ela.         Mereka berhenti dilantai 10 khusus Ceo dan didalam ruangan ini terdapat tiga kamar yang begitu luas. Kenzo menghubungi petugas hotel meminta mereka membelikan pakaian ganti untuk dia dan Ela dan menyiapkan makan malam mereka. Ela merebahkan tubuhnya di sofa, ia menutup matanya memikirkan masalah yang ia hadapainya. Bukan hanya mami Gendis dan anak-anaknya tapi sekarang Bian dan Reni yang tiba-tiba muncul. Kenzo berdiri, ia melipat kedua tanganya dan menyederkan tubuhnya didinding. Ia melihat Ela yang menahan tangisnya mrmbuatnya menghela napasnya.         Kenzo mengangkat tubuh Ela yang sedang menangis. Ela meronta meminta Kenzo untuk menurunkanya. "Kita bicara dikamar!" ucap Kenzo. Kenzo membaringkan tubuh Ela dan ia duduk disamping Ela. "Kenapa?" tanya Kenzo. Kenapa? Kak...apakah tak ada sedikit saja permintaan maaf darimu? Batin Ela         Kenzo mengelus kepala Ela. "Apa yang kau bicarakan dengan Brayen?" tanya Kenzo penasaran. Ia terkejut melihat kehadiran Brayen dipesta kerabatnya. Ela diam ia tak ingin mengatakan apapun saat ini. "Ela jawab pertanyaanku!" Ucap Kenzo dingin.         Karena Kesal kenzo mengunci  tubuh Ela dan menatap dengan Ela tajam "Katakan atau aku akan melakukan hal yang tidak akan kamu duga  sekarang juga!" Ancam Kenzo.         Ela terkejut dengan pernyataan Kenzo dan ia tidak ingin diperlakukan seperti w************n. "Baiklah aku akan cerita tapi kakak menyingkir dari tubuhku kak. Kakak berat!" kesal Ela.         Ela terkejut saat kenzo mengecup keningnya membaringkan tubuhnya kesebelahnya sambil memeluk Ela dari belakang. "Apa yang kau bicarakan padanya?" Tanya Kenzo dingin.         "Dia bilang jika dia sudah melamarku kepada mama  Reni dan mama menyetujuinya. Bian bilang ia mencintaiku dan ingin menikah denganku!" Jelas Ela. "Apa jawabanmu?" tanya Kenzo berusaha mendatarkan suaranya. "Aku menolaknya dan mengatakan kalau aku tidak mencintainya"  jelas Ela, ia  merasakan Kenzo mengeratkan pelukannya.         "Bagus, katakan kepada semua pria yang mendekatimu kalau kamu menolak mereka yang mendekatimu!" Perintah Kenzo.         Ela mengeryitkan dahinya mendengar ucapan Kenzo. Ia bingung maksud ucapan Kenzo dan perlakuan Kenzo yang berubah-ubah padanya. "Apa kau mendengar ucapanku Ela?" Bisik Kenzo pelan  membuat bulu kuduk Ela meremang.         "Kalau aku menolak semua pria maka aku tidak akan pernah punya pacar kak!" kesal Ela karena ia tidak suka jika Kenzo terlalu mengekang kehidupan pribadinya. Ela ingin berbalik menatap Kenzo namun kenzo menahan pergerakan tubuh Ela. "Kau tidak perlu pacaran aku yang akan mencarikan  suami untukmu!" Tegas Kenzo.         Mendengar ucapan Kenzo ada kekecewaan di hati Ela. Bagaimana mungkin ia menikah dengan laki-laki yang dicarikan  oleh orang yang ia cintai dan yang ia harapkan menjadi suaminya. "Tidak perlu aku bisa mencarinya sendiri tidak perlu bantuan kakak!" Ucap Ela kesal.         Kenzo menyunggingkan senyumanya sambil mengelus rambut Ela dengan lembut. "Laki-laki yang mendekatimu akan aku buat menderita. Jadi singkirkan  pikiranmu untuk memiliki pacar tanpa persetujuanku!" Jelas Kenzo.         "Apa arti aku dihidupmu kak? Kenapa kau memperlakukan aku seperti ini!" Teriak Ela mencoba melepaskan pelukan Kenzo. "Aku orang yang mempedulikanmu dan ingin menjaga serta melindungimu!" Ucap Kenzo dingin. Ya...aku tahu kamu hanya menganggapku adikmu tapi aku bukan orang bodoh kak. Batin Ela         Ela mendorong tubuh Kenzo agar melepaskan pelukanya. "Kak...jangan seperti ini kalau orang melihatnya ini akan membuat orang salah paham kak!" Ucap Ela sambil menarik tangan Kenzo yang memeluk pinggang rampingnya "Tidak ada orang yang melihat kita!" Ucap Kenzo datar. "Tapi aku buka  jalang yang bisa kakak peluk seperti ini!" Kesal Ela "Kau jalang kepunyaanku jadi jangan pernah menolakku!" Ucap Kenzo kasar. Ela diam dan mencoba memejamkan matanya. Ia terlalu lelah saat ini. "Jangan tidur kamu belum makan La!" Kenzo kembali mengeratkan pelukanya "Aku ngantuk kak, lagian aku tidak lapar" kesal Ela.         Lima menit kemudian Kenzo mendengar hembusan napas teratur Ela yang menandakan jika ia telah terlelap. Kenzo membalikan wajah Ela. Baginya Ela yang sedang tertidur adalah kesempatan baginya untuk mencium Ela. Kenzo mengelus pipi Ela dan mencium bibir Ela  kemudian ia mencium kening Ela. "Good night".         Kenzo menyelimuti Ela dan menutup pintu kamar perlahan. Ia memutuskan untuk tidur dikamar sebelah karena ia takan bisa menahan diri jika melihat Ela. Kenzo lelaki normal dan sangat menginginkan wanita yang ia sayangi menjadi miliknya. Kenzo meminum Wine lalu menggoyakan gelasnya. Ia melihat pemandangan kota jakarta yang dipenuhi lampu-lampu yang bewarna  terlihat begitu indah. Apapagi  saat kota yang selalu macet dan riuh akan menjadi tenang  saat dimalam hari. Pukul dua pagi Kenzo belum juga terlelap ia sengaja menunggu jam dua pagi untuk menghubungi seseorang yang berada di Jerman         "Mark...cari informasi mengenai Anthony dia seorang Dokter dan juga Brayen. Aku ingin kau membeli saham mereka dan aku bisa mengusai perusahaan  mereka!". "Baik tuan akan saya laksanakan!". "Lakukan secara rapi Mark!".         Kenzo menutup sambungan teleponnya dan membuka pintu kamar yang Ela tempati. Ia memandang Ela dari pintu kamar Ela. Wajah Ela yang polos itulah yang membuat Kenzo sangat menyukai Ela pada pandangan pertama. Aku tak akan membiarkan siapapun mengambilmu dariku Ela. Akan ku pastikan kau hanya akan menjadi miliku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN