Kekhawatiran

2426 Kata
Rigel terbangun dengan mata yang sembab. Langit sudah gelap, Rigel tertidur cukup lama. Perutnya terasa perih, Merasa lapar karena energinya habis untuk menangis. Ditambah lagi, Rigel belum memakan apapun sejak tadi pagi. Rigel celingak-celinguk mencari keberadaan ponselnya yang ada di ujung ruangan. Sepertinya, Rigel membanting ponselnya cukup keras hingga terpelanting sampai ke ujung ruangan dekat jendela. Dengan langkahnya yang masih gontai, Rigel menyandarkan tubuhnya pada dinding dan menggunakan tangannya untuk meraih ponsel. Kepalanya terasa begitu pening. Rigel menatap ponselnya yang sudah tak karuan. Garis-garis retakan terlihat jelas di layar ponsel. Tidak ada yang Rigel sesali atas apa yang telah dilakukannya tadi. Rigel mencoba menekan tombol power ponsel miliknya. Dan sungguh diluar dugaan, ponselnya Rigel masih berfungsi dengan baik meskipun tampilannya terlihat sangat memprihatinkan. Jumlah pesan masuk dan panggilan tak terjawab di ponsel Rigel bertambah dua kali lipat. Tidak hanya pesan dan panggilan dari Arsella tetapi juga dari Vega, Marco, Ryu, Chelsea, Yera, dan satu nomor tanpa nama. Dari banyaknya orang yang menghubungi Rigel sama sekali tidak satu pesanpun yang masuk dari ayahnya, Roy Hillary. Air mata kembali mengalir membasahi wajah Rigel. Mungkin memang keberadaan Rigel tidak sepenting itu bagi Roy, asal Rigel telah disekolahkan dan diberikan fasilitas maka semuanya akan baik-baik saja. Dan ketika Rigel mencoba melawan itu untuk mendapatkan perhatian Roy tetapi yang dilakukan oleh Rigel adalah sebuah kesia-sian belaka dan menjadi akhir dari semuanya, setidaknya itu yang saat ini memenuhi pikiran Rigel. Tidak ada satupun pesan masuk yang Rigel baca. Rigel hanya melihatnya sekilas dengan pandangan kabur dan tidak jelas, lalu kembali mematikan ponselnya. Rigel tidak ingin keberadaannya dapat dilacak oleh orang lain melalui sinyal telepon. Rigel menyeka air matanya, berusaha bangkit sekuat tenaga untuk membersihkan diri. Rigel mengganti pakaian kantor dengan pakaian yang lebih santai. Dengan celana jeans hitam yang Rigel padukan dengan sweater maroon, Rigel bersiap untuk keluar dari kamar hotel untuk mencari makan. Tak ketinggalan Rigel mempercantik penampilannya malam ini dengan menggunakan sneakers berwarna putih. Rigel tidak ingin untuk mencari makan di luar hotel, merasa khawatir jika ada seseorang yang dikenalnya bertemu di jalan. Padahal Rigel sungguh rindu dengan makanan kaki lima di malam hari. Dari pada mencari resiko, Rigel memilih untuk merogoh koceknya lebih dalam untuk makan di restaurant hotel. Dari banyak meja yang ada di rooftop restaurant, hanya meja Rigel yang  berisi satu orang. Semua meja diisi oleh mereka dengan orang yang terkasih. Hanya deruan angin malam yang menjadi kawan bagi Rigel untuk melepas penat. Tak lama, pesanan Rigel datang. Semua makanan di restaurant ini terlihat menggiurkan. Tentu saja, butuh harga mahal untuk bisa menikmati hidangan seafood mewah restaurant seperti ini. Satu suap Rigel mencoba hidangan yang tersaji di depannya tetapi rasanya sungguh tidak enak. Bukan, bukan karena rasa masakannya yang tidak enak tetapi suasana hati Rigel yang tidak enak dan membuat hidangan lezat ini seperti tidak ada rasa. Tetapi mau bagaimanapun, Rigel tetap memaksa untuk menghabiskan makan malam ini. Selain karena untuk kesehatan Rigel, Rigel juga tidak ingin rugi dengan menyisakan makanan yang menurut Rigel harganya sangat mahal. Jika tidak dipaksa oleh keadaan, sudah pasti Rigel memilih makanan di kaki lima. “Anak Ayah yang cantik jelita, seneng nggak hari ini?” “Seneng banget, Ayah tau, tadi aku belajar berenang dengan Ibu.” “Oh, ya? Wah senangnya, andai Ayah tidak ada rapat.” “Terus, apa lagi yang anak cantik lakukan? Ceritakan pada Ayah.” “........................................” Air mata Rigel kembali mengalir, hanya karena melihat kedekatan seorang putri dengan Ayahnya yang tepat berada di depan meja milik Rigel. Ada perasaan hangat ketika melihat kedekatan mereka tetapi disaat bersamaan, muncul perasaan sakit yang begitu dalam. Perasaan yang membuat Rigel sesak karena tidak pernah tahu bagaimana rasanya bisa bercengkrama dan dipeluk dengan hangat oleh Ayah sendiri.  Lebih menyakitkan lagi, ketika Rigel tidak pernah tahu bagaimana rasanya begitu dicintai dan dibanggakan oleh Ayahnya sendiri padahal sejek kecil Rigel selalu tinggal bersama Ayahnya. Rigel langsung segera beranjak meninggalkan restaurant. Persetan, dengan makanan mahal yang masih tersisa cukup banyak. Hatinya akan semakin hancur jika harus melihat keharmonisan antara Ayah dan putrinya itu lebih lama lagi. Semesta menyadarkan Rigel dari mimpinya melalui sinar matahari pagi yang menjadi alarm alami bagi Rigel. Sejak berada di hotel, Rigel menjadi orang yang mudah sekali tertidur karena terlalu lelah setelah seharian menangis seorang diri. Waktu Rigel untuk menikmati mewahnya president suite room harus berakhir hari ini. Dalam kondisi yang sedang terpuruk, Rigel tidak akan segan untuk menghabiskan banyak uang demi menghibur diri sendiri. Mulai dari menyewa president suite room dan makan di restaurant hotel yang begitu mewah, semua itu Rigel lakukan untuk diri sendiri meskipun tidak sepenuhnya mengobati saki hati Rigel namun, setidaknya dengan begitu Rigel merasa lebih baik dan tetap memiliki harapan untuk kehidupannya yang lebih baik dan bahagia. Rigel sudah memikirkan semuanya dengan matang dan sudah Rigel putuskan untuk mencari apartemen yang tidak terlalu mahal sebagai tempat berlindung Rigel sementara waktu. Rigel merasa belum siap jika harus kembali ke rumah. Rigel segera mengemas barang-barangnya dan meninggalkan hotel menuju ke apartemen yang telah Rigel sewa sebelumnya. Meskipun tidak semewah rumah milik keluarga Hillary namun, Rigel tidak masalah selama apartemen ini bersih dan dapat membuat Rigel merasa lebih tenang. Segera, Rigel menata barang-barangnya yang tidak seberapa ini ke dalam lemari. Dan setelah itu, Rigel mengeluarkan beberapa barang yang sengaja Rigel beli di minimarket apartemen untuk kebutuhannya sehari-hari. Lagi-lagi perutnya meronta minta diisi karena Rigel hanya makan sedikit saat sarapan. Rigel memilih untuk langsung merebus mie instan dan menggoreng telor. Sungguh, miris. Semalam Rigel ada di restaurant mewah dengan hidangan seafood yang begitu mahal dan siapa sangka jika siang harinya Rigel sudah ada di apartemen sederhana dengan sepiring mie instan dan segelas air putih. Meski begitu Rigel tetap berusaha untuk menikmatinya.                                                                                           ^^^ Elnath berjalan keluar dari ruangannya diikuti oleh Jonathan. Seperti biasanya, sembari berjalan, Jonathan memberikan semuanya laporannya kepada Elnath. Dengan langkah yang cepat dan satu tangannya dimasukan ke dalam saku celana, Elnath terlihat begitu memposona meskipun pada saat yang bersamaan pikirannya terus bekerja mencerna setiap laporan yang diucapkan oleh Jonathan. “Saya sudah melaporkan semuanya, Tuan. Sebaiknya Tuan kembali saja ke ruangan dan tak perlu repot untuk mengunjungi bagian penerbitan.” Jonathan berusaha mecegah Elnath. “Kerja bagus, Jo. Tetapi aku tidak memintamu untuk mengatur kemana aku akan pergi.” Ucap Elnath tersenyum kepada beberapa pegawai yang ditemuinya. “Maaf, Tuan.” Jonathan menunduk. Sejak keberadaan Rigel sebagai manajer bagian penerbitan, Elnath memang menjadi lebih sering melakukan kunjungan ke bagian penerbitan. Apalagi sejak kemarin ketika Rigel tidak ada kabar, satu hari Elnath bisa berkunjung hingga lima kali untuk mengetahui secara langsung jika ada informasi terbaru terkait Rigel. Saat ini adalah kunjungan ke dua bagi Elntah ke bagian penerbitan setelah yang pertama dilakukan tadi pagi bahkan sebelum Elnath tiba di ruangannya. Ceklek Suara pintu terbuka, membuat semua pegawai bagian penerbitan berdiri dan memberikan hormat saat mengetahui kedatangan Elnath. Elnath hanya tersenyum dan kembali memerintahkan mereka untuk bekerja. Dan Elnath langsung menghampiri Yera yang masih berdiri di balik meja kerjanya. “Bagaimana?” Tanya Elnath tanpa basa-basi. “Mohon maaf, Tuan. Sampai saat ini, saya belum bisa menghubungi Manajer Rigel.” Elnath menghela napas berat mendengar kabar dari Yera. “Apa dia tidak memberi tahumu tentang pergantian jadwal pertemuan denganku?” Yera menggeleng. “Manajer Rigel hanya memintaku untuk membatalkan janji temu beliau kemarin dan hari ini tetapi untuk pergantian harinya belum bisa dipastikan.” “Apa kau merasa ada yang aneh dengannya beberapa hari terakhir?” Tanya Elnath memastikan. “Tidak ada Tuan, semuanya baik-baik saja. Bahkan sebelum manajer menghilang tanpa kabar, manajer Rigel tetap di kantor sampai pukul 11 malam.” “11 malam, katamu?!” Elnath terkejut. “Benar, Tuan. Bahkan manajer bekerja dua kali lipat dari kita semua untuk menyelamatkan bagaian penerbitan. Sebenarnya saya juga merasa khawatir dengan kondisi manajer saat ini. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?” Tanya Yera lebih kepada diri sendiri. “Baiklah, kalau begitu. Aku akan mencari tahu apa yang sedang terjadi dengan Manajer Rigel.” “Terima kasih, Tuan.” Saat Elnath hendak pergi dari bagian penerbitan, pintu kembali terbuka dan menampakkan sosok Rigel yang membuat semua orang terkejut. Setelah Rigel selesai membereskan apartemen dan makan siang, Rigel memutuskan untuk kembali ke kantor. Rigel mencari pakaian kantor terbaiknya untuk menutupi kekacauan yang telah terjadi pada Rigel. Kali ini, Rigel menggerai rambutnya, dan hanya mengkaitkan rambut sisi kanan dan kiri ke belekang dengan pengait rambut berwarna silver. Meskipun Rigel, sudah menyapu make-up di wajahnya dan menggunakan kacamata namun, siapapun yang melihat Rigel akan langsung mengetahui jika Rigel tidak dalam kondisi baik-baik saja. Raut wajahnya terlihat begitu pucat dan langkahnya terlihat gontai. “Astaga, manajer Rigel. Apa yang terjadi denganmu?!” Yera histeris dan langsung menghampiri Rigel. Rigel tersenyum dan membungkukan badan kepada bawahannya karena merasa bersalah telah menghilang hampir dua hari tanpa kabar. “Aku baik-baik saja, Yera. Maaf telah merepotkanmu.” Ucap Rigel dibuat sekuat mungkin. Menyadari keberadaan Elnath di ruangan penerbitan. Rigel langsung menundukan kepala dan meminta maaf atas penundaan pertemuan yang Rigel lakukan sepihak. Meskipun mereka tahu jika Rigel ada dalam masalah. Namun, Rigel cukup berhasil menutupinya dan berusaha untuk terlihat baik-baik saja dengan selalu menampilakan senyuman. Rasa khawatir yang sejak kemarin begitu mengganggu Elnath seketika hilang begitu melihat Rigel sudah ada di hadapannya. Elnath yakin, orang seperti Rigel tidak akan menghilang tanpa alasan yang jelas. Meski tidak tahu apa yang sebenarnya telah menimpa Rigel namun, Elnath dapat merasakan kesakitan yang Rigel rasakan. Elnath langsung menggenggam tangan Rigel dan membalikan telapak tangan Rigel yang sedang memegang ponsel. Firasat Elnath benar ketika melihat layar ponsel Rigel yang retak berantakan. Semua itu, membuat Elnath semakin yakin jika Rigel memang sedang ada dalam masalah dan tidak kabur tanpa alasan. Rigel langsung menarik tangannya dari genggaman Elnath. “Apa yang anda lakukan, Tuan?!” Menyadari reaksi Rigel yang tidak senang dengan tindakannya, Elnath langsung meminta maaf dan berlalu meninggalkan bagian penerbitan diikuti oleh Jonathan. “Um, maaf. Saya tunggu manajer di ruangan saya, segera!” Rigel hanya menganggukan kepala dan langsung menyiapkan berkas yang seharusnya kemarin ia paparkan kepada Elnath. Rigel berjalan menyusuri lorong menuju ruangan Elnath dan mempersiapkan diri untuk menerima segala omelan Elnath karena kesalahan yang Rigel perbuat sendiri. Rigel sudah siap untuk dipermalukan oleh Elnath di depan direktur keuangan. Pertemuan kali ini memang tidak hanya dengan Elnath tetapi juga melibatkan direktur keuangan. Rigel hanya menatap tajam ke arah Jonathan yang sedang duduk di depan layar komputer. Tidak ada obrolan antara Rigel dan Jonathan. Tanpa menunggu izin dari Jonathan, Rigel langsung membuka pintu ruangan CEO dan Rigel sempat terkejut karena hanya menemukan Elnath disana. Rigel mengira, direktur keuangan sudah ada disana dan siap untuk melihat reputasi Rigel dihancurkan oleh Elnath. Dengan senyumnya yang terlihat begitu mendamaikan, Elnath mempersilakan Rigel untuk duduk. “Silakan duduk.” “Terimakasih.” Rigel masih tertunduk. “Manajer Rigel bagaimana keadaanmu sekarang?” Pertanyaan Elnath yang sama sekali tidak terdengar penuh penghakiman mengejutkan Rigel. Padahal Rigel sudah siap jika kalimat pertama yang akan Rigel dengan dari Elnath adalah sebuah penghakiman bahkan cacian dan makian. “Ya?” Rigel memastikan. “Bagaimana keadaamu, manajer Rigel?” Masih dengan senyum yang terlihat begitu menenangkan. Rigel tertawa kecil. “Sepertinya, tanpa harus menjawab anda sudah tahu bagaimana kondisi saya yang sebenarnya.” Elnath terlihat berpikir dan memainkan pena yang ada dalam gengamannya. “Benar, saya sudah tahu. Apalagi saat saya melihat retakan di layar ponsel manajer.” “Tetapi saya meminta maaf karena tidak bisa memberikanmu cuti. Meskipun posisimu adalah manajer tetapi statusmu tetap pegawai baru disini.” “Anda tidak perlu meminta maaf seperti ini, Tuan. Saya tidak ada niatan untuk cuti meskipun kondisi saya seperti ini. Saya cukup profesional untuk urusan pekerjaan.” “Baiklah, kalau begitu. Kita tunggu sebentar kedatangan direktur keuangan.” Setelah semua pihak datang, Rigel langsung mulai memaparkan rencana produksi untuk menyelamatkan bagian perusahan. Rigel juga memaparkan berapa dana yang dibutuhkan oleh bagian penerbitan. Elnath terlihat menyimak semua penjelasan Rigel, tidak seperti Mr. Niel. Seperti yang sudah diperkiran oleh Rigel, begitu dirinya selesai dengan pemaparan rencana produksi, dengan lantangnya Mr. Niel menolak semua permohonan dana yang Rigel ajukan. “Apa tidak ada rencana produksi yang lebih bagus dari ini, huh?!” Sarkas Mr. Niel kepada Rigel. “Tunggu sebentar Mister, saya suka dengan rencananya.” Tidak hanya Mr. Niel yang terkejut tetapi juga Rigel. Sudah menjadi kali kedua bagi Rigel mendapati Elnath ada dipihaknya. “Tuan CEO, selama ini kita selalu memberikan 3 miliar untuk masing-masing bagian produksi tetapi manajer baru ini meminta 5 milliar untuk sebuah rencana yang menurut saya sulit dilaksanakan.” “Selalu? Apa anda lupa jika selama ini bagian penerbitan selalu mendapatkan dana yang jauh lebih sedikit dari bagian lain. Anda pikir 1 miliar itu cukup untuk bagian penerbitan?! Dan menurut saya permintaan saya adalah permintaan yang wajar.” Rigel menyanggah tak terima. Sementara Elnath yang sejak tadi terlihat berpikir, akhirnya mengeluarkan suara. “Mr. Niel apa anda tidak bisa melihat celah keuntungan dari rencana produksi yang manajer Rigel tawarkan? Menurut saya, ini rencana yang bagus dan belum pernah kita lakukan sebelumnya, tidak ada salahnya kita mendukung.” “Tetapi Tuan CEO, anda juga harus memikirkan baik-baik. Dari besarnya dana untuk rencana produksi yang manajer baru ini minta, berapa keuntungan yang bisa dijanjikan. Sudah cukup untuk saya melihat bagian penerbitan begitu menyedihkan karena selalu dipimpin oleh orang-orang yang gila uang.” “Maaf, Mister Niel yang terhormat. Saya mohon anda untuk menjaga ucapan anda. Mungkin memang benar jika selama ini bagaian penerbitan dipimpin oleh orang-orang yang gila uang tetapi tidak dengan saya, apa anda paham?!” Ucapan Rigel terdengar begitu mengerikan. “Lalu untuk keuntungan seperti yang sudah saya jelaskan tadi, saya akan memasukan 10 miliar ke perusahan hanya dari bagian penerbitan. Artinya saya akan mengembalikan dua kali lipat dari modal yang saya minta hari ini.” “Ck, omong kosong!” BRAKKKKK “Mister Niel, sudah saya peringatkan anda untuk menjaga ucapanmu! Sekali lagi anda meremehkan saya apalagi bagaian penerbitan. Akan saya pastikan sendiri nasib anda diperusahan ini!” Elnath dan Mr. Niel begitu terkejut dengan tindakan Rigel. Tetapi di dalam hati, Elnath merasa bangga melihat Rigel mampu membela dirinya dan seluruh pegawai penerbitan dihadapan orang-orang sejenis Mr. Niel. Elnath merasa salut dengan sikap Rigel, jika bukan karena teman baik Edward Gaincarlo, sudah sejak lama Elnath ingin memecat Mr. Niel. “Bagaimana, Tuan CEO. Sepertinya kita tidak memungkinkan untuk memberikan dana sebesar itu.” Seolah tidak mendengar ucapan Rigel, Mr. Niel tetap berusaha memengaruhi Elnath. “Kemungkinan akan selalu ada Mr. Niel. Saya akan pertimbangkan baik-baik semua ini dan apapun keputusan saya nanti tidak akan ada yang bisa mengganggu gugat, mengerti!” “Baik, Tuan CEO.” Jawab Mr. Niel sedangkan Rigel hanya tersenyum sinis menatap Mr. Niel. “Kalau begitu, sampai disini rapat hari ini. Terima kasih Manajer Rigel dan Direktur Niel.” “Sama-sama, Tuan Elnath. Saya akan tunggu kabar bahagia dari anda.” Rigel bangkit dan berlalu dari ruangan Elnath sembari memberikan tatapan meremahkan kepada rirektur keuangan yang sudah berumur itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN