Elnath sudah bersiap menuju kantor manakala Antares baru saja terbangun dan hendak menuruni anak tangga untuk mencari segelas air mineral. Matanya masih setengah terbuka jalannya pun gontai tidak tentu arah. Jika saja Antares tidak memegang pegangan tangga pastinya Antares sudah terjatuh sejak tadi.
“Hoaaammm.” Antares menguap lebar.
“Jangan tidur sambil berjalan kau bisa terguling ke bawah sana.” Elnath berjalan menuruni anak tangga mendahului Antares.
Samar-samar Antares dibuat terheran oleh Elnath yang sudah rapi di pagi buta seperti ini. “Hei, kau mau kemana sepagi ini dengan pakaian begitu rapi?”
“Pagi? Ini sudah siang.” Elnath menghentikan langkahnya menatap Antares.
“Jam berapa sekarang?”
“Setengah tujuh.”
“Apa katamu?!” Ucapan Elnath sontak membuat Antares terkejut dan membuka matanya lebar.
“Kau bilang setengah tujuh ini siang, apa kau gila? Wah, setengah tujuh saja sudah kau bilang siang apa kabar aku yang sering bangun jam 12.00 siang?” Tanya Anatares keheranan.
Elnath hanya tersenyum menanggapi keheranan Antares dengan kebiasaannya. “Sudahlah, aku harus segera ke kantor. Akan aku usahankan hari ini pulang cepat agar bisa makan malam bersama.”
Elnath lantas langsung bergegas pergi meninggalkan Antares.
“El, kau belum sarapan. Makanlah dulu akan aku buatkan sereal.” Teriak Antares saat menyadari jika Elnath belum sarapan.
“Kau makan sendiri saja, aku tidak biasa sarapan.” Jawab Elnath seraya berlalu.
“Dih, apa enaknya hidup jadi CEO meski uang banyak tapi harus berangkat pagi dan pulang larut, sungguh menyedihkan.” Antares mencibir dan mensyukuri nasibnya yang tidak harus bekerja di perusahaan Edward yang pada tidak lain merupakan milik Ayah Antares sendiri.
Begitu tiba di ruangannya, Elnath langsung mencari berkas lamaran milik perempuan yang seharusnya diwawancarainya kemarin pagi. Berkali-kali Elnath mencari dari satu nakas ke nakas yang lain tetapi hasilnya nihil. Elnath juga sudah meminta Jonathan untuk turut serta mencari dokumen itu.
Pintu ruangan Elnath terbuka dan menampilkan Jonathan yang datang dengan tangan kosong. “Bagaimana Jo?”
“Tidak ada, Tuan.”
“Di ruangan HRD?” Tanya Elnath masih berharap.
Jonathan menggelengkan kepala. “Tidak ada, saya sudah mencari dokumen itu ke semua ruangan HRD di kantor ini.”
Jawaban Jonathan membuat Elnath terlihat kalut. “Sial, bagaimana bisa aku mewawancarinya tanpa tahu sedikit riwayat hidupnya.”
Elnath terlihat sedang berpikir keras, mengingat keras dimana dokumen itu ia letakkan dan akhirnya Elnath menyerah dan akan mewawancari calon manajer itu tanpa melihat riwayat hidup dari yang bersangkutan.
“Saya sudah mengecek dokumen di e-mail perusahaan dan disana masih tersisa dokumen data diri dan riwayat pekerjannya.” Ucapan Jonathan membawa angin segar bagi pikiran Elnath.
“Benarkah? Tidak apa. Aku bisa bertanya langsung nanti tentang riwayat pendidikannya dan yang lainnya.” Ekspresi Elnath terlihat berbinar-binar.
“Cepat kau forward dokumen yang ada ke e-mail pribadiku.” Perintah Elnath.
“Baik, Tuan.”
“Dan segera kau siapkan ruangan untuk wawancara.”
“Tapi sepertinya wawancara hari ini dengan calon manajer yang terakhir harus kembali ditunda, Tuan.” Tiba-Tiba Jonathan memberi kabar yang tidak ingin Elnath dengar.
Dengan raut wajah yang penuh dengan tanya, Elnath segera menanyakan maksud ucapan Jonathan dengan dingin dan tatapannya berubah menjadi sangat serius. “Apa maksudmu.”
Jonathan menundukkan kepala memohon maaf kepada Elnath dan menjelaskan alasannya mengatakan jika wawancara hari ini harus kembali diundur. Tidak ingin kehilangan kesempatan, Jonathan juga menceritakan semua yang terjadi kemarin tentang sikap buruk dari kandidat menajer yang terakhir ini. Elnath terdiam cukup lama, setelah mendengar penjelasan dari Jonathan. Dan entah musabab apa, Elnath sama sekali tidak merasa kesal terhadap u*****n dan ucapan perempuan itu. Elnath melihat ada sesuatu yang menarik dirinya untuk mengenal lebih jauh tentang perempuan itu dan dengan yakin Elnath membuat keputusan yang sama sekali tidak disangka oleh Jonathan.
“Baiklah Jo, kalau begitu hubungi dia lagi dan biarkan dia menentukan kapan dan dimana wawancara akan dilaksanakan. Jangan lupa katakan padanya, kita akan datang sesuai ketentuannya.”
“Apa?!” Jonathan terkejut.
Elnatah menatap Jonathan bingung.
“Maaf, Tuan. Maksud saya apa Tuan serius akan mewawancarainya setelah apa yang dia ucapakan terhadap Tuan.”
“Ya, tentu saja.”
Jonathan dibuat lebih bingung dengan sikap Elnath. Jonathan masih terdiam seolah meminta penjelasan lebih atas alasan Elnath tetap menginginkan untuk mewawancarai perempuan itu.
“Jo, aku sangat mengerti kekesalannya. Dia sudah menunggu lama dan tiba-tiba harus dibatalkan sepihak. Dan sungguh tidak adil jika kita harus menolaknya sebelum mengikuti wawancara denganku. Lagian dia tidak akan mengeluarkan u*****n dan ucapan seperti itu jika aku tidak bersikap seperti kemarin, mengerti?”
Jonathan mengangguk dan tersenyum. Untuk kesekian kalinya Jonathan dibuat kagum oleh sikap Elnath. Meski usia Elnath lebih muda dari Jonathan tetapi terkadang Jonathan merasa Elnath jauh lebih dewasa dalam menyelsaikan permasalahan. Apalagi ketenangan Elnath jika dalam situasi yang terdesak sering kali membuat Jonathan merasa iri.
“Cepat siapkan mobil aku akan turun sebentar lagi.”
“Baik, Tuan.”
^^^
FLASHBACK ON
Ring.......Ring............Ring..........
Ponsel Rigel yang terletak di atas meja tidak jauh dari tempat tidurnya berbunyi dengan nyaring meskipun suara itu belum mampu membuat Rigel terbangun. Tidak menyerah begitu saja, setelah panggilan pertama usai, panggilan kedua masuk dan dari panggilan kedua ini berhasil membuat Rigel menggeliat dan menutup telinganya dengan bantal. Dan panggilan kedua juga belum mampu untuk membuat Rigel bergerak mengangkat telfon.
Puncaknya adalah pada panggilan ketiga, Rigel benarbenar dibuat begitu jengah dengan panggilan itu sehingga mau tidak mau Rigel harus mengangkat telepon sialan itu. Rigel tidak bangkit dari ranjangnya, Rigel hanya menggerakkan tangannya untuk meraba keberadaan ponselnya dan menekan tombol hijau dengan mata yang terpejam.
“Hallo.” Ucap seseorang dari balik telfon.
“Ya.” Jawab Rigel asal.
“Selamat pagi Nona Rigel. Perkenalkan saya Jonathan Miller, sekretaris Tuan Elnath Gaincarlo.”
“Ya, ada apa kau menelponku sepagi ini, huh? Mengganggu saja.” Rigel merancu.
“Maaf sebelumnya Nona. Saya hanya ingin menyampaikan pesan jika Tuan Elnath ingin mewawancarai Nona hari ini pukul 07.00 pagi dan Tuan Elnath juga akan menyampaikan permintamaafannya langsung hari ini kepada Nona. Jadi, saya mohon untuk datang kembali ke kantor kami hari ini pukul.07.00 pagi.”
Meski kantuknya belum sirna, mata Rigel terbuka lebar tatkala mendengar seseorang dari sebrang telepon memintanya untuk pergi pukul 07.00 pagi.
“Hei! Katakan pada CEOmu itu kalau aku tidak akan datang hari ini di jam sepagi buta itu. Dan katakan pada bossmu itu jika aku tak memerlukan maaf darinya, bilang padanya untuk tidak senaknya sendiri!!” Rigel mengungkapkan rasa kesalnya kepada CEO King Carlo Company tanpa menyaring terlebih dahulu kata-kata yang terucap.
“Tapi Nona, ini kesempatan terakhir yang jarang sekali diberikan oleh Tuan Elnath. Jadi saya mohon datanglah.”
“Tidak.” Jawab Rigel tegas.
“Boleh saya tahu alasannya?”
“Aku mengantuk, aku baru tidur satu jam yang lalu dan kau sudah mengganggu tidurku. Dasar menyebalkan. Bilang pada CEOmu itu, aku tidak lagi membutuhkan pekerjaan ini jadi, berikan saja pada yang lain. Aku mau tidur.” Rigel menutup telfon, melempar ponselnya asal dan kembali melanjutkan tidur.
FLASHBACK OFF
Sinar matahari siang masuk menyusup melalui setiap celah lubang ventilasi kamar Rigel. Tidurnya sudah mulai terganggu dengan pancaran sinar matahari, beberapa kali suara ketukan dari pintu kamarnya juga memberi andil terganggunya tidur Rigel. Tangannya meraba-raba setiap sisi tempat tidurnya untuk mencari ponsel yang tadi dilemparnya asal. Rigel segera bangkit, meski belum sadar sepenuhnya. Rigel memilih untuk bergegas ke kamar mandi dan mengguyur diri dengan air segar.
Rigel keluar dari persembunyiannya, mengamati kondisi rumah yang terlihat sepi. Sepertinya orang tuanya sedang berada di luar. Rigel bernapas lega. Segera Rigel menuju ke ruang makan untuk mengisi perut.
“Sudah bangun?” Tanya seseorang membuat Rigel terkejut.
Rigel menatap sumber suara dan bernapas lega saat mengetahui siapa pemilik suara itu. “Ah, Mbak Mar, hampir saja bikin kaget.”
Mbak Mar hanya tersenyum melihat Rigel.
“Mama Papa pergi?”
“Iya, Non.”
“Apa ada pesan untukku?”
“Tidak.”
Selanjutnya, Rigel hanya menyantap makanan di depannya sedangkan Mbak Mar kembali berlalu sibuk dengan pekerjaannya. Dalam pikirannya, Rigel sedang mempertanyakan tentang kejadian tadi pagi ketika Rigel memarahi seseorang dari balik telepon. Semua terasa seperti mimpi namun, disaat yang bersamaan semua juga terasa begitu nyata. Dengan sedikit rasa takut menghadapi kenyataan jika semua itu nyata, Rigel mencoba untuk mengecek riwayat panggilan di ponselnya.
Dan tamatlah Rigel.
Chelsea dan Ryu hanya saling pandang tak percaya mendengarkan rekaman telepon Rigel dengan Jonathan. Ya, setelah Rigel menyadari jika semuanya itu nyata Rigel langsung bergegas menghubungi kedua temannya, Chelsea dan Ryu untuk segera bertemu.
Rigel tertunduk lemas, meletakkan kepalanya diatas meja caffe dan menutup rapat telinga dengan kedua tangannya karena tidak ingin mendengar rekaman percakapan telepon anatara dirinya dan Jonathan. Baru kali ini Rigel merasa begitu malu.
“Wow, aku tak menyangka kau bisa seperti ini, Gel.” Ucap Ryu tak habis pikir.
“Rasanya aku sudah mulai gila.” Rigel mulai frustasi.
“Hei, apa yang harus aku lakukan untuk menghilangkan rasa maluku?”
“Minta maaflah.” Saran Chelsea santai.
“Kau gila!”
“Kau yang lebih gila, Gel! Bisa-bisa kau berbicara seperti itu dengan seorang sekretaris CEO.”
“Telepon dan minta maaflah dengan benar.” Tegas Chelsea.
Rigel menggelang lemah. “Aku tidak sanggup!”
“Semua gara-gara kemarin, aku jadi tidur di pagi hari. Arghhh...kalau dipikir-pikir semua ini berawal dari kesalahan mereka dasar sialan!”
“Berhenti mengumpat, jangan menyalahkan orang lain. Disini jelas kau yang salah karena kurang ajar sama calon atasamu. Itu pun kalau nantinya kau di terima bekerja di sana. Kau sendiri kan yang sudah tidak lagi membutuhkan kerjaan itu.” Ucap Chelsea jujur apa adanya.
Ryu hanya mampu terdiam tidak ingin membuat suasana menjadi lebih rumit lagi. Sejak pertama kali mereka bertemu di SMA, Ryu memang selalu jadi korban apabila kedua teman perempuannya ini sedang bermasalah. Sebagai laki-laki satu-satunya dalam genk pertemanan ini, Ryu hanya bisa menerima setiap omelan Chelsea ataupun Rigel ketika keduanya sedang marah meskipun bukan karena kesalahan Ryu.
Semua terdiam, terlarut dalam pikirannya masing-masing dan tiba-tiba Chelsea menggebrak meja membuat Rigel dan Ryu terkejut. “Sebenarnya ada apa denganmu, Gel?! Aku sama sekali tidak habis pikir dengan kelakuannmu akhir-akhir ini. Apalagi kemarin.”
FLASCHBACK ON
Setelah menunggu sekian lama dan mendapatkan kabar jika wawancara hari ini harus ditunda dengan tiba-tiba. Rigel langsung meninggalkan kantor King Carlo Company dengan rasa kesal dan marah.
Rigel bergegas mencari taksi untuk bisa segera tiba di rumah. Tiak ada hal lain yang ingin Rigel lakukan ketika sampai di rumah selain segera bertemu dengan kasur kesayangannya dan melanjutkan tidur dengan tenang.
Dengan langkah gontai Rigel perlahan menaiki anak tangga dengan sepatu heels yang belum dilepas. Hanya karena kurang tidur, Rigel merasa seperti orang mabuk berat yang sedikit lagi akan segera kehilangan kesadaran. Sebelum sampai di kamarnya, telingan Rigel tiba-tiba dipenuhi oleh banyak suara yang membuat dadanya terasa sesak tiba-tiba.
“Apa salahnya kau bertanya lagi untuk memastikan apa jumlah uang yang dibayar olehnya sudah sesuai kesepakatan!”
“Sudahlah, aku percaya padanya.”
“Bagaimana bisa kau percaya padanya, sudah jelas-jelas aku hitung uangnya masih kurang!”
“Kau ini kenapa sih? Berhentilah membicarakan hal yang tidak perlu!”
“Apa katamu tidak perlu?! Hei kau kira uang 10 juta itu sedikit, huh?!”
“Aku tidak bilang begitu, aku hanya bilang berhenti membicarakan hal yang tidak perlu. Dia adikku dan aku percaya padanya.
“Oh, sungguh?!”
“Dasar kakak yang bodoh dan adik yang kurang ajar.”
“Apa katamu?! Kau menghina aku dan adikku.”
Rigel berusaha tak mengacuhkan semua suara yang terdengar dari salah satu ruangan. Rigel memilih untuk langsung menuju kamarnya dan menjatuhkan dirinya ke atas kasur. Meski suara pertengkaran itu masih terdengar namun, Rigel tetap mencoba untuk tertidur. Dan sayangnya meski Rigel sudah menutup telinganya dengan bantal dan ditutup lagi oleh selimut tebal, suara itu tetap terdengar dan membuat kepala Rigel serasa ingin pecah.
“Arghhhhhhh, sial! Semuanya menyebalkan!!!”
Tanpa menggunakan alas kaki, Rigel beranjak dari tempat tidurnya dan pergi menuruni anak tangga menuju lemari kunci. Rigel mengambil kunci mobil dengan asal dan pergi dengan wajah yang begitu lesu dan mata yang merah berair. Meskipun satpam rumah sudah memperingatkan Rigel untuk tetap tinggal namun, Rigel tetap pada pilihannya pergi meninggalkan rumah dengan kondisinya yang sangat tidak baik.
Rigel akhirnya memilih melajukan mobilnya ke arah apartemen milik Chelsea. Sembari menunggu sang tuan rumah selesai bekerja, Rigel tidak ingin melepaskan kesempatan baiknya untuk tidur dengan tenang. Saat matahari mulai terbenang Chelsea dan Ryu segera tiba dan betapa terkejutnya mereka, melihat kondisi Rigel yang tidak karuan.
Penjelasan Rigel tentang apa yang dialaminya hari ini membuat Chelsea dan Ryu merasa iba. Sekedar untuk membuat suasana hati Rigel menjadi lebih baik, Chelsea dan Ryu mengajak Rigel untuk menghabiskan malam dengan bersenang-senang. Ketiganya pergi untuk berkaraoke bersama dan diteruskan dengan menikmati acara live music di sebuah caffe. Di luar dugaan, ketika Chelsea dan Ryu mengajak Rigel untuk pulang, Rigel langsung menolaknya dan memilih untuk tetap berada di caffe ditemani dengan beberapa minuman beralkohol.
Chelsea dan Ryu sudah berulang kali mencegah Rigel untuk tidak meneruskan minumnya. Meskipun berhasil namun Rigel masih tetap tidak ingin pulang dan terus merancu tidak jelas. Chelsea dan Ryu hanya bisa terdiam, melihat tingkah sahabatnya yang begitu menyedihkan. Melihat waktu yang terus berjalan, akhirnya Chelsea meminta Ryu untuk memapah Rigel dengan paksa menuju parkiran mobil dan bergegas mengantar Rigel pulang ke rumahnya.
FLASHBACK OFF
Ponsel Rigel yang saat ini menjadi terlihat seperti benda yang begitu mengerikan, tiba-tiba bergetar. Nomor tanpa nama tertera jelas dalam ponsel Rigel.
“Siapa?” Tanya Ryu.
Rigel hanya mengendihkan bahu, Rigel melihat dengan malas nomor di layar ponselnya. Rigel mengamati dan menutup mulut dengan kedua tangannya saat tahu siapa yang meleponnya.
“Jonathan. Bagaimana ini? Aku tidak ingin mengangkatnya.” Ucap Rigel panik.
“Kau gila! Angkat cepat dan ucapakan maafmu.” Perintah Chelsea tegas.
Dengan ragu-ragu, Rigel mengangkat telepon dari Jonathan. Sebuah kabar yang mengejutkan kembali disampaikan oleh Jonathan. Rigel tetap diberi kesempatan untuk bisa mengikuti tes wawancara dengan waktu dan tempat yang Rigel tentukan sendiri. Entahlah saat ini Rigel merasa keputusannya untuk melamar di King Carlo Company adalah keputusan yang salah. Tetapi bagaimanapun juga Rigel sudah terlanjur memulai semua ini dan tidak ada cara lain lagi selain mengikuti permainan CEO sialan itu.
^^^
Rigel menuju restoran XX. Sengaja Rigel memilih restauran mahal itu untu sedikit mengobati rasa kecewanya atas perlakuan semena-mena CEO King Carlo Company. Toh, dengan sekali makan di restauran XX tidak lantas membuat kekayaan CEO itu berkurang. Dengan langkah pasti Rigel menuju salah satu meja yang sudah direservasi. Rigel sungguh tidak sabar ingin melihat bagaimana rupa dari CEO menyebalkan itu.
Rigel sempat dibuat heran karena Rigel tidak melihat adanya pengaman khusus dan orang-orang yang mengawal CEO di restaurant ini. Dan Rigel juga merasa aneh karena tidak menemukan Jonathan padahal Rigel ingin meminta maaf secara langsung kepada Jonathan atas ketidaksopanannya. Rigel hanya melihat, seorang laki-laki yang duduk membelakanginya di nomor meja yang telah direservasi sebelumnya.
“Permisi, apa anda adalah Tuan Elnath Gaincarlo? CEO dari King Carlo Company.” Rigel sempat terpaku saat melihat sosok laki-laki di hadapannya. Tatapannya begitu tajam, hidungnya terlihat begitu sempurna dan bibirnya yang berwarna merah membuatnya terlihat begitu tampan.
Lamunan Rigel terbuyarkan saat laki-laki itu berdiri dan mengulurkan tangan ingin berjabat tangan dengan Rigel seraya menyapa Rigel.
“Oh, apa Nona adalah Rigel Daffina Hillary?”
“Ya.”
“Kalau begitu silakan duduk.” Ucap laki-laki itu sopan.
“Terima kasih.”
Keduanya saling pandang satu sama lain. Cukup lama mereka terdiam hingga ucapan dari laki-laki itu kembali membuat Rigel kesal karena merasa terus dibohongi dan dipermainkan.
“Perkenalkan saya Antares. Saya diutus langsung oleh Elnath untuk menemui dan mewawancarai anda secara langsung disini.” Ucap Elnath berbohong.
Mata Rigel membulat, raut terkejut tidak bisa lagi dihindarkan. “Jadi, kau bukan CEO King Carlo?!”
“Bukan, Nona.”
“Sial, lagi-lagi aku ditipu dan dipermainkan oleh CEO sialanmu itu.”
Elnath tersenyum melihat Rigel yang sudah mulai mengumpat. “Maafkan CEO kami, Nona.”
Rigel membuang napas sebal. “Cepat lakukan tugasmu untu mewawancaraiku. Aku sudah muak dengan perlakuan buruk CEOmu kepada calon pegawainya. Sungguh orang yang tidak punya tata krama!”
“Meski dia CEO tetapi dia juga tidak bisa semena-mena seperti ini. Menyebalkan!” Rigel terus melanjutkan sumpah serapahnya.
Acara wawancara tidak berlangsung begitu lama karena Rigel telah mengultimatum jika dirinya sibuk. Memang hanya CEO saja yang sibuk, begitu kira-kira yang ada di dalam pikiran Rigel. Rigel menjawab semua pertanyaan Elnath dengan nada malas dan seenaknya, sama sekali tidak menunjukkan sikap seseorang yang memohon untuk diberi pekerjaan. Rigel lebih terlihat seperti sedang mengibarkan bendera perang dengan seorang CEO dari King Carlo Company.
Wawancara ini sebatas pada pengalaman kerja Rigel selama di Singapura. Elnath tidak bisa mengulik lebih dalam lagi tentang Rigel karena tatapan mematikan Rigel yang selalu ditunjukkan sejak Rigel mengathui jika yang bertemu dengannya malam ini bukanlah CEO King Carlo seperti yang sudah dijanjikan.
Meski begitu, sikap Rigel yang terlalu jujur tidak membuat Elnath marah dan justru merasa semakin tertarik pada Rigel dan akhirnya dengan berbagai permainan kata-kata dan alasan yang dibuat-buat oleh Elnath, Elnath langsung menerima Rigel pada saat itu juga sebagai salah satu manajer di King Carlo Company. Meski Rigel tidak percaya namun, dengan menunjukkan surat kontrak yang telah Elnath persiapkan sebelumnnya membuat Rigel terdiam. Dan sebuah desiran aneh tiba-tiba muncul dalam benak Rigel ketika Rigel sama sekali tidak merasa senang telah mendapatkan pekerjaan ini.