Jam sudah menunjukkan pukul 06.300. Matahari malu-malu mulai menampakkan sinarnya, memberi kehangatan pada bumi yang tersiram hujan deras semalam. Nuri masih betah duduk di teras. Matanya dengan awas memperhatikan sang ayah yang sedang menjemur gabah-gabahnya. Alfarizy pun masih betah duduk di hadapan Nuri. Sesekali matanya memperhatikan Nuri—mengagumi kecantikan wajahnya yang tampil tanpa make up. “Mbak, aku sekolah dulu, yo!” Tiba-tiba Agil yang sudah rapih dengan baju seragam merah putihnya menghampiri kakaknya. Ia pun mengulurkan tangan untuk bergantian menyalami Nuri dan Alfarizy. “Duuuh, adik Mbak wis gede, wis bisa ngurus diri sendiri. Mbak’e bangga sama kamu, Gil!” kata Nuri, menatap adiknya dengan mata berkaca-kaca. “Iyo dong, Mbak! Agil ndak boleh nyusahin ayah ibu terus, to

