Bicara tentang Gabriela.
Aku jadi teringat saat wanita tomboy itu- selalu terlihat malu- malu di hadapan kakak tertuaku.
Dan menurutku; itu lucu.
Kami memang berteman sejak kecil- karena; Gabriela dan Christ yang memang di jodohkan sejak kecil pula.
Tak heran, keluarga kami memang telah lama saling mengenal.
Dan sejak kedua orang tua Gabriela; tiada- wanita itu beserta para saudara laki- lakinya di rawat oleh Grandpa.
Meski begitu; mereka memilih untuk tidak tinggal di rumah utama Grandpa- hanya sesekali saja; Gabriela datang berkunjung ke rumah utama Grandpa.
Yang aku tahu; kedua orang tua Gabriela tiada- karena; rela mengorbankan nyawa untuk melindungi grandpa. Itulah alasan mengapa; Grandpa akhirnya menjodohkan Gabriela dengan Christ- sebagai balas budi untuk kedua orang tua Gabriela.
Entah karena persoalan apa- yang membuat kedua orang tua Gabriela; tiada.
Mengingat kekayaan Grandpa yang tidak pernah habis dan ia yang selalu tahu gerak gerik kami anak dan para cucunya- tidak menutup kemungkinan- jika Grandpa memiliki dunia bawah- yang tidak ingin diketahui anak anak dan para cucunya.
Ada kemungkinan jika kedua orang tua Gabriela adalah rekan kerja grandpa- atau bawahan Grandpa di dunia bawah, mungkin?
Itulah alasan mengapa; Gabriela sejak kecil selalu bersama dengan kami.
Mungkin; karena ia hanya tinggal dengan para saudara laki- lakinya- juga kami- yang membuat wanita itu tidak tahu bagaimana bisa bersikap menjadi wanita pada umumnya.
Dan entah bagaimana; setahun sebelum Gabriela dan Christ menikah- Gabriela mulai merubah dirinya yang tomboy.
Satu hal yang tidak kusangka adalah; tak butuh waktu lama bagi Gabriela merubah dirinya yang tomboy- menjadi anggun.
Tak heran jika; Ale tak percaya jika wanita yang menjadi istri kakakku itu pernah menjadi wanita tomboy- yang bahkan; bisa dengan mudahnya memanjat pohon- pohon tinggi- dulu dan aku yakin; sekarangpun, jika diminta menunjukkan- wanita yang menjadi kakak iparku pun- pasti tidak akan lupa kehaliannya dulu.
Sekarang; aku tahu- alasan; mengapa, ia mengambil kelas model- meski ingin menjadi fashion designer. Tentu karena; ia ingin belajar- bagaimana; caranya menjadi anggun.
Bukankah para model di latih untuk berlenggok- lenggok dengan anggun di atas panggung- sambil mempergakan fashion yang sudah di design.
Dan, hal yang sampai sekarang- aku tidak tahu- yaitu; alasan mengapa Gabriela bisa menyukai kakak kaku kami yang seperti Canebo kering itu.
Canebo kering?
Karena, ia tidak pandai mengekpresikan dirinya- wajahnya selalu sama seolah kaku. Meski Brian juga kaku- namun, adikku terkadang bisa bersikap konyol.
Baru belakangan ini saja- Christ mulai pandai mengespresikan perasaannya- itupun hanya kepada istrinya yang telah melahirkan ketiga keponakan kembarku.
Mengingat wajah bahagia Arnold- ketika saudara jauhku itu; sah- menjadi suami dari wanita yang dapat mengembalikan semangatnya kembali...; aku jadi ingat; saat- saat Gabriela dan Christ; sah menjadi suami dan istri.
Wajah Arnold dan Ale jelas terlihat bahagia- tentu; karena, mereka saling mencintai.
Namun; Christ dan Gabriela- yang menikah karena di jodohkan?
Wajah bahagia jelas terpancar di wajah cantik Gabriela- yang telah teroles make up- namun, Christ?
Entah bahagia atau tidak- yang pasti adalah; raut wajahnya jelas tidak menunjukkan perubahan.
Bahagia tidak- kesal; karena, di paksa menikah; pun tidak.
Tak heran bukan; jika kami memanggilnya; Canebo kering?
Karena; dulu, ia memang tidak pandai mengekspresikan perasaannya.
Namun, semenjak; Gabriela Coma karena melahirkan ketiga anak kembarnya- untuk kali pertama, aku melihat wajah khawatir kakak tertuaku itu.
Lalu?
Bagaimana kisah mereka- hingga, lahir 3 keponakanku itu?
Entahlah!
Setelah menikah- Gabriela dan Christ memang di beri rumah pengantin sendiri oleh Grandpa- sehingga, aku tidak terlalu tahu; bagaimana kisah percintaan mereka.
Aku hanya tahu; dari cerita kakak iparku itu saja.
Cuek!
Itulah kata pertama yang di berikan Gabriela untuk Christ- setelah mereka; resmi menjadi suami istri.
Wanita tomboy yang dulunya hanya bisa memanjat pohon- itu bahkan sampai rela belajar memasak- demi kakak kaku ku itu.
Apakah; kakakku memakan masakan istrinya?
Christ tetap memakan masakan Gabriela- namun, kakakku itu tetap cuek pada wanita yang telah resmi menjadi istrinya itu. Berkomentar tentang makanan yang di masak Gabriela- pun tidak. Hanya makan tanpa suara- sampai semua makanan itu berpindah ke perutnya.
Mereka memang tinggal dalam satu kamar di rumah pengantin- yang di berikan grandpa- namun, Christ jelas belum memberikan malam pertama pada Gabriela- saat pertama; mereka resmai menjadi suami istri. Bahkan, meski wanita itu berusaha merayu Christ dengan selembar benang rajut tipis- bernama; Lingerie.
Merasa putus asa- karena; Christ yang tetap cuek pada aksi istrinya itu- jelas Gabriel memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya kala itu. Ia memilih hanya menyembunyikan; tubuhnya yang terbalut lingerie di balik selimut.
Mungkin, ia terlanjur merasa malu- sehingga, memilih tidak berganti baju- atau mungkin; menunggu reaksi suaminya dulu dengan tetap memakai lingerie?
Entahlah!
Satu hal yang membuat Gabriela kesal adalah; selain memiliki sifat cuek dan pria yang telah menjadi suami nya itu- ternyata juga tidak peka akan kebiasaan Gabriela.
Tak heran; kakak iparku itu sama seperti Ale yang tidak akan bisa tidur- jika lampu kamar dalam keadan menyala.
Dan Christ malah melarang; Gabriela- mematikan lampu tidur di kamarnya- kala itu.
Kakakku itu hanya beralasan; jika ia masih bekerja. Gabriela sendiri- tidak bisa menuntut banyak- karena melihat; Christ yang memang sedang memangku laptopnya.
Herannya; rumah pengantin yang di berikan Grandpa itu; memiliki 2 kamar tidur tambahan- mengapa; Christ harus bekerja di dalam kamar?
Aku yakin; alasan, mengapa Christ sengaja membuat Gabriela tidak bisa tidur- jelas karena; gara- gara Gabriela- Christ juga tidak dapat tidur.
Bagaimanapun, Christ adalah pria normal yang dapat tergoda- melihat tubuh wanita. Christ hanya pandai memainkan wajahnya- agar tidak bereaksi pada godaan yang di berikan Gabriela.
Meski wajahnya tidak bereaksi- aku yakin; sebagai pria normal- jelas, milik kakakku itu beraksi pada rangsangan yang di berikan Gabriela. Terbukti dari; Christ yang menyentuh Gabriela- meski, pria itu harus membuat istrinya itu; tertidur terlebih dahulu.
Kenapa harus menunggu Gabriela tertidur dahulu?
Mungkin, Christ terlalu tinggi hati untuk mengakui; jika ia telah menjilat air liurnya sendiri.
Tak heran bukan?
Christ selalu menolak Gabriela- namun, malah tergoda- ketika; Gabriela memakai kain tipis- yang memperlihatkan kulit putih mulusnya.
Ya, jika Ale saja terpesona- tak mungkin; para pria tidak terpesona akan penampilan Gabriela.
Ia memang cantik- namun, karena, di sekitarnya hanya ada laki- laki, tak heran jika ia tidak tahu harus bersikap seperti perempuan pada umumnya.
Dan sekolah modeling jelas mengajarinya arti menjadi wanita sesungguhnya.
Sehari dua hari- Gabriela tidak putus semangat terus menggoda suaminya- namun, kecuekan Christ jelas mengikis kepercayaan diri Gabriela.
Wanita itu memang dekat denganku dan Arnold sedari dulu- itu sebabnya; wanita itu juga jelas menceritakan maslah rumah tangganya pada kami.
Kami memang belum pernah menikah sebelumnya- namun, alasan mengapa; wanita itu menceritakan masalahnya- jelas karena, ia butuh teman curhat- untuk meluahkan kekesalannya pada suaminya dulu.
Apa lagi; Christ lebih sering tinggal di Lab pribadinya.
Setelah bercerita pada kami- di rumah Grandpa; Gabriela memilih pulang kembali ke rumah pengantinnya.
Mungkin, ia kesepian- hingga, memilih tetap bermain ke rumah Grandpa- kebetulan, saat itu; Gabriela memang sedang cuty- karena, baru saja menikah.
Namun, satu hal yang terkira terjadi- ketika; Gabriela pulang dengan menyetir kendaraannya sendiri....