Disappointed?

1172 Kata
Setelah menceritakan tentang Gabriela- dari apa yang pernah di ceritakan wanita itu kepadaku dan Arnold- Catherine memutuskan membersihkan tubuhnya- baru; setelahnya akan beristirahat- menemani Putri kami yang telah terlelap dalam dunia mimpinya. Akupun begitu. Setelah; Catherine selesai membersihkan tubuhnya; aku memilih juga membersihkan tubuhku. Aku memang suka minum alcohol- namun, aku tidak ingin minum di hadapan Catherine dan putriku- mengingat jika; aku pernah membuat Catherine trauma kepadaku. Itu juga yang menjadi alasan; aku memilih membawa kekasih hatiku itu dan putri kami yang mulai mengantuk; kembali ke kamar kami. - Setelah; selesai dari kamar mandi, aku melihat Catherine yang sudah tertidur- sambil memeluk putri kami yang akan berumur 3 tahun; tahun ini. Aku hanya tersenyum- sambil mengecup pelipis mereka satu persatu; aku memilih membenarkan selimut mereka dan aku memutuskan untuk keluar kamar. Di sana, kebetulan; aku bertemu dengan Christ yang juga barus keluar dari kamarnya. “ yo! Christ!” sapaku- sambil merangkul bahu kakak tertuaku itu. “ kau mau kemana?” tanyaku. “ mengambil makanan! Aku lapar.” ucap Christ tanpa basa- basi. “ kenapa tidak bersama; istri dan anak- anakmu?” tanyaku. “ kau pikir- aku akan membiarkan; anak- anakku melihat hal- hal dewasa- sebelum waktunya?” ucap Christ to the point. Saat ini; kami memilih ke arah ruang makan di dalam badan kapal- untuk memesan coffee. “ apa boleh buat; Ale merancang pesta ini- karena; tidak mengira, jika dirinya lah yang di lamar saudara jauh kita.” kekeh ku- sambil duduk di kursi yang di sediakan. “ kau juga! Kenapa; tidak berada di pesta? Bukankah; kau pecinta Alcohol- terutama Wine- sama seperti daddy?” tanya Christ. “ sama seperti mu; aku tidak akan membiarkan Ana- melihat; hal- hal dewasa- sebelum waktunya.” kekehku. “ putrimu; bernama Ana?” tanya Christ mengangkat sebelah alisnya- dan tepat pada saat itu; Coffee dan makanan pesanan kami pun tiba. “ ya, Anastasia- putriku bersama Catherine.” jelas ku. “ aku masih tidak menyangka; orang kekanak- kanakan seperti mu; bisa memiliki anak.” ucap Christ menyesap coffee hitam yang masih mengepulkan uap panasnya itu. “ aku lebih tidak percaya jika; orang cuek sepertimu- memiliki anak- langsung tiga lagi.” kekeh ku- sambil memainkan cangkir coffee ku. Christ memilih terdiam- meski...; aku masih dapat mendengar; jika ia sempat mendengus kecil- mungkin; kesal akan ucapanku. “ Catherine saja; sampai iri- karena; melihat Gabriela yang langsung memiliki tiga anak.” kekehku- sekali lagi- membuat kakak tertua ku itu mendengus. “ apa yang membuat- kekasih hatimu itu; iri? Kau tahu- bagaimana; tersiksa nya aku- saat tahu; istriku Coma- karena, melahirkan ketiga anak kami?” keluh Christ. “ kau benar- benar sudah menjilat air liurmu sendiri, hem?” tanyaku- membuat Christ hanya terdiam. “ aku masih penasaran; bagaimana, kisahmu dengan Gabriela- apa yang terjadi; setelah istrimu itu kecelakaan?” tanyaku; yang penasaran. “ setelah Gabriela kecelakaan?” tanya Christ- aku memilih hanya mengangguk. “ ia selalu cerita padamu?” tanya Christ lagi. “ ya, bahkan, sebelum kecelakaan itu- ia baru saja dari rumah Grandpa dan bercerita masalah rumah tangga kalian pada aku dan Arnold.” jelasku- membuat kakak tertuaku itu menghembuskan nafasnya dengan berat. “ itu adalah salah satu alasan; mengapa, aku tidak bisa bersikap cuek pada istriku itu.” ucap Christ menatap ke arah coffee hitam yang telah di sesapnya. “ kau ingat; saat setelah siuman dari kecelakaan itu; ia mengalami Amnesia?” tanya Christ. “ ya.” jawabku. “ menurutmu; apakah, ia bersandiwara?” tanya Christ. “ kau kan tahu; jika, aku baru belajar psychology- setelah uncle Lucas tiada. Saat itu; aku tidak tahu; apakah istrimu itu berbohong atau tidak.” jelasku. “ lalu? Bagaimana dengan sekarang?” tanya Christ lagi. “ kau lupa? Kau ini; selalu membatasi ruang gerak ku kepada istrimu- bagaimana aku bisa melihat mimik wajahnya kalau begitu.” keluhku- membuat Christ tertawa. “ cih! Aneh rasanya; wajah kaku mu tertawa seperti itu.” keluhku. “kau memang lebih dewasa dari pada aku- tak heran, jika mommy sampai memberikan tanggung jawab ke atas pundakmu- dari pada aku.” ucap Christ- kembali menyesap coffee nya yang mulai menghangat. Tadi mengatai; jika, aku kekanak- kanakan dan sekarang; mengatai aku lebih dewasa. Kakakku ini terkadang memang aneh. “ kita memang memiliki masalah yang hampir sama. Namun, berbeda denganmu- aku memilih menutupi perasaanku- karena; aku yang enggan mengakui kekalahanku- sementara; kau- memilih menutupi perasaanmu; karena, memikirkan keluarga kita. Tak heran jika; semua saudara kita lebih memilih mengandalkanmu dari pada aku- kakak tertua. Bahkan, adik bungsu kita; lebih akrab denganmu.” jelas Christ. “ kau benar! Brian!” ucapku yang baru teringat; adik bungsuku itu. “ kalian mencariku?” tanya Brian yang datang menghampiri meja kami. “ kau baru dari pesta?” tanyaku. “ tidak! Aku tidak tertarik pesta dewasa itu- itu sebabnya, aku lebih memilih ke restaurant yang ada di kapal ini- dan melihat kalian.” jelas Brian memilih duduk di sofa yang memang di sediakan. “ apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya adik bungsuku itu. “ kau tidak pesan makanan dulu?” tanyaku. “ okay.” ucap Brian- langsung memesan makanan. *** Setelah; pesanan makanan Brian datang- Christ mulai bercerita. “ setelah Gabriela mengalami kecelakaan yang menimpanya- butuh waktu lama baginya untuk sadar.” jelas Christ. “ meski; aku berusaha terlihat cuek dan tidak peduli- sejujurnya; aku adalah orang yang paling khawatir akan keadaannya.” jelas Christ menyesap coffee yang telah di pesannya lagi. Kakakku itu; memang terbiasa meminum minuman ber- cafeïne itu. Namun; ia tidak perlu khawatir akan masalah; penyakit diabetes- karena; itu hanya coffee hitam tanpa gula. Soal jantung? Ah! Meski; kakak ku ini pecinta kopi hitam- ia juga sangat suka berolah raga. Bahkan; tubuhnya masih sama seperti kami- para pria single. Ya..., meski aku telah memiliki putri- aku tidak benar- benar menjalani rumah tangga dan membagi tanggung jawab- kecuali menafkahi putri dan kekasih hatiku. “ lalu? Apa yang kau lakukan?” tanyaku. “ tidak ada! Kau tahukan? Aku ini bukan dokter!” jelas Christ. Ah..., ini kali pertama; ia berbicara panjang lebar- itupun; karena; membicarakan masalah istri dan anak terkasihnya. “ so?” Brian bertanya dengan penasaran. Dulu, pria itu tidak terlalu tertarik masalah kakak sulungnya itu- bukan tidak tertarik- lebih tepatnya; ia masih terlalu kecil untuk mengerti- dulu. Umurnya; masih 7 tahun saat itu. “ aku hanya bisa berdoa.” ucap Christ sambil menggemnggam tangannya sendiri. “ praying?” heranku dan adikku. “ ya. Berdoa. Aku hanya tidak pernah menunjukkan nya saja. Lagi pula; saat berdoa- ada baiknya, kita menutup ruangan- hanya agar; kita saja yang tahu; jika kita sedang berdoa.” jelas Christ. Pria yang aku kira; sama sepertiku- tidak pernah beribadah ini- ternyata; lebih mengerti dari pada aku. “ tidak usah terkejut!” ucap Christ kembali menunjukkan wajah dinginnya. “ meski begitu; aku pernah berada di posisimu.” jelas Christ lagi. Kali ini; pria itu mulai memakan makanan yang tadi ia pesan. “ what do you mean?” heranku. “ aku pernah ada di posisi dimana; aku memilih tidak berdoa- karena; kecewa.” ucap Christ membuatku terkejut. Benarkah? Pria yang selama ini; selalu menunjukkan wajah cuek dan dingin itu; pernah merasa kecewa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN