Aku tersenyum ketika melihat Gatta tersiksa. Bukan tersenyum bahagia, tapi tersenyum miris. Aku tidak percaya ia kembali seperti itu. Gatta sedang merintih kesakitan. Tentu saja aku tidak tega. Tetapi, tidak bisa mendekat karena di dalam kamar cowok itu ada ibunya. Aku hanya berdiri di ambang pintu. Mengawasinya dari jauh. "Mana obat gue? Mana!!! Sakit, anjing!" erangnya. Aku menoleh ke arah Septa. "Sejak kapan?" "Sejak lo ninggalin dia," Aku tersenyum. Gatta bodoh. Ia pernah menyuruhku berhenti mengkonsumsi obat terlarang, tapi Gatta juga yang melanggar aturan. Lihatlah hasil kebodohannya. Ia merasa kesakitan. "OBAT GUE MANA ANJING!" teriaknya lebih keras. "Dia tertekan setiap bertemu bokap. Terbebani oleh tuntutan nyokap. Dan ketidakhadiran lo pelengkapnya," ucap Septa bersua

