Aldric membuka pintu ketika ada suara ketukan yang sangat keras dan terburu-buru. Kepala Aldric rasanya mau pecah. Semalam ia banyak minum karena memikirkan perceraiannya dengan Sena. Plakk... Aldric terkejut. Pipinya perih. Aldric menatap orang yang menamparnya. Mamanya. “Kamu ya!! Apa yang kamu lakuin sampe bisa cerai dari Sena??” Bentak mamanya marah. Melihat tas kecil dan topi yang masih melekat di mamanya, pastinya mamanya terburu-buru pulang dan menemuinya setelah papanya menelfonnya memberitahunya tentang Sena. “Kamu itu ya, kamu beruntung dapat istri yabg baik dan nggak neko-neko kayak Sena!! Tapi kamu malah nggak tau diri kayak gini!! Otak kamu, kamu taruh dimana Al?? Kamu nggak mikir Elios sama Elias??” Teriak mama

