BAB 15

1576 Kata
“Parah bat sih Pak Alex. Bisa-bisanya gue punya pembimbing kek dia. Sumpah ... Sulit banget mau ketemu dia.” Keluh Lois. “Untunya gue dapet bu Selly. Udah cantik baik lagi.” Melvin kali ini yang menimpali. Yah ... Mereka semua sedang berkumpul di kantin setelah sekian lama. “Cafe buka jamber ntar?” Tanya Brahms. “Jam 3.” Jawab Melvin. Yah... Cafe mereka sekarang buka jam 3 sore-jam 12 malam. “Ntar lo sama Ryan kan Vin yang jaga?” Melvin menganguk. Sekarang dibuatkan jadwal bergilir. Hari sabtu dan Minggu karna Weekend Aldric, Gea, Melvin, Ryan, dan Reza, akan bekerja bersama. Hari Senin, Aldric, Reza, dan Gea. Selasa, jadwalnya Ryan, Melvin, dan Gea. Rabu, Aldric, Gea, dan Ryan. Kamis, Reza, Melvin, dan Gea. Jum'at adalah jadwal mereka berempat dan Gea libur. “Ntar sore Futsal apa Basket yuk.” Ajak Brahms. “Ayok.” Jawab Reza. “Jadwalkan aja.” Saut Lois. “Lo gimana Al?? Ikut yuk.” Ajak Brahms. “Ga janji deh ... Lo tau kan nyonya rumah gue kek mana.” Balas Aldric. “Mau gue pamitin?” Tawar Brahms. “Lo mau cari mati sama bini gue?” “Kenapa?? Emang gue kenapa?” Tanya Brahms bingung. “Astaga ... Lo nggak inget dulu lo maksa ngajakin si Al ngegym. Padahal dia di suruh jagain anaknya.” Kata Reza mengingatkan. “Oh ... Yang waktu itu.” Balas Brahms. Ia mengingatnya. Aldric bilang sepulangnya ngegym, Sena marah besar karna Aldric yang meninggalkan anaknya. Padahal Aldric sudah berjanji akan menjaga mereka selama Sena tertidur. “Yah kan emang anak harus ibunya yang ngurusin bukan bapaknya.” Kata Bramhs kini yang meminum jusnya. “Kalo gitu harusnya nyokap lo ngurusin lo, Bukan sibuk kerja.” Saut Melvin. Spontan Aldric menyikut Melvin menyuruhnya diam. Brahms menatap Melvin jengkel. Sedangkan Melvin tak merasa bersalah. Karna menurutnya, pemikiran Brahms itu aneh. Pemikirannya nggak open minded sepertinya. Menurut Brahms perempuan itu harus di rumah ngurus anak. Sedangkan menurut Melvin perempuan juga bisa melakukan hal yang ia inginkan nggak harus di rumah ngurus anak saja. “Sorry...” Kata Melvin. “Its oke.” Jawab Brahms. Tak lama Brahms bangkit lalu berpamitan pergi. Ia ada janji temu dengan Dosen. “Lo sih Vin ... Lo kan tau, dia mikir kek gitu karna ga dapet perhatian ibunya!” Omel Reza. “Ya abisnya pemikirannya kolot banget.” Jawab Melvin. “Emang ini zaman apaan?? Udah reformasi, sia-sia dong ibu Kartini memperjuangkan emansipasi perempuan kalo masih ada yang berpikiran gitu!” Jawab Melvin tak mau kalah. “Itu karna lo nggak ngerasain jadi dia. Meskipun dapet apapun yang dia mau. Tapi dia cuma bisa ketemu nyokap sama bokapnya setahun sekali.” Kata Lois yang kini membela Brahms. “Karna itu dia mikir seorang ibu yang wajib ngurus anaknya. Karna dia nggak mau ada orang yang ngalamin hal yang sama seperti dia.” balas Aldric. “Kalau gitu dia nggak seharusnya ngajakin lo ngegym dong. Harusnya dia biarin lo di rumah bantuin Sena ngurus anak.” balas Melvin tak mau kalah. “Gue bantuin kok. Yah. ... Cuma waktu itu, gue lagi khilaf aja.” Kata Aldric ngeles. “Lo kok sensi bat sih sama si Brahms? Why?” Tanya Lois. “Gara-gara Gea.” Jawab Reza. “Kenapa emangnya?” “Brahms deketin Gea.” Jawab Reza lagi. “Gila. .. Sejak kapan si Brahms ngelirik Gea?” “Di Cafe. Kan dia langganan.” Jawab Reza lagi. “Masa sih,” Tanya Aldric tak percaya. “Gue kenal banget lo sama Brahms. Nggak mungkin Brahms deketin Gea. Ngaco lo!!” Tambah Aldric. “Dia pasti becanda aja, kek lo Za. Udah Vin ... Nggak usah khawatir. Harusnya lo khawatir ke Ryan tuh. Anaknya Ryan kan suka sama Gea.” Ucap Aldric sembari menepuk bahu Melvin. “Ngapain gue khawatir ke Ryan. Ryan kan nggak suka Gea. Dia sukanya sama Sena istri lo. Anaknya Ryan juga suka tuh sama istri lo sampe manggil mama segala. Harusnya lo tuh yang khawatir!!” Balas Melvin. “Biarin aja ... Sena setia kok. Nggak mungkin dia berpaling dari gue. Apalagi sekarang udah punya anak.” Jawab Aldric tersenyum menang. “Jan salah Al, lo nggak tau pesona Duda ya.” Goda Lois. “Pesona gue lebih kemana-mana.” Balasnya narsis. Disisi lain, Sena sedang berjalan bersama dengan Gea dan Caca. Yah ... Mereka janjian untuk mengajukan judul skripsi di kaprodi bersama. Pertama adalah giliran Caca, Sena, dan Gea. Ketika Sena masuk dan menjelaskan tentang Tema dan judul yang akan ia pergunakan ia sangat bersyukur karna judulnya langsung di setujui. Keluar dari ruangan itu senyumannya merekah. “Doain gue ya ..” Kata Gea yang kemudian masuk kedalam. Setelah menunggu sekitar 10 menit temannya itu kembali dengan wajah yang merekah. “Sumpah ... Ga adil bat ... Kok cuma gue sih yang belum diAcc.” Keluh Caca. “Ya ... Harusnya lo siapin 3 ato 4 judul gitu Ca, kalo judul satunya nggak di acc ya pake judul satunya.” Kata Gea. “Uh ... Udah ah ... Pusing!” Kata Caca. “Btw, Mau nonton nggak? Buat ngehibur gue pliss ....” mohonnya. “Gue sih mau Ca. Tapi, lo kan tau ... Gue sekarang udah punya anak. Mereka baru 4 bulan. Gue nggak bisa ninggalin mereka lama-lama.” Terang Sena. Setelah itu, Caca dan Gea langsung pegi bersama nonton sedangkan Sena memesan grab dan pulang. Kenapa ia tidak pulang bersama Aldric? Aldric tadi pagi nebeng Reza. Alhasil Sena pun naik ojek online. Reza memaksanya untuk berangkat bersama tapi Sena menolaknya karena malu. Sampai di apartemennya ia melihat Aldric yang duduk memangku Elios dan Elias yang berada di sampingnya. Aldric memainkan kerincingan dengan tangan kirinya. Elias mengangkat kedua tangannya berusaha meraihnya. Sedangkan Elios menghisap ibu jarinya lalu menyentuh tangan Aldric meminta kerincingannya. Sena tersenyum melihatnya. Rasanya sangat damai melihat pemandangan seperti ini. Ia senang sekali Aldric mau bermain dan menanggapi anak mereka. “Loh.. Mama udah pulang ...” Kata Aldric yang kini meletakan kerincingannya di perut Elias. Elias yang tidur menyentuhnya dan berusaha memainkannya. Elios seolah tak terima ia mencodongkan badannya hendak terjun tapi Aldric memegangi perutnya erat. menahannya. Elios berontak ia ingin mengambil kerincingan itu. “Hei ... Lihat. Mama pulang.” Kata Aldric ke Elios. Ia menegakan Elios lalu memalingkan pelan wajah Elios menyuruhnya melihat Sena. “Aa ... Aa ..” Kata Elios yang masih mengeliat meminta dilepaskan karna ingin mengambil mainan yang di pegang adiknya. “Sayang ... Elios mau kerincingannya.” Tegur Sena yang melihat putra sulungnya berusaha mengambil mainan yang sedang di pegang adiknya. “Oh..” Kata Aldric. Aldric merebut mainan yang dibawa Elias dengan mudah lalu memberikannya kepada Elios. Ia membantu Elios memegangnya dan memainkannya. Tangis Elias pecah seketika. Sontak Aldric melihatnya kaget. Lah ... Kenapa nangis?? Sena menggelengkn kepalanya. Ia mendekati Elias lalu menggendongnya. “Hust.. Cup..cup..” “Kok nangis sih.” bingung Aldric. “Mainannya kamu ambil Al.” Jawab Sena. “Hah..” “Cup.. Jangan nangis. Kita ambil mainan adek sendiri.” Kata Sena yang berjalan ke kamarnya. Ia mengambil mainan serupa milik Elias lalu membantu Elias memegangnya dengan erat lalu memainkannya. Cring... Cring...Cring.... Sena duduk di samping Aldric dengan Elias di pangkuannya. Aldric mengusap rambut Elias.”Maaf ya El. Papa spontan tadi.” Kata Aldric yang tentu saja tidak di pedulikan. Detik berikutnya Aldric mencium pipi Sena secara tiba-tiba. Sena menoleh memperhatikannya. “Sayang, Aku boleh keluar nggak nanti?” Tanya Aldric dengan tersenyum semanis mungkin. Sepertinya Sena tau, sikap Aldric yang tiba-tiba berubah baik itu. Pantas saja ia merasa aneh ketika Aldric menjaga kedua putranya sekaligus. Dan benar saja tebakannya ketika Aldric meminta izin padanya untuk poergi keluar main basket. “Pasti si Brahms itu kan yang ngajakin .... Uh ... Sebel banget aku sama orang itu!!” “Sayang, jangan gitu.” Kata Aldric. Elias mengeliat, tangannya menyentuh d**a Sena. Sena menunduk melihat putranya. Ia lalu membuka kancing kemejanya dan menyusui Elias. Elias memegang mainannya sembari menyusu. “Aku nggak belain dia. Kan emang waktu itu aku yang salah. Sebenarnya dia itu kasian tau!” “Kasian?? Apanya yang bikin kasian?? Udah kerjaannya foya-foya, sering bikin-” Cup... Ucapan Sena terhenti karena Aldric mencium bibirnya tiba-tiba. Sena megerti maksud Aldric. Ia ingin di dengarkan. “Brahms itu, orangnya agak caper emang. Yah ... Capernya sih sering maksa ngajakin main bareng. Itu karna orangnya kesepian. Temen-temennya yang lain, bukan maksudnya aku ngejelekin orang ya ... Mereka pada suka morotin Brahms.. Kamu kan tau dia anaknya b**o banget. Untung aja ada aku, Reza, Melvin sama Lois. Mangkanya Brahms suka main sama kita.” Terang Aldric. Kini gantian Elios yang berulah, anaknya itu merengek mengganggu pembicaraan Aldric dan Sena. Sena menatap putra sulungnya. Sepertinya putranya itu lapar. Aldrick menyuruh mbak Nila untuk mengambilan s**u Elios. Tak lama Asisten rumah tangannya datang dengan membawa s**u milik Elios. Aldric langsung memberikannya ke Elios. Barulah Elios tenang. Aldric melanjutkan bicaranya. “Brahms jarang ketemu sama orang tuanya. Bukan jarang lagi, dia hampir nggak pernah ketemu. Kenapa? Mama papanya sibuk kerja. Bahkan mereka hanya ketemu itu setahun sekali atau duakali karna emang sibuk banget orangtuanya.”Jelasnya. “Harusnya kamu ngerti rasanya.” Sena mengerti hal itu. Brahms pasti sangat kesepian. Tapi tetap saja Sena tak suka meskipun hatinya sedikit terenyuh. “Yaudah iya... Tapi jam 6 udah harus di rumah.” Aldric tersenyum, ia lalu mencium pipi Sena. “Makasih sayang.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN