BAB 18
Rahasia yang Terkubur Bertahun-Tahun
Ruangan perpustakaan tua itu terasa semakin sunyi.
Debu tipis melayang di udara, terlihat jelas di bawah cahaya matahari yang masuk dari jendela tinggi.
Alya masih berdiri di depan Dimas.
Kalimat terakhir yang ia dengar terus berputar di kepalanya.
“Orang itu berdiri tepat di belakangmu.”
Alya mencoba mengingat.
Namun seperti yang selalu terjadi, pikirannya kembali menemukan ruang kosong.
Gelap.
Seolah sebagian dari malam itu benar-benar terkunci di dalam dirinya.
“Kenapa kamu tidak pernah mengatakan ini sebelumnya?” tanya Alya akhirnya.
Dimas tidak langsung menjawab.
Ia berjalan perlahan menuju jendela perpustakaan.
“Apa kamu benar-benar ingin tahu alasannya?” katanya pelan.
Alya menatapnya.
“Iya.”
Dimas menghela napas panjang.
“Karena tidak ada yang akan percaya.”
Jawaban itu terdengar pahit.
“Kenapa tidak?”
Dimas menoleh sedikit.
“Karena semua orang sudah memutuskan apa yang mereka percayai.”
Ia menunjuk ke arah danau yang terlihat samar di kejauhan.
“Mereka percaya Raka jatuh ke danau.”
“Dan?”
“Mereka percaya itu kecelakaan.”
Alya menggenggam kertas dari amplop itu.
“Dan kamu tidak?”
Dimas menatapnya lama.
“Tidak pernah.”
Keheningan jatuh di antara mereka.
Alya menelan ludah.
“Kalau kamu tidak percaya itu kecelakaan…”
Ia berhenti sejenak.
“…lalu apa yang sebenarnya kamu pikir terjadi?”
Dimas tidak langsung menjawab.
Namun akhirnya ia berkata,
“Raka didorong.”
Dunia Alya terasa berhenti.
“Apa?”
Dimas mengangguk pelan.
“Aku tidak melihat dengan jelas.”
“Lalu kenapa kamu yakin?”
Dimas memandang lantai sebentar.
Kemudian ia berkata,
“Karena aku mendengar sesuatu sebelum dia jatuh.”
“Apa?”
Dimas menatapnya.
“Suara seseorang berkata ‘cukup’.”
Alya merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
“Siapa yang mengatakan itu?”
Dimas menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Namun aku tahu satu hal.”
“Apa?”
Dimas menatap langsung ke mata Alya.
“Orang itu tidak datang ke danau secara kebetulan.”
Angin bergerak di luar jendela.
Alya merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya.
Jika seseorang benar-benar mendorong Raka—
Maka malam itu bukan sekadar kecelakaan.
Itu adalah sesuatu yang jauh lebih serius.
Namun masih ada sesuatu yang tidak masuk akal.
“Kalau kamu melihat semua itu…” kata Alya pelan.
“…kenapa kamu tidak pernah mengatakan apa pun kepada polisi?”
Dimas terdiam.
Ekspresinya berubah sedikit.
Seolah pertanyaan itu adalah sesuatu yang sudah lama ia hindari.
“Karena ketika aku kembali ke tempat itu…” katanya akhirnya.
“…semuanya sudah berubah.”
“Apa maksudmu?”
Dimas menatap Alya.
“Kamu sudah tidak sadar.”
Alya membeku.
“Dan orang itu sudah menghilang.”
Ruangan kembali sunyi.
Alya merasakan sesuatu yang berat di dadanya.
Jika Dimas benar—
Maka seseorang benar-benar datang ke danau malam itu.
Seseorang yang mungkin bertanggung jawab atas semua yang terjadi.
Namun satu pertanyaan lain muncul di kepala Alya.
“Dimas.”
“Apa?”
“Kenapa kamu baru mengatakan semua ini sekarang?”
Dimas tersenyum kecil.
Namun senyum itu terlihat lelah.
“Karena kamu baru mulai mencarinya.”
“Dan sebelumnya?”
Dimas mengangkat bahu.
“Kamu tidak pernah ingin membicarakan malam itu.”
Itu benar.
Selama tujuh tahun Alya selalu menghindari semua pembicaraan tentang kejadian itu.
Ia terlalu sibuk menyalahkan dirinya sendiri.
Terlalu takut untuk mengetahui kemungkinan lain.
Namun sekarang semuanya terasa berbeda.
Alya menatap kertas dari amplop itu lagi.
Tulisan tangan Raka terlihat jelas.
Ia melanjutkan membaca bagian yang belum ia baca sebelumnya.
Jika sesuatu terjadi padaku, kamu harus tahu bahwa semuanya tidak sesederhana yang terlihat.
Ada seseorang yang sudah lama menyimpan kebencian.
Seseorang yang sangat dekat dengan kita.
Alya berhenti membaca.
Ia mengangkat pandangan ke arah Dimas.
“Raka mengatakan orang itu dekat dengan kita.”
Dimas mengangguk pelan.
“Aku tahu.”
Alya merasakan sesuatu bergetar di dalam pikirannya.
Jika orang itu dekat dengan mereka—
Maka kemungkinan orang itu adalah seseorang yang mereka kenal.
Seseorang yang mungkin sering mereka temui.
Seseorang yang mungkin bahkan masih berada di kota ini.
“Apakah kamu punya dugaan siapa orang itu?” tanya Alya.
Dimas tidak langsung menjawab.
Namun dari ekspresinya, Alya tahu ia sedang memikirkan sesuatu.
Akhirnya ia berkata pelan,
“Ada satu orang yang selalu aku pikirkan.”
Jantung Alya berdetak lebih cepat.
“Siapa?”
Dimas tidak langsung menjawab.
Ia menatap Alya dengan ekspresi yang sangat serius.
“Aku tidak yakin.”
“Coba katakan saja.”
Dimas menarik napas panjang.
Kemudian ia berkata,
“Arga.”
Nama itu jatuh seperti petir di tengah ruangan.
Alya membeku.
“Arga?”
Dimas mengangguk.
“Iya.”
Alya menggeleng cepat.
“Itu tidak mungkin.”
“Kenapa?”
“Karena dia yang memberitahuku semua ini.”
Dimas tidak terlihat terkejut.
Sebaliknya, ekspresinya justru semakin serius.
“Itulah yang membuatnya semakin mencurigakan.”
Alya merasakan dingin merambat di punggungnya.
“Kenapa kamu berpikir begitu?”
Dimas berkata pelan,
“Karena orang yang paling cepat membantu kita menemukan kebenaran…”
Ia berhenti sejenak.
“…kadang adalah orang yang paling ingin mengendalikan cerita itu.”
Ruangan kembali sunyi.
Dan untuk pertama kalinya sejak Alya bertemu Arga—
Sebuah kemungkinan baru muncul di kepalanya.
Bagaimana jika orang yang selama ini membantunya mencari kebenaran…
Sebenarnya adalah orang yang paling ingin menyembunyikannya?