BAB 22 Orang yang Ia Percaya Nama itu masih terasa berat di kepala Alya. Pak Arman. Guru yang selama ini ia hormati. Orang yang dulu sering mengatakan kepada mereka bahwa masa depan tidak pernah ditentukan oleh masa lalu. Orang yang datang ke rumahnya setelah kejadian itu. Orang yang menepuk bahunya dan berkata, “Ini bukan salahmu.” Alya menatap Arga dan Dimas bergantian. “Itu tidak mungkin,” katanya pelan. Namun suaranya sendiri terdengar tidak meyakinkan. Dimas menghela napas panjang. “Aku juga berharap begitu.” Alya menggenggam kertas dari amplop itu lebih erat. “Kenapa dia ada di danau malam itu?” Arga menjawab pelan, “Itulah yang Raka juga coba cari tahu.” Alya menatapnya. “Maksudmu?” Arga berjalan beberapa langkah mendekati meja tua di tengah ruangan. “Raka sudah

