BAB 10
Pertanyaan yang Terlalu Lama Dipendam
Alya hampir tidak bisa berhenti menatap foto itu.
Lampu meja membuat bayangan panjang di atas permukaan meja kayu tua. Di tengah cahaya kuning yang redup itu, foto lama di tangannya terlihat seperti potongan masa lalu yang menolak untuk diam.
Tiga orang di depan kamera.
Dan satu orang lagi di belakang mereka.
Seseorang yang sebelumnya tidak pernah ia ingat.
Alya memiringkan foto itu sedikit, mencoba melihat wajah orang tersebut lebih jelas.
Namun bayangan pohon membuat sebagian wajahnya tertutup.
Yang terlihat hanya siluet samar.
Tubuh tinggi.
Bahu sedikit membungkuk.
Dan tatapan yang terasa langsung mengarah ke kamera.
Alya menelan ludah.
“Kenapa aku tidak ingat dia?” gumamnya pelan.
Jika orang itu benar-benar ada di sana hari itu, ia seharusnya mengingatnya.
Namun pikirannya terasa kosong.
Seolah bagian dari kenangan itu telah hilang.
Atau mungkin—
Dihilangkan.
Alya meletakkan foto itu di atas meja.
Ia menutup mata sejenak, mencoba memaksa dirinya mengingat hari ketika foto itu diambil.
Dan perlahan, kenangan itu mulai muncul.
Hari itu adalah hari terakhir mereka pergi ke danau bersama.
Langit cerah.
Udara hangat.
Hari yang terlihat seperti hari biasa.
Raka yang membawa kamera tua milik ayahnya.
“Kita harus punya foto yang bagus sebelum lulus,” katanya waktu itu.
Alya masih ingat bagaimana Raka terus mengatur posisi kamera di atas batu besar.
Dimas berdiri di samping mereka sambil tertawa.
“Kamu terlalu serius untuk foto biasa.”
Raka mengangkat bahu.
“Kenangan harus dibuat dengan benar.”
Setelah beberapa percobaan, akhirnya mereka berhasil mengambil satu foto.
Foto yang sekarang berada di tangan Alya.
Namun anehnya—
Alya tidak ingat siapa orang yang berdiri di belakang mereka.
Kenangan itu terasa seperti potongan film yang tiba-tiba terputus.
Alya membuka mata.
Dadanya terasa sedikit sesak.
Ia mengambil foto itu lagi.
Jika tulisan di belakang foto itu benar—
Raka sendiri menyadari kehadiran orang tersebut.
Ada seseorang yang tidak seharusnya berada di sini.
Kalimat itu bukan sekadar catatan.
Itu terdengar seperti peringatan.
Alya berdiri dari kursinya.
Ia berjalan menuju pintu kamar.
Tangga kayu kembali berderit pelan ketika ia turun.
Ibunya masih berada di ruang tamu.
Wanita itu sedang merajut sesuatu di sofa.
“Ibu.”
Ibunya menoleh.
“Kamu belum tidur?”
Alya berjalan mendekat.
“Aku ingin menunjukkan sesuatu.”
Ia menyerahkan foto itu.
Ibunya mengambilnya dengan hati-hati.
Beberapa detik ia hanya memandang foto itu tanpa berbicara.
Lalu ekspresinya berubah.
Sedikit.
Hanya sedikit.
Namun Alya melihatnya.
“Ibu mengenali orang ini?” tanya Alya pelan.
Ibunya tidak langsung menjawab.
Ia hanya terus menatap foto itu.
“Alya…”
“Siapa dia?”
Ibunya menghela napas panjang.
“Aku tidak yakin.”
“Ibu yakin?”
Ibunya memandang Alya.
“Apa maksudmu?”
“Tadi Ibu terlihat seperti mengenalnya.”
Ibunya terdiam beberapa detik.
Lalu ia berkata pelan,
“Aku hanya merasa pernah melihatnya.”
Jantung Alya berdetak lebih cepat.
“Di mana?”
Ibunya menggeleng.
“Aku tidak ingat.”
Jawaban itu terasa terlalu cepat.
Terlalu hati-hati.
Alya mengambil kembali foto itu.
“Ibu tahu sesuatu tentang malam itu, kan?”
Ibunya menatapnya lama.
“Kenapa kamu berpikir begitu?”
Alya menunjuk foto itu.
“Karena ada seseorang di sini yang tidak pernah aku ingat.”
Ibunya tidak menjawab.
Keheningan jatuh di antara mereka.
Jam dinding berdetak perlahan.
Alya merasakan sesuatu yang aneh.
Perasaan bahwa ibunya sedang menimbang sesuatu di pikirannya.
Akhirnya wanita itu berkata pelan,
“Alya.”
“Ya?”
“Mungkin ada hal-hal yang tidak kamu ingat tentang malam itu.”
Alya menatapnya.
“Aku tahu.”
Ibunya melanjutkan,
“Dan mungkin ada alasan kenapa kamu tidak mengingatnya.”
Kalimat itu membuat Alya membeku.
“Apa maksud Ibu?”
Ibunya tampak ragu.
Namun akhirnya ia berkata,
“Malam setelah kejadian itu… kamu tidak ingat apa yang terjadi, kan?”
Alya mengerutkan kening.
“Apa maksudnya?”
Ibunya menatapnya dalam-dalam.
“Kamu ditemukan di tepi danau.”
Alya merasakan dingin merambat di tubuhnya.
“Apa?”
Ibunya melanjutkan dengan suara pelan.
“Kamu tidak sadar.”
Dunia Alya terasa berputar.
“Aku tidak pernah tahu itu.”
Ibunya mengangguk pelan.
“Kamu pingsan ketika mereka menemukanmu.”
“Siapa yang menemukan aku?”
Ibunya menjawab setelah beberapa detik,
“Polisi.”
Alya merasakan napasnya menjadi lebih berat.
“Kenapa aku tidak pernah tahu ini?”
Ibunya menunduk.
“Karena dokter mengatakan sesuatu.”
“Apa?”
Ibunya berkata pelan,
“Kamu mengalami trauma yang cukup berat.”
Alya mencoba memahami kata-kata itu.
“Jadi… sebagian ingatanku hilang?”
Ibunya mengangguk.
“Ada beberapa jam dari malam itu yang tidak pernah kamu ingat lagi.”
Ruangan terasa semakin sunyi.
Alya menatap foto di tangannya.
Jika memang ada bagian dari malam itu yang hilang dari ingatannya—
Maka kemungkinan apa pun bisa terjadi di dalam waktu yang hilang itu.
Dan mungkin…
Kebenaran tentang Raka berada di sana.
Di dalam ingatan yang tidak bisa ia akses.
Namun satu pertanyaan lain muncul di pikirannya.
Jika benar ada seseorang lagi di danau malam itu—
Kenapa orang itu tidak pernah muncul setelah kejadian itu?
Dan yang lebih mengerikan—
Bagaimana jika orang itu sebenarnya tidak pernah pergi?
Dan sekarang…
Sedang menunggu Alya mengingat semuanya.