= MINTA IZIN =

1450 Kata
Tengah malam Kiara terbangun karena lapar sebab tadi pada saat makan nasi padang dia tidak menghabiskannya gara – gara kesal dengan ibunya Fahrial, alhasil dia jadi kelaparan di jam segini.   Kiara beranjak turun dari kasur, ia ingin pergi ke lantai bawah. Supaya tidak iseng, Kiara membawa ponselnya berjalan menuju dapur sambil membuka pesan grup. Dia scroll chat ternyata teman – temannya seperti biasa pada kumpul di Club malam.   “ Gue mau ke club, tapi ada ibunya Fahrial. “ Gumam Kiara kesal sendiri, ia berjalan menuruni anak tangga dengan langkah lemas karena merasa tidak bebas ada kehadiran ibunya Fahrial.   Sampainya di dapur, Kiara merebus indomie saja karena hanya itu yang bisa dia lakukan, setelah matang Kiara makan di dapur sendirian sambil mengetik pesan untuk Beckham.   Seperti biasa, Beckham selalu saja memilih untuk menelepon setiap kali Kiara mengirim pesan.   “ Aduh, dia kenapa telepon, sih. “  Kiara pun terpaksa mengangkatnya karena tak tega jika menolak.   ‘ Hallo, Kia? Kamu dimana? ‘   “ Aku di rumah, kenapa emang? “   ‘ Mau ke club gak? ‘   “ Gak bisa, Beckham. “   ‘ Tumben akhir – akhir ini kamu ga ke club. Ada apa? ‘   “ Tidak ada apa – apa, aku sedang sibuk saja. “ Bohong Kiara.   ‘ Aku kangen kamu tau. ‘ Balas Beckham membuat pipi Kiara merah merona. ‘ Kamu kangen aku gak? ‘   Kiara mengulum senyumnya. “ I—iya, sih. Aku juga kangen. “ Balas Kiara karena memang dia juga merasakan hal yang sama.   ‘ Besok hari ulang tahunku. ‘   “ Oh ya? “   ‘ Iya, aku harap kamu bisa datang ke acara pesta kecil – kecilan di Apartemenku. ‘   Kiara diam sebentar sebab dia tidak bisa langsung setuju begitu saja meskipun dia mau karena lagi – lagi alasannya adalah adanya kehadiran ibunya Fahrial di rumah.   ‘ Ayolah, Kiara. Masa kamu gak mau datang, sih. ‘   “ Um, aku—“   ‘ Nanti aku kirimin alamat Apartemenku ya. Besok kamu harus datang jam sembilan malam. ‘   “ Yaudah nanti aku usahain ya. “ Jawab Kiara yang tak bisa menolak.   ‘ Harus, dong. Kamu tamu yang paling aku nantikan. ‘ Jawab Beckham semakin membuat Kiara tidak enak hati jika tak datang.   “ Hm, iya – iya. “   ‘ Yaudah aku mau pergi ke club dulu ya, cantik. Selamat malam. ‘   “ Malam. “   TUT…TUT….TUT…   Kiara meletakkan ponselnya di atas meja dan melanjutkan aktivitas makan indomienya yang sudah mulai dingin, ia melahap sambil berfikir apa yang harus dia lakukan agar bisa datang ke acara Beckham karena dia tidak mau melewatkan acara penting lelaki itu.   “ Besok gue harus cari cara supaya bisa keluar. “ Gumam Kiara yang tidak bisa menahan diri untuk tidak datang, apalagi dia mengakui bahwa adanya perasaan rindu ingin bertemu Beckham.   Kiara tak perduli salah atau tidak dengan apa yang dia rasakan kepada Beckham di saat dirinya sudah punya suami karena perasaan yang tumbuh pada hatinya saat ini sulit sekali dia hilangkan dan semua itu hadir begitu saja.   Selesai makan, Kiara pergi kembali ke lantai atas menuju kamar.   **   Fahrial baru saja bangun dari tidurnya, ia lihat di sebelahnya sudah tidak ada Kiara. Matanya bergerak mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, sampai akhirnya dia menemukan Kiara sedang menyiapkan pakaian kerja untuk dirinya.   “ Tumben. “ Celetuk Fahrial seketika membuat Kiara menoleh ke arah sumber suara.   “ Sudah bangun. “ Sahut Kiara. “ Mandi sana. “   Fahrial tersenyum tipis, ia turun dari kasur lalu berjalan mendekati Kiara.   “ Ini aku mimpi atau enggak? Tumben banget kamu siapin pakaian kerja untuk aku. “ Tutur Fahrial terheran – heran memandang Kiara.   “ Di perhatiin salah, gak di perhatikan lebih salah. “ Balas Kiara membalikkan badannya menghadap Fahrial. “ Susah ya mau jadi orang baik. “   Fahrial terkekeh. “ Ya, aku sih, senang kamu tiba – tiba perhatian. Tapi, sepertinya kamu mendadak perduli begini pasti karena lagi ada maunya, deh. “ Ledek Fahrial. “ Atau jangan – jangan kamu seperti ini karena lagi ada ibuku? “   Kiara menghela nafasnya. “ Sudah sana mandi. “ Tangannya mendorong pelan pundak Fahrial menyuruh lelaki itu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.   “ Iya – iya. Mau ikut gak? “ tanya Fahrial.   “ Ikut kemana? “ Kiara bertanya balik.   “ Ikut mandi. “ Jawab Fahrial membuat Kiara melongo. “ Mandi bareng kita berdua. “ Lanjutnya seketika membuat Kiara naik pitam.   “ Fah…rial! “ geramnya, dengan cepat Fahrial berlari masuk ke dalam kamar mandi sebelum dia di telan hidup – hidup oleh Kiara.   “ Dasar siinting! “ cibir Kiara.   Selesai Fahrial mandi dan berpakaian, lelaki itu mendekati Kiara yang sedang duduk di sofa. Fahrial lihat di atas meja sudah ada sereal, roti selai dan segelas air putih.   “ Tuh, di makan. “ Kiara menunjuk ke arah makanan di atas meja.   “ Ck….Ck…Ck…” Fahrial berdecak sambil geleng – geleng kepala, ia duduk di sebelah Kiara. “ Baik sekali istriku menyiapkan sarapan untuk suaminya yang mau berangkat kerja. “ Puji Fahrial.   “ Sudah jangan berlebihan. “ Balas Kiara yang sibuk pada ponselnya seperti sedang mengirim pesan kepada seseorang.   Fahrial mulai menyantap sarapan yang Kiara buatkan.   “ Ibu sudah bangun? “ tanya Fahrial.   “ Sejak tadi aku belum lihat ibu keluar dari kamar. “ Jawab Kiara.   “ Oke. “ Sambil makan, Fahrial jadi berfikir apa yang sebenarnya Kiara inginkan. “ Kiara? “   “ Iya? “   “ Jujur saja, kamu mau apa dariku? “ tanya Fahrial yang mengerti akan maksud kebaikan dan perhatian yang Kiara tunjukkan bukan semata – mata hanya secara percuma gadis itu lakukan melainkan karena ada maksud dan tujuan di dalamnya.   “ Tidak ada. “ Bohong Kiara.   “ Katakan saja, aku tidak akan marah. “ Ucap Fahrial.   Kiara meletakann ponselnya, ia mengalihkan pandangannya ke arah Fahrial. “ Beneran? “   “ Iya, benar. “ Fahrial mengangguk.   “ Nanti malam temanku ulang tahun dan dia akan mengadakan pesta. Boleh ya aku datang kesana? “ tanya Kiara meminta izin karena dia ingin pergi dan pulang dengan tenang.   “ Teman kamu yang mana dan siapa namanya? “   “ Si… Si Ody. “ Bohong Kiara yang lagi – lagi menjadikan Ody sebagai alasannya agar Fahrial tidan menaruh rasa curiga.   “ Ody? “ Fahrial memperhatikan mimik wajah Kiara yang agak salah tingkah ketika dia tatap serius.   “ I—iya, si Ody. “ Jawab Kiara kaku.   “ Acaranya di mulai jam berapa? “ tanya Fahrial.   “ Jam sembilan malam. Kamu tenang aja aku tidak akan pulang pagi, mungkin sekitar jam dua belas sudah pulang. “ Tutur Kiara mencoba untuk mengambil hati agar Fahrial mengizinkannya.   “ Yaudah. “ Fahrial mengangguk setuju membuat Kiara senang karena merasa begitu mudah meluluhkan hati suaminya itu.   “ Yes!! “ Kiara mengayunkan tangannya.   “ Tapi, aku ikut. “ Lanjut Fahrial memudarkan senyuman Kiara dan kini gadis itu berubah jadi panik sendiri.   “ Loh, jangan, dong. “ Kiara mendengus kesal.   “ Kenapa? aku tidak akan membuat masalah. “ Balas Fahrial.   “ Kalau kamu ikut, lebih baik aku tidak usah datang saja. “ Kiara mengerucutkan bibirnya seraya menyandarkan tubuhnya kasar pada penyangga sofa.   Fahrial merasa tidak tega melihat Kiara seperti itu, ia ingin sekali melarang tetapi melihat apa yang sudah Kiara lakukan untuknya pagi ini dan juga setidaknya Kiara sudah berusaha jujur kepadanya dengan meminta izin membuat lelaki itu jadi mencoba untuk berusaha menurunkan egonya.   “ Oke, aku gak akan ikut, tapi…”   “ Tapi, apa lagi? “ Kiara memutar kedua bola matanya malas.   “ Ada beberapa syarat. “ Fahrial menyudahi kegiatan sarapannya, ia duduk berhadapan dengan Kiara.   “ Hm, apa syaratnya? “   “ Pertama, berikan aku nomor Ody dan salah satu temanmu lainnya yang juga ikut ke acara itu. Kedua, kamu tidak boleh pulang lebih dari jam dua belas malam. Ketiga, Jangan mabuk. “ Pinta Fahrial panjang lebar membuat Kiara menggerutu kesal di dalam hatinya.   Kiara mencoba untuk menahan dirinya supaya tidak marah – marah karena selangkah lagi dia akan mendapat izin.   “ Oke. “ Kiara mengangguk setuju saja karena yang penting dia mendapatkan izin dulu, setelah itu terserah dia mau menuruti perintah Fahrial atau tidak.   “ Kirim nomor temanmu. “ Kata Fahrial.   “ Iya – iya. “ Kiara mengambil ponselnya dan memilih kontak teman yang ingin dia kirim kepada Fahrial. Tentu saja Kiara cukup bingung, tapi pada akhirnya dia memutuskan untuk mengirim kontak Ody dan Prita yang merupakan teman dekatnya.   Setidaknya Ody dan Prita bisa Kiara andalkan dan tinggal Kiara konfirmasi saja kepada mereka berdua supaya kalau Fahrial bertanya sesuatu, mereka berdua bisa mencari alasan untuk membantu Kiara supaya Fahrial tidak curiga kalau dia datang ke acara ulang tahun Beckham yaitu laki – laki yang sedang dekat dengan Kiara.   “ Sudah aku kirim ya. “ Ucap Kiara.   “ Oke. “   Kiara tersenyum senang karena sudah mendapatkan izin, ia akan mencari pakaian yang bagus untuk datang ke acara Birthday Party Beckham.   “ Aku harus cantik malam ini! “ serunya dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN